Satu Islam Untuk Semua

Friday, 24 June 2016

AMALAN – Menghidupkan Malam Agung; ‘Lailatul Qadar’


2015_1404250108_320

IslamIndonesia.id – AMALAN –Menghidupkan Malam Agung; ‘Lailatul Qadar’

 

Di dalam riwayat dikatakan pada sepuluh akhir Ramadhan, Rasulullah Saw melipat tempat tidurnya untuk menghidupkan sepuluh malam tersebut. Seperti diketahui, dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan terdapat malam ‘Lailatul Qadar’.

Dalam sebuah riwayat yang panjang dari Rasulullah Saw, Nabi Musa disebutkan pernah berkata kepada Allah Swt, “Ya Allah, aku memohon maqam (kedudukan ruhani) yang dekat dengan-Mu.”

“Maqam kedekatan dengan-Ku adalah bagi orang yang bangun pada malam Lailatul Qadar,” jawab Allah.

“Ya Allah,” kembali Musa menyeru. “aku menginginkan rahmat-Mu.”

“Rahmat-Ku bagi orang yang mengasihi orang-orang miskin pada malam Lailatu Qadar.”

“Ya Allah, aku ingin dapat melewati jembatan shirat.”

“Kemampuan melewati shirat adalah bagi orang yang bersedekah pada malam Lailatul Qadar.”

“Ya Allah, aku memohon surga dan segala kenikmatan di dalamnya.”

“Itu semua Kuberikan pada orang yang bertasbih pada malam Lailatul Qadar.”

“Ya Allah, aku ingin keselamatan dari api neraka Jahannam.”

“Itu bagi orang yang beristigfar pada malam Lailatul Qadar.”

“Ya Allah, aku memohon keridhaan-Mu.”

“Keridhaan-Ku bagi orang yang shalat dua rakaat di malam Lailatul Qadar.”

Di dalam Al-Qur’an kata ‘qadar’ digunakan dalam beberapa arti: Pertama, berarti kedudukan atau maqam (Lihat: QS. Al An’am: 91). Kedua, takdir dan ketetapan (Lihat: QS. Thaha: 40). Ketiga, kesempitan dan kesulitan (Lihat: QS. Al Thalaq: 7).

Makna dari dua ayat pertama sesuai dengan makna malam ‘Lailatul Qadar’ di samping memiliki arti kedudukan juga bermakna malam penetapan takdir. Pada malam itu, Allah menetapkan urusan selama setahun.  Di ayat lain, Allah berfirman: Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (QS. Al Dukhan: 4)

Malam Lailatul Qadar tidak terjadi sebatas pada masa Nabi saja, tapi senantiasa berkelanjutan setiap bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw menganjurkan menghidupkan malam-malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan ini dengan amalan seperti membaca Al-Qur’an, doa, shalat dan menyantuni anak yatim serta fakir miskin.

Suatu hari Abu Dzar Al Gifary bertanya pada Rasulullah Saw, “Apakah malam Lailatul Qadar juga ada pada masa nabi-nabi sebelumnya, dan pada mereka turun perintah, lalu setelah mereka tiada malam Lailatul Qadar berhenti?”

“Malam Lailatul Qadar ada sampai Hari Kiamat,” jawab sang Nabi.

Malam-malam mulia ini tidak hanya bisa diakses di tempat tertentu, karena berlangsung semalam penuh bulatan bumi atau selama 24 jam. Hal ini sebagaimana hari raya Idul Fitri yang setiap orang dimanapun mereka berada dapat menikmatinya.

“Perbuatan baik yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar lebih utama daripada perbuatan baik yang dilakukan selama seribu bulan,” demikian salah satu riwayat yang menggambarkan keagungan malam ini.

Namun mengapa tidak setiap orang bisa memastikan tibanya malam Lailatul Qadar? Mungkin, di antara hikmah di balik misterinya malam Lailatul Qadar khususnya agar supaya manusia beribadah di banyak malam itu, tidak hanya semalam. Bagi orang-orang yang mendapat anugrah malam itu agar tidak menjadi sombong, dan bagi yang tidak mendapatkannya agar tidak merasa putus asa.

Jika kembali pada surat Al Qadar, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa penetapan urusan pada malam Qadar dilakukan dengan kehadiran para malaikat. “Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.” QS. Al Qadar: 4

Dan yang dimaksud ‘salam’ dalam surah ini ialah perhatian khusus Allah Swt pada hamba yang di malam itu diiringi dengan keselamatan, rahmat dan berkah serta ditutupnya pintu neraka. Oleh sebab itu, pada malam itu, tipu daya setan tak berdaya dan para malaikat turun ke bumi memberi salam kepada laki-laki dan perempuan yang sedang beribadah. Hal yang sama mereka lakukan ketika menyambut para ahli Surga di hari kebangkitan kelak dengan mengucapkan ‘salam’

“Salam sejahtera atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masuklah, kalian kekal di dalamnya.” QS. Al Zumar: 73

 

YS/MQ/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *