Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 12 March 2016

AKHLAK – Kiat Menggapai Ikhlas


IMG_8337

Betapa mudahnya mengucapkan kata ikhlas maupun menganjurkan orang untuk ikhlas kala melakukan suatu perbuatan. Namun sebenarnya betapa susahnya mewujudkan ikhlas itu. Karena ikhlas artinya berbuat hanya untuk Allah seratus persen. Jika ada niatan dari amalan yang kita lakukkan sedikit saja untuk tujuan selain Allah, maka secara otomatis rusaklah amal kita.

Berbuat ikhlas artinya tidak mengharap apapun dari manusia; tidak pujian tidak pula imbalan. Andai amal kita dihina orang atau mendapat reaksi buruk, niscaya tidak akan merusakkan amal yang dilakukan. Pendeknya, ikhlas akan mendorong orang tetap berbuat kebaikan di tengah hujatan orang.

Maka sejatinya, hanya dengan pertolongan Allah saja kita dapat berbuat ikhlas, dan hanya orang-orang yang sudah sepenuhnya pasrah dan berserah kepada-Nya yang dapat menggapainya.

Dalam dunia tasawuf, orang dilarang mengandalkan amal kebaikannya sendiri di hadapan Allah, karena tidak ada jaminan amal baik itu akan Dia terima. Hanya dengan kebaikan dan kasih sayang Allah juga amal yang kita lakukan diterima oleh-Nya.

Namun, para ulama menganjurkan agar kita berlatih menggapai maqom ikhlas ini setiap waktu, setiap saat. Orang-orang shalih memberikan sejumlah kiat agar kita mampu menggapai kedudukan tinggi ini. Berikut empat kiat agar keihlasan menghiasi amal kita:

Pertama, memperhatikan sifat ilmu Allah dan kekuasaanNya

Jika kita mengetahui bahwa Allah Maha Tahu akan segala sesuatu dan berkuasa atas semua yang ada, maka kita tidak perlu takut kala melakukan suatu kebaikan. Karena tanpa berharap apa pun dari Allah apalagi dari makhluk, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan yang kita lakukan. Bukankah Allah tidak akan pernah membiarkan kebaikan tanpa balasan dan keburukan tanpa perhitungan?!

Al Quran menganjurkan agar kita berlepas diri dari kuasa makhluk dan hanya bergantung dan takut pada kuasa Allah. Jika kita perhatian kekuasaan Allah yang Maha Mutlak ini, niscaya kita hanya akan berbuat untuk-Nya dan tidak untuk selain-Nya.

Kuasa, rezeki dan kemuliaan hanya milik Allah semata. Tidaklah pantas jika orang mengharap kepada selain-Nya. Allah Maha Cemburu, kata para sufi. Jangan sampai kita berpaling dari Allah dan membuat Allah cemburu kepada kita.

Kedua, hanya berharap Keridhaan Allah

Orang ikhlas tujuannya hanya satu, keridhaan Allah semata. Tiada yang lain. Orang yang harapannya hanya Allah tidak akan terombang-ambing oleh apa pun. Tidak takut celaan orang. Tidak takut dalam kesendirian. Tidak akan berpaling walau banyak rintangan. Tidak akan menyesal dengan jalan yang dipilih. Tidak bersedih dengan acuhnya masyarakat. Tidak akan putus asa. Di jalan kebenaran, tidak ada urusan dengan pujian atau celaan. Banyak atau sedikit bukanlah ukuran. Karenanya, Al-Qur’an menyebutkan sedkit sekali para penjejak jalan kebenaran.

Ketiga, memperhatikan dengan seksama kasih sayang dan perhatian Allah

Manusia sejak lahir ke dunia bergantung total pada Penciptanya. Sejak bayi hingga dewasa dia tidak bisa lepas dari karunia Tuhan. Manusia tidak akan bisa berdiri sendiri terlepas dari sumber wujudnya, meski sedetik pun.

Dalam kandungan Allah sudah menyiapkan makanan hingga siap lahir ke dunia. Tatkala lahir, Allah sudah menyiapkan seorang ibu yang siap menyusui dan melayaninya siang dan malam nyaris tanpa jeda. Air susu ibu adalah makanan yang hanya cocok untuk bayi baru lahir, dan tatkala lahir air susu ibunyalah yang dia sukai. Kala dewasa, Allah sudah membekalinya dengan akal dan tubuh yang sempurna. Kondisi yang memungkinkan dirinya bertahan dan berjuang untuk hidup selanjutnya.

Lantas, apakah dengan semua pemberian ini manusia layak berharap kepada selain Allah? Dengan semua kasih sayang Allah itu pantaskah manusia berpaling kemudian menghamba kepada sesamanya atau mahluk lain yang kondisinya sama dengan dirinya? Sama sekali tidak. Manusia harus fokus berbuat untuk Pencipta dirinya, bukan mahkluk lain yang serupa dan setara dengan dirinya.

Keempat, fokus dengan kehendak Allah

Allah hanya menginginkan kebaikan bagi kita. Dia ingin kita menjadi hamba-Nya yang taat. Ketaatan kita karena pertolongan Allah jua. Dialah yang mengarahkan hati seseorang kepada kebaikan. Karena hati manusia di tangan Allah, Dialah pula yang membolak-balikan hati seseorang. Hidup matinya manusia juga di tangan Penciptanya. Tatkala kita meminta bantuan orang lain, kita pun minta kepada Allah agar hati orang yang kita mintai tolong menjadi lembut dan sudi menolong kita.

Nabi Ibrahim as, tatkala sendirian di padang pasir yang tandus untuk meletakkan batu pertama Ka`bah, beliau memohon kepada Allah agar supaya hati manusia mencintai keturunannya sebagai upah jerih payahnya. Dan sekarang, setelah melewati ribuan tahun, kini tiap tahun jutaan orang berhaji dan umrah, mengingat jasa Ibrahim dalam membangun Ka`bah. Dengan penuh cinta jutaan manusia melakukan ritual yang dilakukan oleh istri dan anaknya kala itu. Dan umat pun kini mencintai anak keturunan Ibrahim dari para nabi hingga Nabi Muhammad.

Fokuslah pada kehendak Allah. Selebihnya Allah sendiri yang akan membalas, dengan balasan terbaik-Nya. Tidak ada kebaikan menghilang tanpa balasan, sebagaimana tiada keburukan menguap tanpa perhitungan.

MA/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *