Satu Islam Untuk Semua

Friday, 10 March 2017

Angkat Kisah AR Fachruddin, Muhammadiyah Rilis Film ‘Meniti 20 Hari’


KH-AR-Fachruddin-web-1440x564_c

islamindonesia.id – Angkat Kisah AR Fachruddin, Muhammadiyah Rilis Film ‘Meniti 20 Hari’

 

Setelah masyarakat Indonesia menikmati ‘Sang Pencerah’ sejak 7 tahun lalu,  film dengan latar belakang tokoh sentral dalam sejarah Muhammadiyah kembali akan dirilis pada 18 Maret. Kali ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah era 60 hingga 80-an – Abdu Rozak Fachruddin – akan diangkat kisah masa mudanya.

“Film ini menceritakan mereka yang tergabung dalam kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah yang melakukan perjalanan menaiki sepeda dari Palembang ke Medan untuk menghadiri kongres ke-28,” kata Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PP Muhammadiyah Sukriyanto AR seperti dilansir Republika.co.id , (10/3).

Ia menerangkan, para pemuda yang menaiki sepeda harus berjalan hingga 20 hari lamanya untuk menghadiri kongres ke-28. Perjalanan tersebut dipimpin langsung oleh Abdul Razak Fachruddin (saat muda) yang juga merupakan ketua Umum PP Muhammadiyah.

Tak heran jika film ini diberi judul Meniti 20 Hari. Tentunya, bagi sang sutradara, film ini mengandung pendidikan karakter dan menampilkan anak-anak muda yang mempunyai mental baja serta karakter yang baik.

Jika tak ada hambatan, karya ini akan diluncurkan secara langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada 18 Maret 2017 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Sukriyanto menyampaikan, film Meniti 20 Hari yang disutradarai oleh Arimus Barianto mengandung banyak pesan moral. Pesan moral yang tertuang dalam film ini juga sesuai dengan janji dan undang-undang kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah.

“Yaitu dapat dipercaya, artinya mereka jujur, setia kawan dan saling membantu,” ujarnya.

Seperti diketahui, K. H Abdul Rozak Fachruddin akrab disapa dengan ‘Pak AR’. Ia lahir di Pakualaman Yogyakarta, 14 Februari 1915 dan wafat di Solo di usia 80 tahun. Dalam sejarahnya, Pak AR populer dikenal sebagai Ketua Umum Muhammadiyah yang menjabat dari 1968 sampai tahun 1990.

Ayahnya sendiri adalah seoarang tokoh agama bernama K.H. Fachruddin. Sementara ibunya adalah Maimunah binti K.H. Idris, Pakualaman. Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin bersekolah formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran.

Setelah ayahnya tidak lagi menjadi penghulu dan usaha dagang batiknya juga jatuh, maka ia pulang ke Bleberan. Pada tahun 1925, ia pindah ke Sekolah Dasar Muhammadiyah Kotagede dan setamat dari sana tahun 1928, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Setelah dua tahun belajar di Muallimin, ayahnya memanggil dia untuk pulang dan belajar kepada beberapa kiai. Pada tahun 1934, ia dikirim oleh Muhammadiyah untuk misi dakwah sebagai guru di sepuluh sekolah dan sebagai mubaligh di Talangbalai (sekarang Ogan Komering Ilir) selama sepuluh tahun.

Dan ketika Jepang datang, ia pindah ke Muara Meranjat, Palembang sampai tahun 1944. Selama tahun 1944, Fachruddin mengajar di sekolah Muhammadiyah, memimpin dan melatih Hizbul Wathan, dan barulah ia pulang ke kampung halaman.[]

 

YS/ islam indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *