Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 May 2014

Al Ustadz Dr. Aam Amiruddin: Persaudaraan itu Ruh-nya Islam


foto:hendijo

Umat Islam harus menjadi umat yang lebih membesarkan persamaan dan toleran terhadap perbedaan.


DI KALANGAN aktivis Islam Bandung, Ustadz Aam Amiruddin bukanlah nama yang asing. Selain memiliki kedekatan dengan para anak muda, ia pun dikenal sebagai seorang tokoh Islam yang berpembawaan ramah dan toleran. Sikap toleran ini juga yang selalu menjadi tema dalam setiap pengajian majelis Percikan Iman, sebuah pengajian rutin yang dipandunya setiap hari Minggu dengan diikuti sekitar 3.000-4.000 jamaah.  

“Kami selalu beruaha menerapkan prinsip ‘bersatu dalam persamaan dan toleran dalam perbedaan’ yang menjadi tema pengajian kami tersebut,” ujar dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) itu.

Lantas bagaimana pandangan penulis berbagai buku agama ini terhadap situasi umat Islam saat ini yang tengah “dirobek-robek” oleh isu pengkafiran dan aksi saling menyesatkan? Lima hari lalu, kepada Hendi Jo dari Islam-Indonesia, ustadz muda ini mengungkapkan pendapatnya mengenai hal itu. Berikut kutipannya:

Dalam pandangan ustadz, sebetulnya bagaimana posisi ukhuwah (persaudaraan) dalam Islam?

Saya berpendapat bahwa uhkuwah itu ibarat ruh-nya Islam. Realitas keimanan dan kesalehan itu akan tampak dalam kemampuan umat Islam dalam membangun ukuwah. Artinya begini, apabila ukhuwah itu belum terwujud, ini problem utamanya ada dalam kualitas iman. Mengapa? Karena pada dasarnya ukhuwah itu bisa meredam segala sifat-sifat kesombongan yang ada pada manusia. Jadi ketika ukhuwah sudah terwujud secara kokoh, yakinlah bahwa umat Islam sudah ada pada fase tidak lagi mementingkan kepentingan sendiri atau golongan. Jadi itulah maksud saya ukhuwah itu merupakan pengejewantahan dari kualitas iman umat Islam itu sendiri. Makanya bicara tentang ukhuwah, Allah mengawalinya dengan: ” Sesunguhnya orang-orang beriman itu satu sama lain bersaudara…” Ini artinya ukhuwah itu dibangun oleh keimanan. Begitu imannya lemah, maka otomatis ukhuwah sulit terwujud.

Ada dalil-dalil Al Qur’an lain yang menegaskan soal itu?

Kalau soal ukhuwah yang bersifat harfiah, itu kan banyak dibahasnya di Surat Al-Hujurat. Di sini dibahas ayat-ayat ukuwah yang lebih bersifat teknis. Misalnya di Surat Al Hujurat ayat 6: ” Bila datang kepadamu berita dari orang fasiq maka kamu harus tabayun…” Jadi tataran teknis ukhuwah itu kita harus selalu tabayun (check and recheck) Mohon maaf, banyak terjadi keretakan di antara umat Islam karena tidak adanya tabayun ini. Hal-hal teknis lain mengenai ukhuwah juga dibahas di Surat Al Hujurat:10-13. Bahkan ini menurut saya sangat teknis karena terkait dengan pelarangan untuk berburuk sangka, tidak bolehnya bergosip dan haramnya berbuat fitnah. Selain masalah teknis, juga ada gambaran ukhuwah yang bersifat ideologis dan seluruh ajaran dalam Islam mengacu kepada itu. Contoh,dalam Islam disebutkan shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendiri. Itu kan mengindikasikan bahwa berjamaah (berukhuwah) lebih penting dibandingkan sendirian.   

Posisi musyawarah sendiri di mana dalam Islam? 

Musyawarah itu bagian tak terlepaskan dari ahlak seorang muslim. Jika ada suatu perselisihan, seorang muslim tidak seharusnya langsung memvonis atau membuat kesimpulan akhir bahwa si A begini, si B begitu. Ia harus tabayun. Nah di sinilah tercipta dialog atau musyawarah ini. Yang paling menarik dalam Surat Al Imran;159 disebutkan bahwa Allah menyuruh kepada kita supaya kita berlaku lemah lembut, berjiwa pemaaf, memohonkan ampunan kepada Allah bagi yang bersalah dan membiasakan musyawarah jika terjadi perselisihan. Jadi prasyarat untuk melakukan musyawarah itu adalah kita harus memiliki dahulu sifat rendah hati dan memiliki kelembutan hati. Jika semua itu kita tidak miliki maka yang terjadi adalah kita terjebak dalam penuhanan ego masing-masing. Singkatnya, merasa paling benar sendiri-lah

Dalam Al Qur’an dibahas soal ‘umattan wasatan” atau ‘kaum penengah’, apakah terselenggaranya semua hal yang disebut ustadz barusan merupakan syarat untuk menjadikan sebuah ‘kaum penengah’ itu? 

Saya pikir begitu. Namun sebelum menjadi umattan wassatan, umat Islam terlebih dahulu harus menjadi ummatan wahidah atau ‘kaum yang bersatu padu”  dan khairu ummah atau ‘kaum terbaik’. Setelah melalui kedua situasi tersebut, baru umat Islam bisa menjadi ‘kaum yang menengahi”. Bagaimana kita akan menjadi sebuah kaum yang menjadi penengah, jika dalam soal ukhuwah saja kita belum selesai? Jadi tahapan-tahapan itu memang harus dilalui.

Sebagai suatu kaum yang pada akhirnya memiliki misi sebagai ‘penengah’ tentunya diperlukan suatu sikap moderat di dalamnya?

Memang betul. Umat Islam memang harus menjadi kelompok yang bisa menengahi dan memoderasi semua kalangan. Soal ini bahkan sudah dibuktikan oleh sejarah ketika pada era Rasulallah umat Islam menjadi kaum penengah untuk umat-umat lain. Seperti yang kita ketahui, saat itu di Madinah selain umat Islam, juga ada umat Yahudi, Nasrani bahkan umat yang masih menyembah berhala. Namun karena kesolidan dan kebaikan kualitas, umat Islam bisa membuat semua bisa bersatu. Nah hal seperti  ini saya pikir harus dicontoh oleh kita di Indonesia yang terdiri dari banyak agama, suku dan budaya

Tetapi ustadz, kita juga tak bisa menafikan bahwa sejarah umat Islam adalah sejarah yang penuh dengan perpecahan dan munculnya berbagai firqah (kelompok), bagaimana menyelaraskan fakta ini dengan ideal-ideal yang menjadikan umat Islam harus menjadi suatu kelompok penengah? 

Kita harus membedakan antara ajaran Al Qur’an dengan fakta sejarah. Memang harus kita akui, bahwa sejarah Islam juga diliputi berbagai konflik yang bahkan tak jarang berakhir dengan pertumpahan darah. Tetapi kalau kita tarik dari kenyataannya, semua konflik itu kan bermuara pada masalah politik bukan pada soal perbedaan memahami agama.

Jadi anda membedakan antara “politik atas nama agama” dengan “idealisme agama”?

Kalau saya melihat begini. Ada orang yang berpolitik mengatasnamakan idealisme agama. Padahal aslinya yang ia perjuangkan itu bukan idealisme agama tetapi kepentingan politiknya semata. Kenapa saya mengatakan begini? Karena kalau memang betul-betul mereka berpolitik mengatasnamakan idelaisme agama tentunya akan ada titik temunya. Si A mengklaim berpolitik atas nama idealism agama, Si B juga menyatakan hal yang sama. Karena agama isinya  pasti tentang kebaikan tentu seharusnya ada titik temu di antara mereka berdua. Nyatanya kan kerap tak terjadi. Jadi menurut saya itu bukan idealisme agama tapi kepentingan politik yang dibingkai oleh idealisme agama. Dalam pilkada dan pemilihan umum legislatif kemarin contohnya, banyak orang yang menjadikan idealism agama hanya sebagai jualan politik saja kan?

Tapi dalam politik, itu kan suatu hal yang katanya “wajar” dan tidak salah,ustadz?

Oke tidak salah. Tetapi kan soal politik itu jadi seolah-olah soal agama. Ini yang parah. Satu hal lagi, ketika seseorang dalam pemilu menjadikan idealisme agama sebagai jualannya namun begitu sudah berkuasa ternyata ia tidak melaksanakan idealisme agama yang ia usung sebelumnya, ini kan seolah-olah agamanya yang menjadi salah.

Baik ustadz. Kita kembali lagi ke masalah ukhuwah. Belakangan ini alih-alih menjadi suatu umat yang solid dan terbaik, umat Islam justru dipenuhi dengan berbagai friksi dan pertentangan. Pertentangan itu tak jarang berakhir pada upaya pengkafiran satu pihak oleh pihak yang lain dan kerap juga diiringi dengan praktek kekerasan. Bagaimana ustad melihat situasi ini?

Ini diperlukan sikap arif dari para pemuka agama. Kita sepakat bahwa melakukan kritik itu merupakan suatu hal yang wajar dan berbeda merupakan suatu keniscayaan, tapi kesepahahaman pun bisa terjadi lewat tabayun dan musyawarah yang dilakukan secara intensif di kalangan para pemuka agama. Mohon maaf, tidak semua orang awam mengetahui pangkal pokok masalah yang tengah terjadi hari ini. Mereka teriak “kafir”, mereka memvonis “salah”, jangan-jangan itu sesungguhnya bentuk dari ketidakpahaman mereka. Yang harus dewasa dan arif ini kan para ulamanya. Mereka seharusnya paham bahwa soal ini sensitif untuk sekadar disampaikan di mushola-mushola kecil atau kutbah-kutbah Jumat. Di tingkat elit, baiknya mereka semua bertemu, membicarakan soal-soal yang meresahkan ini. Silakan di forum itu mereka berdebat, berhujah dan berdalil (tentunya dengan disertai etika Islam). Jangan malah menyampaikan soal-soal ini di depan awam dan menjadikan mereka bingung dan panas. Tugas ulama itu kan menyejukan umatnya bukan malah memanasi mereka.

Sebagai ustadz, apa yang anda sendiri lakukan untuk mencapai ideal-ideal yang baru saja anda sampaikan itu?

Saya memiliki pengajian rutin, namanya majelis Percikan Iman. Setiap hari Ahad jam 08.00-10.30, kami melakukan pengajian di Jalan Gegerkalong Hilir No.47 Bandung. Alhamdulillah setiap pengajian ada sekitar 3.000-4.000 orang yang hadir. Cukup banyaklah untuk ukuran Bandung

Apa yang disampaikan dalam pengajian itu terkait idealisme agama yang anda miliki tersebut?

Dalam setiap pertemuan, saya selalu menekankan mari kita bersatu dalam hal-hal yang sama. Untuk hal yang berbeda, mari kita bertoleransi selama perbedaan tersebut sudah tak bisa dipertemukan karena masing-masing punya dalil. Jadi dalam ikhtiar yang saya lakukan itu saya selalu mengatakan utamakan yang lebih penting daripada yang penting, yang lebih utama daripada yang utama. Saya juga katakan, kita lebih penting dan lebih bagus melakukan langkah-langkah produktif dengan melihat hal-hal yang sama dengan orang lain. Kalau kita berbeda, kita dialogkan. Kalau ternyata dialog pun tidak berhasil maka cukup kita melaksanakan keyakinan kita masing-masing saja dan berserah kepada Allah Swt.Biar Dia-lah yang menghakiminya

Jadi perbedaan itu urusan Allah bukan urusan kita?

Ya. Itulah yang menyebabkan saya selalu berkata: ” jika ada orang Islam yang memutlakan keseragaman dan menafikan perbedaan dalam beragama maka itu merupakan bentuk dari kegagalannya sendiri.” Mengapa? Karena itu tidak mungkin. Berbeda  itu sudah merupakan suatu keniscayaan hidup. Sedangkan tugas kita hanya menjembatani perbedaan tersebut, bersatu dalam hal yang sama dan toleran dengan hal yang berbeda. Kita memiliki hak untuk meyakini apa yang menjadi keyakinan kita tapi tidak berhak mengklaim orang lain sesat sesesat-sesatnya dan kita yang paling benar. Bukankah sikap seperti itu bentuk lain dari kesombongan?

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *