Satu Islam Untuk Semua

Friday, 09 March 2018

Anggota Parlemen Inggris: Dalang Perang Yaman dan Jihadis di Suriah adalah Muhammad bin Salman


Emily

islamindonesia.id – Anggota Parlemen Inggris: Dalang Perang Yaman dan Teroris di Suriah adalah Muhammad bin Salman

Menteri Luar Negeri Bayangan Inggris (Shadow Foreign Secretary), Emily Thornberry, yang juga merangkap sebagai anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh, dalam sebuah rapat di parlemen Inggris (7/3/2018), mengkritik keras kebijakan pemerintah Inggris terhadap Arab Saudi.

Menlu Bayangan adalah salah satu posisi dalam sebuah kabinet bayangan yang dibentuk oleh partai oposisi di Inggris. Kabinet bayangan merupakan hal yang biasa di dalam dunia perpolitikan Inggris. Jika partai oposisi tersebut di dalam pemilihan selanjutnya menang, maka orang-orang yang sebelumnya berada di kabinet bayangan akan mendapat posisi yang sebenarnya di pemerintahan.

Misalkan Partai Buruh Inggris menang dalam pemilihan selanjutnya, maka yang akan menjadi Menlu di pemerintahan adalah Emily Thornberry, asalkan dia tetap berada di posisi tersebut sampai dengan pemilihan selanjutnya. Sama dengan kabinet permerintah terpilih yang sebenarnya, kabinet bayangan juga bisa saja mengganti mentri-mentri bayangannya jika dianggap tidak kapabel.

Dalam sebuah rapat di parlemen Inggris yang berlangsung sekitar delapan jam, pada salah satu sesinya Thornberry menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah Inggris yang dia anggap tidak memiliki keberanian terhadap putra mahkota Saudi, yakni Muhammad bin Salman (MBS), yang menurutnya telah banyak sekali melanggar hukum internasional.

Thornberry membuka pernyataannya di dalam rapat tersebut dengan berkata, “….kita harus berkata kepada mereka (Saudi), selama mereka melanjutkan pengeboman yang sembarangan terhadap area pemukiman, pertanian, dan pasar-pasar di Yaman; selama mereka melanjutkan blokade aliran makanan, persediaan obat-obatan, dan bahan bakar kepada sebuah populasi yang menderita epidemik besar-besaran dari kekurangan gizi dan kolera, maka mereka jangan berharap dukungan kita di dalam perang tersebut.”

Namun, menurut Thornberry, pemerintah Inggris tidak memiliki keberanian untuk mengatakan seperti yang dia katakan, menurutnya pemerintah Inggris hanya “menunduk dan menjilat” terhadap MbS. Terkait kunjungan MbS ke Inggris, Thornberry berkata dengan nada keras, “Putra Mahkota mereka tidak pantas untuk mendapatkan karpet merah yang digelar untuknya!”

Perdana Menteri Inggris Theresa May bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman di London (7/3/2018). Photo: Leon Neal/Getty Images

Perdana Menteri Inggris Theresa May bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman di London (7/3/2018). Photo: Leon Neal/Getty Images

Selanjutnya dia mengatakan bahwa dalang dari serangan udara dan blokade di Yaman, pendanaan Jihadis di Suriah, penangkapan Perdana Menteri Lebanon, dan meningkatnya jumlah eksekusi di Saudi sebesar dari dua kali lipat adalah MbS.

Namun pemerintah Inggris menurut Thornberry abai terhadap semua hal itu, mereka lebih menyoroti tentang “kemajuan” yang dilakukan oleh Saudi mengenai diberikannya izin mengemudi untuk para perempuan di Saudi yang sebelumnya dilarang. Di dalam sebuah artikel yang ditulisnya di harian The Guardian, Thornberry bahkan mengatakan isu izin mengemudi itu tidak masuk akal apabila sampai melupakan persoalan perang.

“Pemerintah Inggris berpura-pura untuk peduli tentang hak asasi manusia dan kejahatan perang, tapi ketika berhubungan dengan Arab Saudi dan Yaman, tiada yang lain selain sebuah kebisuan yang memalukan,” kata Thornberry dengan nada ekspresif.

Menurut Thornberry, diamnya pemerintah Inggris disebabkan kepentingan perdagangan dengan Saudi. Pemerintah Inggris berkepentingan untuk menutupi defisit ekonomi setelah memutuskan diri untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Transaksi antara Saudi dan Inggris adalah sebuah permainan kotor uang.

“Yang paling terlihat jelas, ini adalah tentang perang penawaran yang tidak tahu malu untuk meyakinkan putra mahkota untuk memasukkan London Stock Exchange dalam setiap international listing dari perusahaan minyak Aramco, yang disebut-sebut sebagai flotasi pasar saham terbesar sepanjang sejarah,” kata Thornberry.

Selain itu, di dalam arikelnya Thornberry juga menyoroti besarnya kenaikan volume perdagangan senjata Inggris ke Saudi semenjak terjadinya perang Yaman tiga tahun lalu. Pemerintah Inggris juga mendorong untuk dikeluarkannya lisensi ekspor terbuka untuk Saudi terkait perdagangan senjata. Menurut Thornberry hal itu apabila terwujud akan membuat segala sesuatu penjualan senjata dari Inggris ke Saudi akan menjadi rahasia dan tertutup.

Di akhir pernyataanya dalam parlemen, Thornberry bertanya, “kapan pemerintah akan berhenti membungkuk rendah kepada Arab Saudi? Dan sebagai gantinya menggunakan peran kita sebagai penentu terhadap Yaman di PBB untuk menuntut sebuah gencatan senjata segera, menghentikan blokade, perundingan perdamaian yang pantas, dan sebuah akhir yang permanen dari perang yang mengerikan dan memalukan ini.”

Video lengkapnya dapat dilihat di bawah ini (courtesy of RT UK News):

 

PH/IslamIndonesia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *