Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 14 January 2017

Alwi Shihab Buka Suara Soal Ideologi Tertutup dalam Pidato Mega


Alwi Shihab Buka Suara Soal Ideologi Tertutup dalam Pidato Mega

islamindonesia.id – Alwi Shihab Buka Suara Soal Ideologi Tertutup dalam Pidato Mega

 

Tak sedikit kalangan yang menilai bahwa pidato Megawati Soekarnoputri pada HUT ke-44 (ada pula yang menyebutnya ke-18) PDIP pada Selasa (10/1/2017) adalah pidato terburuk yang disampaikan oleh seorang yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ada pula yang menganggap Mega jauh dari sikap kenegarawanan, sarkastis dan penuh sinisme, bahkan cenderung mengarahkan pada terjadinya perpecahan bangsa.

Menurut kalangan ini, setidaknya ada beberapa catatan yang perlu disikapi. Pertama, pidato itu menunjukkan bahwa Megawati ikut larut kepada kepentingan kelompok tertentu yang ingin membuat jarak dan menebar kebencian terhadap Islam.

Kedua, mempertentangkan antara Islam dan Pancasila dengan mengkontestasikan ideologi tertutup dengan ideologi terbuka, justru mempertontonkan bahwa sesungguhnya Megawati tidak paham pengertian agama, ideologi, Islam dan Pancasila itu sendiri.

Bahkan, pernyataannya tentang keyakinan terhadap akhirat yang dalam Islam memang diimankan, bisa mengarah kepada kategori pelecehan bahkan penistaan Islam, karena itu mengganggu prinsip ke-Tuhanan yang bertentangan dengan sila pertama Pancasila.

Ketiga, mengabaikan Islam atau bahkan mempertentangkan Islam dengan Pancasila justru cerminan sikap ahistoris. Megawati seperti merasa pemilik tunggal Pancasila serta mengganggap yang lain tidak Pancasilais dan tidak paham Bhinneka Tunggal Ika.

Keempat, dalam membicarakan Pancasila pun sesungguhnya Megawati out of context dengan realitas hari ini. Pancasila sebagai prinsip dasar dan sebagai penuntun sekaligus rambu dalam menyusun norma sosial dan politik bukan lagi isu hari ini. Dari dulu kita semua sudah tahu itu.

Jadi sesungguhnya, yang dibutuhkan hari ini adalah kepemimpinan yang mampu membumikan Pancasila sebagai pedoman, jiwa, dan sikap yang hadir serta hidup di tengah-tengah masyarakat dan negara.

Kepemimpinan yang mampu merumuskan gagasan kebijakan dan program serta ketauladanan tentang hidup berbangsa dan bernegara yang bermakna Pancasila.

Dengan model kepemimpinan itu, diharapkan tidak ada lagi korupsi, tidak ada lagi jualan aset negara, tidak ada lagi antek-antek asing, tidak ada lagi Komunis yang anti Pancasila, tidak ada lagi praktik asusila, tidak ada lagi anak-anak yang terancam mati dan gelap masa depannya karena narkoba, LGBT, dan kesesatan lainnya.

Jadi, memaknai Pancasila bukan dengan mengembangkan stigma dan memojokkan keyakinan mayoritas bangsa ini yang justru mengaburkan makna Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri.

Namun pandangan miring terhadap isi pidato Mega, khususnya terkait penyebutan ideologi tertutup yang dianggap sengaja diarahkan untuk menghantam Islam sebagai agama itu dibantah mantan Menko Kesra era SBY, Alwi Shihab. Dalam pandangan Alwi, ideologi tertutup yang disebut-sebut putri mendiang Bung Karno dalam pidatonya itu tidak serta-merta bisa ditafsirkan mengarah pada Islam.

Melalui cuitan di akun Twitternya @ShihabAlwi, politisi yang pernah menjabat Ketum PKB ini menyatakan bahwa ideologi tertutup yang dimaksud Mega bukanlah Islam sebagai agama, melainkan pemahaman Islam yang memaksakan kehendak, intoleran dan menggunakan kekerasan bahkan mengkafirkan sesama Muslim.

Karena Islam yang sebenarnya, kata Alwi, merupakan ajaran moderasi, Wasatan, yang berarti berada di tengah dan jauh dari ekstremisme.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *