Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 23 August 2016

ANEKDOT–Ribut Kenaikan Cukai Rokok, Begini Kata Gus Mus


gus-mus-ultah-baca-puisi

IslamIndonesia.id – Ribut Kenaikan Cukai Rokok, Begini Kata Gus Mus

Meski Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah mengaku belum mengeluarkan aturan baru terkait harga jual eceran maupun tarif cukai rokok, wacana naiknya harga rokok hingga Rp. 50.000 per bungkus itu telah mendapat reaksi pro dan kontra dari masyarakat.

Wacana perubahan harga ini lahir dari hasil studi Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang mengungkapkan kemungkinan perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan dua kali lipat dari harga normal.

“Hasilnya, 80 persen bukan perokok setuju jika harga rokok dinaikkan.”

Tidak hanya pemerintah yang menerima masukan dari hasil kajian ini, Ketua DPR Ade Kamaruddin bahkan telah setuju jika harga rokok dinaikkan dua kali lipat. Di sisi lain, sebagian masyarakat tak terkecuali warga Nahdatul Ulama meminta pertimbangan ini dikaji ulang secara komprehensif dan mendalam.

“Mesti dipikir matang rencana kenaikan harga rokok ini. Selama ini belum pernah ada keputusan yang jelas. Kepentingannya masih berbeda-beda. Dilihat dari Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Keuangan dan dari Kementerian Kesehatan. Dari pemerintah belum ada keputusan,” kata Ketua PBNU Saifullah Yusuf (21/8)

Seperti diketahui, dari sekian ormas Islam di Indonesia, Nahdatul Ulama dikenal sebagai ormas yang tidak melarang atau mengharamkan rokok. Tak heran jika sebagian perokok di Indonesia, termasuk yang merasakan dampak perubahan harga rokok, adalah warga Nahdhiyin.

”Hukum ini (tidak haramnya rokok) berlaku selama tidak berlebihan. Apa saja bila berlebihan dan membawa mudarat yang signifikan, maka hukumnya haram,” kata Kiai Arwani Faishal, salah satu pengurus PBNU seperti dikutip dalam portal resmi NU.

Pria yang pernah aktif di Lembaga Bahtsul Masail NU ini melanjutkan, “Barangkali dalam gambaran kita sekarang, bahwa kemudaratan merokok dapat pula dinyatakan tidak lebih besar dari kemudaratan durian yang jelas berkadar kolesterol tinggi dan berisiko tinggi pula. Betapa tidak, sepuluh tahun lebih seseorang merokok dalam setiap hari belum tentu menderita penyakit akibat merokok. Sedangkan selama tiga bulan saja seseorang dalam setiap hari makan durian, kemungkinan besar dia akan terjangkit penyakit berat. Kalaulah merokok itu membawa mudarat relatif kecil dengan hukum makruh, kemudian di balik kemudaratan itu terdapat kemaslahatan yang lebih besar, maka hukum makruh itu dapat berubah menjadi mubah.”

Adapun ukuran mudarat dan maslahat, dalam kajian fikih, tergantung pada penilaian masing-masing mukallaf. Termasuk ‘mudarat’ rokok yang salah satunya digambarkan ulama senior NU dalam sebuah anekdot berikut ini:

Pada suatu hari konon seorang wanita aktivis anti tembakau berkunjung ke KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri dengan maksud meminta fatwa tentang bahaya rokok.

“Iya, rokok memang berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan, Mba,” kata Gus Mus mantap. Wajah aktivis LSM anti tembakau yang bertemu siang itu pun langsung berbinar.

“Begini…” lanjut kiai kelahiran Rembang itu. “Merokok itu nggak bisa dilakukan sambil terburu-buru. Anda bisa makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja dengan cepat dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok mesti dilakukan seperti… hmmm… harus ‘tuma’ninah’ istilahnya, Mba. Sedot, tenang, pengendapan sesaat… baru nyebul. Isep lagi, tenang dan pengendapan lagi.. sebul lagi. Begitu terus-menerus. Lihat, ngudud (merokok) sama sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan grusa-grusu…”

“Lho, maaf, katanya bahaya, Gus? Kok malah nggak bahas bahayanya?” Si aktivis tampak tidak sabar.

“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Gus Mus memberi kode tangan, agar si aktivis diam dulu. “Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap hari, artinya minimal ada 200-250 kali saat jeda tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap hari, Mba! Nah… bayangkan saja jika ia menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang demikian itu tidak turut membentuk bangunan bawah sadar dan karakter pribadinya?”

“Bahayanya, Gus ! Pliss, bahayanya…”

“Jadi, ya nggak usah gampang heran kalau banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab perokok itu bukan semacam ‘speedboat’ yang melesat cepat di permukaan, melainkan lebih dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Makhluk-makhluk kapal selam itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, sekaligus punya daya imajinasi tinggi.
Maka kita tahu ada Einstein, misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas, serta teori bahwa semesta berbentuk melengkung, saat ia leyeh-leyeh sambil kebal-kebul dengan pipa cangklongnya.
Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, yang semuanya menempa ngelmu tuma’ninah-nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga John F. Kennedy. Atau para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, yang kesemuanya mereka pun menjalani metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan bahwa…”

“Stop ! Stop ! Please, Gus. Please ! I said: ba-ha-ya ! Please explain the ba-ha-ya !!!”

“Hehe, iya-iya, Mba… Maaf, saya tegaskan bahwa rokok memang berbahaya.”

Gus Mus menghela nafas sesaat. “Sebab… yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-pikirannya.” []

 

YS/IslamIndonesia/Foto: Tribunnews

One response to “ANEKDOT–Ribut Kenaikan Cukai Rokok, Begini Kata Gus Mus”

  1. Mulyata says:

    Cerita rokok dari Kang Ebet
    ———————————————–
    Dikisahkan ada seorang kakek yang hidup disebuah desa yang asri dan hidup dengan menikmati kesehatan yang prima.
    Para wartawan ingin mewawancarai kakek ini untuk mengetahui kiat-kiat apa yang dikerjakan hingga masih dalam keadaan sehat diusia 98 tahun.

    Ketika wartawan tiba dikediaman kakek, ia sedang duduk sendirian diteras rumahnya sambil menikmati keindahan kebun halamannya.
    Wartawan memberi salam kehormatan dan dibalas secara lebih hormat oleh kakek dengan sambutan yang hangat.
    Singkat cerita wartawan langsung mewawancarai kakek diteras rumah tersebut.
    Wartawan: “Kek…, kiat-kiat apa yang digunakan selagi masa muda sehingga sampai saat ini masih kelihatan segar bugar…?
    Kakek:”Ohhhh….,dulu kakek hidup penuh disiplin, rajin olah raga, tidak begadang, tidak minum minuman keras, tidak ngopi dan juga tidak merokok.
    Wartawan: “Ohhhh…,pantes aja kakek begitu sehat diusia seperti ini…”, tapi tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara batuk-batuk seperti orang yang sedang kurang sehat.
    Wartawan kaget lalu bertanya kepada kakek: ” Kek…!, siapa yang ada didalam..? katanya kakek hidup sendirian disini..?
    Kakek menjawab: “Itu saudara saya, hidupnya tidak disiplin…!, begadang, ngopi dan rokoknya nggak putus-putus..!”
    Berapa usianya Kek….!? tanya wartawan
    Kakek: ” 100 tahun…!
    Wartawan: “…….😩😩..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *