Satu Islam Untuk Semua

Monday, 16 May 2016

Cegah Tragedi Haji, Riyadh Siapkan Pusat Pantau Keamanan Tercanggih di Timur Tengah


141008154935-hajj-saudi-security-contorl-room-horizontal-gallery

Jelang musim haji September 2016, Arab Saudi berencana meluncurkan pusat pantau keamanan anyar dan dilaporkan akan menjadi terbesar dan paling modern se-Timur Tengah. Media lokal melaporkan, Ahad (17/5), Pusat Operator Keamanan Nasional nantinya dapat mengakses hingga 18.000 kamera pengawas keamanan (CCTV) dan terhubung ke smart-aplikasi yang digenggam oleh 1.600 staff terlatih.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi kapan persisnya pusat pantau keamanan itu beroperasi. Namun koran setempat, sebagaimana dikutip Middleeasteye.net, mengatakan bahwa rute pengawasan keamanan telah dipersiapkan dengan lokasi terbaru. Otoritas setempat juga akan membuat secara bertahap panggilan cepat untuk masalah keamanan dengan nomor ‘911’.   Siapa pun yang menelpon akan diteruskan kepada pusat keamaan yang terbaru dengan ‘hitungan detik’.

Semua staf yang bekerja di pusat keamanan ini dapat berbahasa Inggris dengan lancar dan, masih menurut koran setempat, akan ditambah staff terlatih dari luar negeri yang belum diungkap dari mana saja asal mereka. Di kantor pusat keamanan ini, juga akan dipasang dua ‘layar raksasa’ yang menampilkan gambar dari 18.000 CCTV. Dua layar ini juga yang menjadi alasan mengapa teknologi keamanan ini disebut sebagai terbesar se-Timur Tengah.

Seperti diberitakan sebelumnya, pihak Riyadh dihujani kritik negara-negara Muslim atas dua tragedi dalam satu musim haji tahun lalu yang menelan korban dua ribu lebih, termasuk diantaranya 125 jamaah dari Indonesia.

Sejumlah tokoh agama dan ulama dari berbagai negara menuntut Riyadh, sebagai pelaksana tunggal ritual terbesar umat Islam ini, untuk mau duduk bersama dan menerima evaluasi dari negara-negara pengirim jamaah haji. Lepas tragedi Mina tahun lalu, organisasi Ahlusunnah terbesar di dunia – Nahdatul Ulama, – mengusulkan diselenggarakannya Muktamar haji internasional sebagai momentum pengejawantahan Komite Hijaz jilid-2.

“Ada dua alasan kuat membentuk Komite Hijaz jilid-2, Pertama, merespon kapitalisasi ibadah haji yang tercermin dalam pembangunan sekitaran area kakbah yang cenderung mereduksi nilai-nilai filosofis ke-tawadu-an ibadah haji. Dan kedua, mendiplomasikan untuk mencegah segala usaha dalam rangka penghancuran artefak sejarah yang ada di Mekkah dan Madinah. Dua hal di atas adalah dua hal utama di samping hal-hal lain semisal perbaikan tata kelola haji dan juga penataan sistem manajemen ibadah haji,” kata Ketua PBNU, KH. Aqil Siradj tahun lalu.

Adapun Tehran, yang musim haji lalu harus menerima kembalinya 464 jenazah korban tragedi Mina, dilaporkan tidak akan mengirim jamaah haji tahun ini. Menteri Kebudayaan Iran, Ali Jannati mengatakan bahwa hal ini karena Riyadh menolak bekerjasama mengatur ibadah tahunan ini khususnya soal jaminan keselamatan. Bahkan Iran harus melakukan perjalanan ke negara ketiga untuk mendapatkan visa.

“Kondisinya tidak siap untuk melakukan haji; kami telah kehilangan waktu; kami membuat upaya maksimal tapi sabotase tersebut datang dari Saudi, “kata Jannati, Kamis 12/5.

Pada musim-musim haji sebelumnya, pusat keamanan ini dikenal sebagai pusat komando dan pengawasan yang semata-mata mengurus pelayanan keamanan. Adapun pusat keamanan yang akan dipasang ini, semua keamanan terintegrasi dan terhubung dengan semua hal-hal yang terkait dalam satu pengawasan terpusat.  []

 

YS/ IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *