Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 20 April 2016

ANALISIS–Mata Politik: Najwa Shihab untuk DKI 1?


wp-1461146716148.jpg

IslamIndonesia.id–Teko itu sudah lama menjerit. Tapi mereka tak kunjung bangkit. Semua tenggelam dalam kekalutan. Beku.

Satu sisi kesadaran mereka menolak gubernur berkuasa, Basuki “Ahok” Tjahja Purnama, terpilih lagi di pemilu raya Jakarta mendatang. Ini pasti. Bahkan seribu spin doctor tak bisa mengubahnya. Dengan seluruh kelebihannya, Ahok dan siapapun yang berdiri di belakangnya, menurut mereka, secara sadar ataupun tidak membiarkan kondisi politik mengeras di semua sisi – dan ini buruk bagi pendidikan politik Jakarta. Orang bakal kembali habis bersitegang dalam isu demi isu dan pemihakan buta seperti di masa pemilu raya yang sudah-sudah, padahal politik adalah soal logika dan visi bersama.

Tapi penolakan itu tak menjawab apa-apa. Kandidat lainnya seperti sendal jepit yang terlalu kenyal bahkan sekadar untuk dikunyah. Semuanya dianggap penuh kepalsuan, serba lemah dalam pengaruh, modal dan dukungan publik. Tak ada yang punya inisiatif. Nyali mereka kecil.

Satu dua nama yang mereka anggap mumpuni belakangan muncul di horizon. Ini cukup menghibur. Tapi kegembiraan mereka hanya bisa bertahan sebentar. Waktu sedang tak berpihak. Perlu energi maha besar agar nama-nama baru itu bisa tampil berlaga penuh di ring politik.

Sejujurnya, mereka sudah cukup lama mengubek rolodex di kepala, mencari-cari sosok kandidat yang pas untuk didorong di waktu yang serba mepet begini; seseorang yang mereka anggap punya kesempatan untuk mengubah sejarah politik kota. Tapi setelah tanya, telpon dan lobi ke sana-sini, langit seolah sengaja menyembunyikan yang mereka cari. Pahit. Tak pernah dalam sejarah orang-orang yang menganggap diri sebagai garda kesadaran Ibu Kota ini kehabisan kartu seperti sekarang.

Lalu, seseorang dari mereka memuculkan sebuah nama anyar: Najwa Shihab. Ya, Anda mendengarkan itu pertama kali di sini: Najwa, presenter perempuan paling populer itu, namanya sedang coba dimasak agar bisa ikut maju ke Pemilu Jakarta. Bagi pengusulnya, dia paripurna. Dia punya peluang besar untuk melawan Ahok tanpa perlu energi besar– dan kemungkinan menang. Yang terlanjur senang, mengganngap dia over qualified untuk posisi DKI 1. Dia tak perlu dipoles, tak perlu mengumbar urat leher sekadar untuk menunjukkan ketegasan. Dia dianggap sosok dari masa depan, lahir dari rahim profesional, penuh inspirasi, dan mau menerima kritik. Ibu-ibu menyukai tutur katanya yang santun. Yang muda terinspirasi dengan karirnya yang meroket. Mereka yang dari kalangan kelas menengah mudah terpikat dengan sikapnya yang serba moderat, menebar optimisme. Kaum Islamis, yang lantaran kemakan kompor dan melihat politik Jakarta soal “kemenangan agama”, juga diyakini bakal punya kesempatan untuk kembali berdoa dan shalat malam dengan tenang – tanpa dihantui bayang-bayang Ahok. Najwa memang bisa menjawab keresahan mereka. Dia adalah putri ahli tafsir sekaligus cendekiawan Islam paling ternama Indonesia, Quraish Shihab.

Tentu saja, soal apa dan bagaimana semua kisah di balik layar ini bisa beresonansi di ruang redaksi Metro TV, atau yang lebih penting lagi, adakah Najwa bakal mempertimbangkannya walau sedikit, adalah tebakan semua orang. Tapi semua ini bisa jadi isyarat harapan bersama pemilu raya Jakarta mendatang punya kesempatan untuk jadi momen politik yang berkelas dan mendidik, jauh dari kepalsuan, jauh dari urusan perdebatan Ahok vs Bukan Ahok, Islam vs Kristen, Kaya vs Miskin, Pengusaha vs Rakyat jelata. Teko itu sudah terlalu lama menjerit, Najwa.[]

(Baca juga: OPINI–Muslim dan Ahok oleh Abdillah Toha)

 

RR/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *