Satu Islam Untuk Semua

Friday, 21 February 2014

1400 Tahun Sudah Islam Didera Perpecahan Sunni-Syiah


Al-Monitor.com

Perang di Suriah yang demikian mengiris nurani manusia sebenarnya dimulai jauh lebih awal daripada yang dikira secara umum. Konflik itu sebenarnya berawal sejak 632 M, saat Rasulullah Nabi Muhammad  Saw. wafat. Demikian juga kekerasan yang saat ini mencengkeram dunia Muslim yang merentang dari Irak dan Iran , bahkan Mesir, Bahrain dan Arab Saudi hingga ke Yaman, Pakistan, dan Afghanistan.

Masalah tunggal di balik semua konflik itu adalah perpecahan umat. Menteri Senior Urusan Kepercayaan dan Komunitas Inggris, Baroness Sayeeda Warsi mengatakan hal tersebut dalam sambutannya di Oman, negara di Semenanjung Arab yang lokasinya tepat berhadapan dengan Teluk Persia. Menurut Warsi, toleransi beragama di Kesultanan Oman hendaknya menjadi model bagi seluruh dunia Islam.

Sebagian konflik di dunia muslim terjadi karena pertentangan kelompok Sunni di satu pihak dengan kelompok Syiah di pihak lain. Dalam hal ini, Oman merupakan perkecualian karena warga Sunni dan Syiah di negara itu sangat kecil jumlahnya dibandung kelompok Ibadi, yang mencapai lebih dari 50% penduduk. Di banyak negara Muslim lain di Timur Tengah, jumlah Sunni dan Syiah saat ini relatif berimbang.

Perselisihan di antara dua kelompok besar dalam Islam itu terjadi seolah ada garis gempa tektonik sepanjang apa yang dinamakan Bulan Sabit Syiah, merentang dari kawasan Lebanon di Utara meliuk melalui Suriah dan Irak hingga ke Teluk Persia, ke Iran lalu lebih jauh ke arah Timur.

Pertentangan Sunni-Syiah merupakan pertentangan tertua di Timur Tengah—dan semakin memuncak akhir-akhir ini di kawasan konflik tersebut, saat ribuan pengikut kedua kelompok itu berbondong-bondong ke Suriah. Para sukarelawan jihadis Al-Qaidah di pihak Sunni dan militan Hisbullah di pihak Syiah semua bergabung dalam apa yang kemudian dianggap sebagai perang trans-nasional di antara kedua kelompok tersebut.

Dari sekitar 1,5 miliar Muslim di dunia, 10 hingga 20%-nya adalah kaum Syiah. Di sebagian negara, kaum Syiah merupakan minoritas di daerah mayoritas Sunnia. Namun di Irak, Iran, Bahrain, dan Azerbaijan, jumlah mereka mayoritas.

Yang membuat Suriah berbeda adalah bahwa di negara itu terdapat mayoritas Sunni yang diperintah oleh minoritas Syiah. Alawiyah, yang merupakan kelompok Presiden Bashar al-Assad dan sebagian besar elit militernya, adalah salah satu cabang Syiah. Situasi ini berlawanan dengan yang terjadi di Irak saat di bawah Saddam Hussein, di mana seorang penguasa Sunni yang kuat memerintah mayoritas Syiah, sampai invasi Amerika Serikat atas negara itu. Pemilu di Irak selanjutnya menempatkan kalangan Syiah bertanggung jawab atas negara yang hingga kini masih kaotik itu.

Perpecahan antara Sunni-Syiah di dunia Islam lebih tua dan lebih mendalam ketimbang ketegangan yang terjadi antara kaum Protestan dan Katolik. Dua kelompom dalam agama Kristen itu telah berbagi sejarah kebersamaan selama 1500 tahun. Sebaliknya, perselisihan dua kelompok dalam Islam, Sunni-Syiah, lahir sejak masa yang sangat awal, yaitu berpangkal pada perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak memimpin komunitas Islam yang ketika itu baru tumbuh, setelah Rasulullah Saw. wafat pada abad ke-7.

Dalam masa 10 tahun terakhir hidup beliau, Rasululllah berhasil menyatukan suku-suku pagan Mekah dan dengan demikian menyatukan Semenanjung Arab. Sekitar 100.000 warga tunduk pada ajaran Allah Swt. yang dibawa Muhammad Saw. Seringkali suksesi kepemimpinan akan diserahkan kepada putera mahkota. Namun Nabi tidak memiliki putra, hanya seorang putri. Dan warisannya mencakup aspek spiritual sekaligus politis.
Mayoritas pengikut Nabi waktu itu berpendapat, sahabat dekat beliau Abu Bakar Ra., adalah yang paling berhak meneruskan kepemimpinan Nabi. Mereka inilah yang kemudian menjadi kelompok Sunni. Namun segolongan pengikut yang lain berpendapat sepupu yang sekaligus menantu Nabi, Ali Bin Abi Thalib, lebih berhak meneruskan tampuk kepemimpinan.

Syiah atau Shia merupakan singkatan dari Shiat Ali, “partai Ali”. Berbagai ketegangan yang menyusul setelah perbedaan pendapat itu, menjadi benih-benih perpecahan.

Kedua pihak sama-sama meyakini Al-Quran, namun memiliki perbedaan dalam menerima sejumlah Hadis. Perbedaan tradisi ritual keagamaan dan ibadah pun mulai muncul. Hierarki pemimpin agama, yang dipuncaki oleh para imam atau ayatullah, menjadi sesuatu yang krusial di kalangan Syiah. Sebaliknya, kalangan Sunni merasa tak memerlukan perantara dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Kaum Sunni juga makin menggantungkan konsep kemasyarakatan mereka pada sistem negara.

Perayaan utama kaum Syiah adalah Asyura, peringatan atas gugurnya cucu Nabi, Hussein Bin Ali, di Padang Karbala pada 980. Berbagai cabang Syiah pun bermunculan, antara lain Alawiyah di Suriah, juga Ismaili pimpinan Aga Khan. Beberapa gerakan sufi menjadi jembatan di antara Sunni dan Syiah, namun Sunni garis keras menganggap praktik kaum Syiah memuliakan orang suci dan tempat-tempat suci sebagai ajaran sesat.—itulah rupanya alasan kelompok Sunni garis keras mengebom kaum Syiah yang berziarah ke tempat-tempat seperti Karbala di Irak.

Bagaimanapun, di sebagian besar masa 1400 tahun sejak wafatnya Nabi itu, mayoritas Muslim Sunni dan  Syiah tidak juga membiarkan perbedaan mereka berkembang menjadi kebencian. Secara garis besar sebenarnya kedua kelompok itu mampu hidup berdampingan secara damai.

Bagaimanapun dari waktu ke waktu, kekerasan terjadi di mana kaum Syiah, terutama, menjadi korban pembantaian. Pada 1514 seorang sultan Ottoman memerintahkan pembunuhan 40.000 warga Syiah. Kaisar Mughal di India yang berkuasa antara abad 15-19 secara rutin mengeksekusi para ulama Syiah, membakar perpustakaan mereka dan menghancurkan tempat-tempat suci mereka. Kekerasan antar komunitas pun kini kembali merebak di Pakistan.

Juga dari waktu ke waktu muncul suasana dan masa-masa kerukunan. Pada 1959, pusat kajian Sunni paling berpengaruh, Universitas Al-Azhar di Mesir, memasukkan Fiqih Syiah ke dalam kurikulum mereka. Di Azerbaijan, di mana kaum Syiah merupakan mayoritas, terdapat masjid-masjid tempat kedua kelompok shalat secara bersama-sama. Namun di awal abad ke-20, keluarga kerajaan Arab Saudi menerapkan kebijakan diskriminasi terhadap warga Syiah, di sampoing melakukan penghancuran sejumlah kawasan suci penganut Syiah. Dengan kelahiran fundamentalisme Sunni seperti kelompok Wahhabi, sejumlah pembatasan yang keras diberlakukan bagi praktik-praktik ibadah Syiah, para pemimpinnya dipenjarakan, dan Syiah dianggap sebagai aliran sesat “yang lebih buruk dari Kristen dan Yahudi.”

Kalangan fanatik Al-Qaidah tumbuh subur dalam ideologi Wahhabi ini. Sebagian dari mereka bukan hanya menganggap kaum Syiah sesat, melainkan murtad. Dan hukuman bagi kemurtadan tak lain adalah kematian.

Selama bertahun-tahun, perpecahan ini telah dimanfaatkan oleh pihak di lIrak pada 1920 untuk menumpas pemberontakan Kaum Syiah. Ini kemudian memberi jalan bagi kekuasaan Saddam Hussein yang berasal dari minoritas Sunni di Irak, di mana dalam prosesnya sejumlah ulama Syiah dihukum mati. Tercatat sebagian besar dari 6000 korban jiwa di Baghdad tahun lalu merupakan korban kekerasan antara Sunni dan Syiah.

Beberapa tahun belakangan ini, dua perkembangan utama yang meningkatkan ketegangan antara Sunni-Syiah adalah Revolusi Islam Iran 1979 di mana kekuasaan Shah Iran yang pro Barat digantikan oleh teokrasi Syiah dengan Ayatullah Khomeini sebagai pimpinannya. Ayatullah Khomeini berhasil membangun hubungan baik antara Sunni dan Syiah di Iran namun pemimpin lain, baik pemimpin agama maupun pemimpin pemerintahan, tampak memiliki pemihakan masing-masing. Dan di era Ayatullah Khomeini pula permusuhan dengan kalangan bangsawan Sunni Arab Saudi bermula, ketika pemimpin Iran itu menyebut mereka sebagai antek Amerika dan diktator yang “korup dan tidak populer”.

Sekarang ini di Iran, meski gereja Kristen disikapi dengan toleransi, jutaan Sunni di Teheran tidak memiliki masjid mereka sendiri. Tak ada warga Sunni memiliki jabatan tinggi di pemerintahan. Pengusaha Sunni merasa mendapat kesulitan memperoleh izin import atau eksport. Banyak di antara para pengangguran di Iran adalah Sunni.  Di Saudi Arabia sebaliknya yang terjadi, dengan kaum Syiah berada dalam tekanan diskriminasi.

Dari waktu ke waktu ada upaya untuk menyatakan bahwa ketegangan antara Iran dan Arab Saudi bukanlah karena konflik agama. Pada 2007 Raja Abdullah bertemu Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan, dengan berpelukan di hadapan publik, membicarakan persoalan-persoalan regional—dan mengecam pihak-pihak yang berupaya memanas-manasi konflik Sunni-Syiah.

Bagaimanapun hal itu tak mengubah realitas politik. Masing-masing produsen minyak raksasa itu melihat satu sama lain sebagai penghalang kepentingan nasional mereka. Kenyataan konflik yang ada memang geopolitis, namun pandangan agama mau tak mau menjadi emblem yang menempel pada masing-masing pihak.

Invasi Irak yang dilakukan George Bush dan Tony Blair pada 2003 merupakan faktor penting kedua dalam kemerosotan hubungan Sunni-Syiah. Saddam Hussein memimpin elit Sunni yang memerintah mayoritas Syiah dengan cara-cara teror. Amerika telah mendukung Saddam dalam perang Irak-Iran pada 1980-an, di mana setengah juta serdadu tewas.

Namun setelah 9/11 Amerika berubah pikiran tentang Saddam, menggulingkan diktator itu dan menghadirkan demokrasi di Irak. Hasil pemilu mengukuhkan penguasa Syiah yang memang mayoritas, namun yang kebijakannya mengucilkan minoritas Sunni (yang kemudian menanggapi dengan bom modil menewaskan ribuan korban di Baghdad dan kota-kota lain). Kelompok jihadis Al-Qaida pun menyerbu Irak untuk bergabung dengan kelompok teroris Sunni dalam menyerang pemerintah Syiah. Kini konflik sektarian itu pun meluber ke Suriah.

Saat fenomena “Musim Semi Arab” mencapai Suriah pada 2011, awalnya ia muncul sebagai protes rakyat atas korupsi, nepotisme dan pelanggaran hak asasi manusiaoleh rezim Assad. Namun hanya dalam dua tahun perlawanan bersenjata itu berubah.

Pemberontak yang semula dimotivasi secara politis dan mendapat dukungan terbatas dari Barat, jadi terkalahkan oleh kelompok pemberontak ekstremis Islam yang bermaksud mendirikan apa yang mereka sebut Negara Islam Irak dan Suriah atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Kaum jihadis ini berdatangan dari berbagai negara dan didukung dana Arab Saudi. Belakangan militan Syiah dari Lebanon mulai ikut campur mendukung pasukan Assad yang berasal dari kalangan Alawiyah. Perang saudara pun meledak hingga tingkat maksimum.

Maka kaum Sunni dan Syiah pun terkunci dalam konflik di seluruh kawasan Bulan Sabit Syiah. Setiap kali satu pihak terlihat melakukan gerakan, pihak lain merasa terancam dan bereaksi lebih keras.

Sebagai hasilnya, ketegangan Sunni-Syiah pun meningkat di sleuruh penjuru dunia: di Afghanistan, Pakistan, Turki, Kuwait, Lebanon, Bahrain, Libya, Tunisia, Malaysia, Mesir, dan bahkan di London, isu-isu identitas, hak asasi, dan lain-lain memiliki unsur sektarian.

Ketegangan ini sebenarnya memang juga berakar dari masalah-masalah ekonomi dan geopolitik. Namun risikonya, bila menilik sejarah panjang konflik tua ini, perang saudara Sunni-Syiah yang sudah melangkaui batas-batas negara dan bangsa ini bisa menjadi sebuah ramalan yang jadi kenyataan. [The Independent]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *