Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 26 October 2016

Al-Maidah 51 Jadi Perhatian Publik, Gus Mus: Sempatkan Juga Baca Ayat 8


images-1

islamindonesia.id – Al-Maidah 51 Jadi Perhatian Publik, Gus Mus: Sempatkan Juga Baca Ayat 8

 

Ketika Surah Al Maidah 51 masih menjadi sorotan publik, khususnya setelah dan akan digelarnya kembali “demo Ahok” oleh ormas tertentu, KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri mengunggah surah Al-Qur’an yang sama tapi dengan ayat berbeda di akun Facebooknya (26/10). Kepada ‘teman’ dan follower-nya yang berjumlah 150 ribu lebih itu, pria yang akrab disapa Gus Mus ini menulis, “Sempatkan baca ini juga.”

Setelah mengutip ayat 8 dari surah Al-Maidah, ulama senior asal Rembang ini memberikan terjemahannya dengan menegaskan sejumlah kata dengan huruf kapital.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena ALLAH dan menjadi saksi dengan ADIL. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, menyeretmu untuk berbuat tidak adil. Bersikap adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahamengetahui apa yang kalian lakukan.”

Salah satu yang di-kapital-kan oleh Gus Mus ialah “Adil”. Menurut Gus Mus, sebagai sikap dan laku, adil mungkin termasuk yang paling sulit. Soalnya ‘adil’ itu jejeg, tegak lurus, tidak condong dan tidak miring ke sana-kemari.

“Sementara kita sebagai manusia, dari sononya memiliki ‘athifah atau emosi yang bawaannya mirang-miring kesana kemari,” katanya seperti dalam catatannya soal keadilan di gusmus.net

ِApalagi, lanjut jebolan Al Azhar Mesir ini, dalam dan di sekeliling kehidupan kita banyak faktor yang mempengaruhi kita, yang mendorong kesana atau menarik kemari. Kita mencintai dan senang, condong kemari; kita marah dan benci, miring kesana.

Dalam mengadili atau menghakimi seseorang misalnya. Gus Mus memberi contoh hakim yang sedang marah atau benci kepada seseorang, katakanlah si Fulan.

“Jangan suruh ia mengadili si Fulan itu. Karena hampir dipastikan si hakim tidak bisa berlaku adil dan jejeg,” katanya.

Gus Mus pun mengajak untuk mengingat kembali  kasus hakim yang diberhentikan gara-gara memvonis maling arloji dengan hukuman maksimal.

“Lantaran gregetan, pasalnya, yang dicuri si maling adalah arloji beliau.”

Demikian pula bila seorang hakim –karena sesuatu hal– sangat senang kepada si terdakwa, bisa ditebak putusannya akan tidak adil. Maraknya kasus-kasus mulai dari korupsi, main hakim sendiri, perkelahian ‘antar pemain’, krisis kepercayaan, hingga tindak kekerasan dan terorisme, jika ditelusuri, menurut Gus Mus, sumbernya tidak lain adalah ketidak-adilan.

“Bagaimana pun sulitnya, kita semua tahu bahwa bersikap dan berlaku adil adalah sangatlah penting dalam kehidupan kita,” katanya sembari mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan urgensi bersikap adil.

Di mata pengasuh Ponpes Raudhatu Tholibin Rembang ini, berlaku adil tidak hanya dituntut dari pihak penguasa dan penegak hukum saja, tapi juga dari kita semua, terutama yang merasa mendapat firman dari Allah dan mempercayainya. Namun, seperti disinggung sebelumnya, bersikap dan berlaku adil memang hanya gampang diucapkan. Untuk mempraktekkannya sangat sulit, katanya.

“Sering kali kita menuntut perlakuan adil dari pihak lain, namun sering kali juga kita tidak sadar telah berlaku tidak adil terhadap pihak lain. Adil, jejeg, mengandung pengertian objektif, i’tidaal, proporsional, tawaazun,” katanya.

[Baca – Gus Mus: Waspadai ‘Orang Pintar Baru’]

Hanya enam jam berselang dari diunggahnya ayat ini, status yang telah dibagikan 6000 kali ini menuai beragam komentar. Tak sedikit orang yang mengaitkan soal Pilgub DKI meskipun Gus Mus tidak menyebut apa-pun terkait politik di ibukota Indonesia itu.

“Jika dikaitkan dengan Ahok Gus, sebagai negara yang menjunjung bhinneka tunggal ika, perbedaan agama dan kepercayaan menjadi penghalang hak koh Ahok untuk bisa maju sebagai gubernur. Apakah dalam hal itu keadilan bisa diterapkan Gus?” kata Anjaha Naufal Muhammad.

Atas komentar Anjaha itu, akun lain menanggapi, “Adil aqrobu littaqwa (adil lebih dekat dengan taqwa – red). Lah adil tidak ada batasan. Politik juga bisa bermakna jual beli. Apa lantas kita kurangi timbangan kalau beda keyakinan dan menambahnya karena seakidah?” kata Ghifni Alam.

“Matur sembah nuwun (terima kasih) Mbah Kung (demikian Gus Mus biasa disapa). Semoga sikap adil, welas asih dan kedamaian senantiasa meliputi bangsa Indonesia,” kata akun lainnya.

Seperti diketahui sikap Gubernur Ahok yang menyinggung Al Maidah 51 berbuntut panjang hingga ke ranah hukum. Ditambah semakin dekatnya “Jakarta memilih 2017”, persoalan semakin kompleks hingga sebagian tokoh Islam menahan diri dalam menilai dan menyikapi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah ormas ini.

“Sekarang ini keadaan dan isu semakin liar, tak terkontrol, bukan lagi soal politik Pilgub DKI, tapi lebih besar dan rumit lagi,” kata ketua PBNU KH. Said Aqil Sirajd mengingatkan masyarakat luas untuk berhati-hati menyikapi aksi pengarahan massa yang mengatasnamakan agama. []

 

[Baca – Demo Ahok Kembali Digelar, NU: Kelompok Islam Radikal Temukan Momentumnya]

 

YS / islam indonesia

0 responses to “Al-Maidah 51 Jadi Perhatian Publik, Gus Mus: Sempatkan Juga Baca Ayat 8”

  1. ahsan says:

    Mantabb ek……. banyak penuntut keadilan dari saya yg berkelakuan dhalim..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *