Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 24 July 2016

ANALISIS–Ribuan Orang Ikut Kuburkan Jenazah Santoso. Mengapa?


pemakaman_santoso 1

Islamindonesia.id–Ribuan Orang Ikut Kuburkan Jenazah Santoso. Mengapa?

Kak_Uti

Ribuan warga Indonesia ikut memakamkan jenazah Santoso di Desa Landangan, Kecamatan Poso Pesisir pada Sabtu (23/7/2016). Pertanyaannya: mengapa bisa begitu banyak orang terang-terangan ikut menguburkan jenazah orang yang disebut sebagai teroris tersebut? Apa yang mesti dilakukan penguasa, pemerintah dan elit terhadap fenomena seperti ini?

Membludaknya jumlah pendukung dan simpatisan dalam penguburan seorang tokoh yang dibunuh karena dianggap teroris boleh jadi karena adanya perbedaan yang kian menganga antara penguasa (pemerintah) dan umat Islam, terutama di daerah. Bagi rakyat dan umat di daerah ada persepsi bahwa yang dianggap teroris itu adalah pejuang Islam. Dan karena Islam berhasil dibenturkan dengan kekuasaan, terutama paska gencarnya politisasi agama dalam berbagai kontestasi demokrasi di Indonesia, maka yang dibunuh oleh penguasa dianggap mewakili tindakan anti Islam, sedangkan yang berjuang dengan cap terorisme dianggap sebagai pejuang sejati yang membela ummat Islam.

Demikian pendapat Ir. Sayuti Asyatri, mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI dan pejabat Istana era Presiden Gus Dur.

Menurut intelektual yang akrab disapa Bang Sayuti ini, kejadian serupa juga terjadi di Suriah, terutama di awal-awal pemberontakan terhadap Bashar, yakni rakyat di Daraa, Ghouta dan Zabadani bangkit atas nama martabat Islam melawan penguasa (Baca: Bashar Assad) yang dianggap tidak Islami. Sebelum akhirnya terjadi pemahaman bahwa di balik klaim kehormatan Islam itu ada pemboncengan dan desain yang justru ingin menghancurkan Islam dan membenamkan umat dalam konflik internal tanpa ujung.

Untuk menghadapi situasi ini, lanjut mantan Ketua Departemen Penerangan Dewan Mahasiswa UI periode 1977/78 ini, penguasa harus lebih hati-hati dalam mengambil tindakan keras terhadap kalangan Islam yang dianggap sebagai teroris, terutama di saat kekuasaan dalam kenyataannya dianggap tidak terlalu jelas pemihakannya pada rakyat dan umat, terutama saat seperti sekarang ini, di mana rakyat dan ummat Islam berada dalam proses keterhinaan dan peminggiran oleh kekuatan asing yang bukan hanya mendominasi tetapi sudah menjajah seluruh nafas kehidupan rakyat.

Dalam kondisi keterbelakangan dan marjinalisasi tersebut, kata Sayuti, penguasa dapat dipersepsi menjadi bagian daripada kezholiman dan ketidakadilan maka tindakan kekuasaan bisa dipersepsi sebagai mendukung kezholiman dan tidak membela nasib rakyat.

Tetapi karena rakyat mudah diperdaya oleh simbol-simbol kafir dan beriman, menurut intelektual yang pernah menjadi pengurus teras PAN ini, maka mereka juga mestinya tidak bisa begitu saja didukung oleh kalangan ulama dan elit serta mereka yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, bahwa terorisme, atas nama apapun adalah musuh kemanusiaan dan musuh keimanan.

Bahkan dalam konteks geopolitik, lanjut mantan wakil Sekjen ILUNI ini, gerakan terorisme didorong oleh para musuh Islam untuk menyimpangkan ummat Islam dari konsolidasi dan penguatan untuk peradaban di jalan ilmu pengetahuan dan kearifan. Wajah Islam yang penuh hikmah dan kedalaman ilmu pengetahuan yang telah didisain Allah swt untuk hadirnya sebuah bangunan peradaban yang fundamennya bercahaya serta kokoh tersambung pada keabadian selalu ingin ditenggelamkan para imperialis dan kekuatan Islam politik nir hikmah yang mudah diperdaya oleh mereka untuk menghina Islam dan mengunci mereka dalam keterbelakangan dan marjilitas.

Maka itu, Bang Sayuti berpesan agar para elit politik dan kalangan agamawan berhati-hati untuk tidak mudah mendukung kekerasan dan kekejian terhadap kemanusiaan semacam itu karena akan berakhir dengan kemunduran dan kekalahan ummat Islam serta bangsa Indonesia secara keseluruhan.

pemakaman_santoso 1

pemakaman_santoso 2

santoso_islamindonesia.id

AA/IslamIndonesia

One response to “ANALISIS–Ribuan Orang Ikut Kuburkan Jenazah Santoso. Mengapa?”

  1. fuad victor says:

    Kerja keras pemerintah bersama tokoh masyarakat diperlukan dalam menyadarkan ummat untuk beragama dengan mengedepankan logika dan buang jauh2 fanatisme buta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *