Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 27 March 2014

Al-Azhar Serukan Umat Islam Kembali pada Perspektif Moderat


Ahram.org

Krisis umat Islam karena fatwa tanpa ilmu dan sikap ektremisme.

 

Bangsa Arab kini sedang mengalami krisis akibat maraknya fatwa tanpa ilmu dan sikap ektremisme. Demikian diungkapkan Grand Shaikh Dr. Ahmad Tayib pada saat pembukaan konferensi internasional ke-23 (25/3), yang diselenggarakan Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Mesir.

Ia juga mengatakan, bahwa di Afrika dan Asia banyak ditemukan gerakan takfir, dimana banyak kejahatan dan pembunuhan dilakukan atas nama Islam dengan dalih jihad dan membasmi kafir. Hal itu diperparah dengan eksploitasi media yang cenderung menebarkan isu bahwa Islam merupakan agama penuh peperangan.

Menurut Shaikh, ektremisme dan pertumpahan darah sudah ada sejak munculnya Khawarij, sebagai golongan ekstrem pertama yang hanya mempersoalkan hal-hal lahiriyah dan meninggalkan hal-hal yang prinsip.

Hal ini kemudian diwariskan oleh golongan keras itu melalui buku-buku, hingga memunculkan pemikiran takfir selanjutnya, yang dimulai dengan adanya penyiksaan yang kejam pada tahun 60-an terhadap aktivis Islam.

Kelompok takfiri tersebut lahir di dalam penjara karena siksaan berat yang mereka terima. Sebagian mereka mendukung penguasa dan sebagian yang lain mengafirkan mereka lantaran dukungan terhadap pemerintah yang kafir.

Mereka kemudian menuntut agar keluar dari kekufuran. Dan, pada tahun 70-an mereka muncul sebagai antitesis dari siksaan yang mereka alami. Pemikiran mereka, lanjutnya, lahir pada masa-masa krisis di tahun 68-an yang diprakarsai oleh Jamaah Takfir wa Hijrah.

Melihat potret ini, Al Azhar sebagai duta dunia sepanjang masa, berusaha untuk tidak membedakan antara ajaran satu dengan yang lain. Tujuannya, untuk menghadapi kerusakan moral dan pemikiran takfiri.

“Kita tidak memiliki pilihan melainkan terus berusaha dengan sebenar-benarnya untuk menyatukan umat Islam guna melawan berbagai bahaya yang dihadapi oleh umat Islam sesuai kemaslahatan negara-negara Arab saat ini,” ungkap Grand Shaikh, seperti dikutip dari harian ahram.

Memerangi pemikiran takfiri merupakan satu-satunya cara bagi al-Azhar untuk mempersatukan umat dan bersinergi dengan ulama untuk melawan berbagai tantangan yang dihadapi.

Dalam kesempatan itu, Grand Shaikh juga menyerukan untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang moderat sebagaimana seruan  Al-Qur’an dan Sunnah, “Dan demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat yang moderat (pertengahan).”

Saat ini, pemikiran takfiri mulai muncul kembali di tangan para pemuda yang tidak mengetahui Islam secara dalam, dan hanya sebatas tahu namanya saja. Sehingga, apa yang mereka serukan, sejatinya merupakan sebuah tekanan dan paksaan, dan tidak berdasarkan pemikiran yang benar.

Grand Shaikh juga menegaskan, bahwa perbedaan antara akidah kaum takfiri dengan kelompok umat lainnya, merupakan hubungan amal dengan hakikat iman. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah dikatakan bahwa iman berarti membenarkan Allah, para rasul, kitab-kitab, dan para malaikat-Nya. Tidak boleh mengafirkan seorang muslim selagi di hatinya ia meyakini hal itu. Ini sangat berbeda dengan mereka yang mengaitkan amal dengan iman, sehingga para kaum takfiri itu mengafirkan seseorang yang melakukan dosa besar, dan menganggapnya bukan seorang muslim lagi.

Grand Shaikh meminta agar umat Islam mewaspadai maraknya propaganda terkait Islam. Juga, mengajak untuk kembali mengikuti mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.

“Menurut pendapat mayoritas ulama, orang yang melakukan dosa besar itu masih dikategorikan muslim, bukan kafir. Dan tidak boleh mengklaimnya keluar dari agama, kecuali apabila ia melakukan dosa besar seperti menyekutukan Allah, maka ia dihukumi kafir,” tegas Grand Shaikh seperti dikutip dari harian ahram.

 

Sumber: Ahram.org/ muslimedianews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *