Satu Islam Untuk Semua

Monday, 08 February 2016

4 Modal Sinergi NU-Muhammadiyah ala Gus Mus


AsVexkbEcVOG1hqcWMQp_sTbdeSeI6aAvzp20N9e3Kyx4TM_-EE_cl6Kb5uYOofXTtbyAErmtx-N9XPmpZgxZ8GP9pWtWxOuWzdtzUrBiLEyEZ9AvGW0XhbND9jgAOdFnqlYKKggz0NF1NY=w512-h287-nc

Tokoh senior Nahdatul Ulama KH. Mustafa “Gus Mus” Bisri menyampaikan orasinya dalam sebuah seminar bertajuk “Sinergi NU dan Muhammadiyah Membangun Peradaban Rahmatan Lil Alamin” di Yogyakarta, Sabtu (6/2). Di hadapan ratusan peserta, Gus Mus memulai dengan mengenang seminar dengan tema yang sama semasa Gus Dur jadi Ketua PBNU dan Kiai Azhar Basyir sebagai Ketua Muhammadiyah. 

“Salah satu pembicara datang terlambat (salah satunya tidak sempat mendengar pembicara lainnya). Tapi dari apa yang disampaikan dari keduanya, termasuk marajinya (referensi), semuanya hampir sama. Peserta seminar sampai bingung, yang NU mana? Yang Muhammadiyah mana?” kata Eks Rais Am NU ini disambut tawa hadirin.

Bagi Gus Mus, sinergi NU dan Muhammadiyah telah ada sebelum kedua ormas besar itu lahir. Gus Mus kemudian menyorot sosok para pendiri kedua ormas, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari. Kedua tokoh ini ‘sepantaran’, katanya. Kiai Hasyim lebih mudah 7 tahun dari Kiai Dahlan. “Keduanya bukan hanya sama-sama ngabdi untuk Indonesia, tapi juga sama-sama ngaji di Hijaz yang sekarang (berganti nama menjadi) Saudi.”

Di Hijaz, lanjut alumnus Al Azhar Mesir ini, mereka sama-sama berguru ke salah satu ulama besar Sykeh Ahmad Khatib bin Abdul Latif Al Minagkabau As Syafi’i. Saat itu, tidak sedikit ulama Indonesia yang telah mengajar di Masjidil Haram. Salah satunya Sykeh Khatib dari Minangkabau. Dan murid-murid Syekh Khatib dari Indonesia kebanyakan menjadi tokoh masyarakat. “Di antara murid Syekh Khatib, yang paling menonjol ialah Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari,” katanya.

Di mata Gus Mus, kedalaman ilmu keislaman keduanya tercermin dari kepribadian hingga kiprah mereka. Meskipun yang satu berkiprah di kota dan yang satu di desa. Kelak, organisasi Kiai Dahlan kebanyakan di kota dan oraganisasi Kiai Hasyim kebanyakan di desa.

“Mereka sepertinya sudah janjian,” seloroh Gus Mus.

Adalah wajar, lanjut Gus Mus, jika kedua ormas yang berdiri sebelum proklamasi kemerdekaan ini memiliki modal untuk bersinergi. Modal yang pertama, kata Gus Mus, ialah kedua pendiri ormas ini memiliki sejarah tradisi pendalaman ilmu keislaman.

Kedua tokoh ini, memiliki sanad ilmu yang dapat dipertanggunjawabkan dari guru ke guru hingga sahabat dan akhirnya bermuara dari Rasulullah saw. Keduanya, kata Gus Mus, jika menyampaikan ilmu seperti ilmu hadis dapat mempertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Biasanya kalau muballig pada umumnya, dengan enteng saja mereka mengatakan; Rasulullah Saw telah bersabda, ‘sesungguhnya setiap pekerjaan itu bergantung pada niatnya’. Seolah-olah, Rasulullah itu tetangganya,” katanya yang lagi-lagi disambut tawa oleh hadirin.

Bagi ulama kelahiran Rembang ini, pertanggungjawaban ilmiah sebuah hadist sangat penting mengingat Rasulullah pernah bersabda barang siapa yang mengatakan ini kata Rasullulah padahal bukan, maka ia dipersilahkan ke nereka.

“Apakah kedua ormas ini masih mengembangkan tradisi keilmuan seperti ini atau tidak? wallahu a’lam”

Modal kedua dari kedua pendiri ormas ini, lanjut pria 71 tahun ini, ialah mereka berdua tidak ‘kagetan’ dengan adanya perbedaan. “Mengapa tidak kagetan? Karena ilmu keislamannya ‘menyamudra’. Ada Ahmadiyah, tidak kaget, ada ini tidak kaget, ada itu tidak kaget.  Tidak seperti kita ini…, sedikit-sedikit kaget. Yang bikin cepat mati, ya itu,” kata Gus Mus yang kembali mengundang tawa para hadirin.

Selanjutnya, menurut Gus Mus, ialah modal kecintaan mereka pada Ibu Pertiwi.  Argumen mereka berdua sederhana, “Indonesia adalah rumahku,” kata Gus Mus. “Jika NU dan Muhammadiyah diajari kebangsaan, sama saja menggarami air laut. Lah, itukan rumah mereka.”

Bagi pria berambut putih ini, ada benarnya seorang sejarawan yang mengatakan; jika NU dan Muhammadiyah tidak ada, Indonesia tidak akan ada. Gus Mus memberi contoh perjuangan tokoh Muhammadiyah yang juga ia kagumi, Kiai Mas Mansur yang membuat media Suara Santri. Di NU, ada Kiai Mahfudz siddiq yang membuat Suara NU.

Jika diperhatikan sejarahnya, lanjut Gus Mus, isi media keduanya ialah tentang keindonesiaan. Maka tak heran, banyak tokoh nasional yang lahir sejak pra kemerdekaan dari NU dan Muhammadiyah, katanya. “Itulah mengapa dikatakan NU dan Muhammadiyah merupakan tonggak NKRI.”

Modal yang terkahir, lanjut jebolan Pondok Krapyak ini, ialah keduanya memiliki ruh dakwah (semangat mengajak). Menurut Gus Mus, kedua pendiri ormas ini mengikuti jejak dakwah damai Rasulullah. Gus Mus lalu bercerita tentang bagaimana orang-orang di Thaif menyakiti utusan Allah itu hanya karena tidak mau diajak sang nabi.

“Kalau diajak dan tidak mau, ya sudah, ko’ melempar? Sedemikian jahatnya (orang-orang Thaif itu), sampai menurut riwayat, malaikat juga gregetan,” katanya.

Tapi nabi yang mulia itu, kata Gus Mus, menolak usulan malaikat yang ingin membalas mereka dengan azab.  “Saya diutus untuk mengajak,” kata Gus Mus mengutip sabda Nabi. Bahkan penutup para nabi itu mendokan mereka yang melemparinya, “Ya Allah berilah petunjuk kepada mereka karena mereka tidak mengetahui.”

Bagi Gus Mus, ini adalah doa orang yang memiliki ruh dakwah. Ruh dakwah ini dicontoh oleh para Wali Songo yang kelak juga diikuti oleh keturunannya, Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari.

“Saya tidak tertarik pada kisah keanehan-keanehan para wali itu. Tapi yang saya tertarik dari mereka adalah ruh dakwah. Karena ruh dakwah inilah, kita bisa menjadi pengikut ajaran Rasulullah,” kata Gus Mus yang disambut tepuk tangan dan gema salawat.[]

 

Edy/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *