Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 22 November 2018

Analisis – Trilogi Saudi-Wahhabi-Amerika di mata Buya Syafii Maarif (Bagian 5)


buya-syafii-maarif 5

islamindonesia.id – Trilogi Saudi-Wahhabi-Amerika di mata Buya Syafii Maarif (Bagian 5)

 

Pada artikel ke-5 ini, penulis masih akan melanjutkan pemaparan artikel yang dibuat oleh Dr. Abdullah Mohammad Sindi, seorang pakar politik dan hubungan internasional kelahiran Mekkah yang menurut Buya Syafii isinya sangat mendasar, tajam, dan argumentatif, dan oleh beliau disarankan dan ditekankan untuk dibaca agar kita dapat lebih memahami tentang Arab Saudi.

 

Arab Saudi pasca Imam Abdulaziz bin Saud

Setelah kematian Imam/Raja Abdulaziz pada tahun 1953, semua putra yang menggantikannya (Saud, Faisal, Khalid, dan Fahad) juga sama-sama menjadi diktator brutal. Mereka juga meneruskan ketergantungannya yang sangat besar kepada musuh-musuh Islam dan Arab, yakni Barat, untuk perlindungan. Dan sejak Amerika Serikat (AS) menggantikan Inggris – dalam Perang Dunia II – sebagai kekuatan yang dominan di dunia Arab, Keluarga Wahhabi-Saud tanpa malu-malu menyerahkan Arab Saudi (tanah suci Islam) kepada musuh-musuh Islam dan membuatnya menjadi koloni virtual Amerika.

Tidak seperti ayah mereka, putra-putra Abdulaziz melepaskan gelar “Imam,” dan mereka lebih suka disebut sebagai “Raja” saja. Tapi pada akhir tahun 1986, Raja Arab Saudi saat ini (artikel ini ditulis oleh Dr. Abdullah Mohammad Sindi pada Januari 2004 – pen), Fahad (seorang playboy manja di masa mudanya), melepaskan baik gelar “Imam” maupun “Raja.” Dia lebih suka mengambil gelar sebagai “penjaga dua tempat tersuci” Mekkah dan Madinah, sebuah gelar yang pada awalnya digunakan oleh Sultan Dinasti Ustmaniyah, Selim I (berkuasa pada 1512-1520).

Setelah Arab Saudi menikmati kekayaan yang sangat besar dari hasil penjualan minyak, dalam beberapa dekade terakhir Wahhabisme tidak hanya berhasil membungkam sebagian besar kritik, tetapi juga secara dramatis mereka berhasil meningkatkan citranya di seluruh dunia Muslim. Oleh karena itu, Wahhabisme kini menampilkan dirinya sebagai penggagas “gerakan reformis” yang ingin “memurnikan” kembali ajaran Islam. Bahkan, nama “Wahhabisme” sendiri dengan sengaja telah mereka tenggelamkan, dan menggantinya dengan nama-nama baru yang lebih dapat diterima seperti “Gerakan Salafi” (ajaran para pendahulu) dan “Muwahhedoon” (unitarian).

Selain itu, pendiri Wahhabi, Mohammad bin Abdul-Wahhab, dicitrakan sebagai “orang besar” yang memiliki karakter dan pengetahuan yang luar biasa, yang seorang diri telah “menyelamatkan” Islam dari “takhayul.” Dengan demikian, didukung petro-dolar, Wahhabisme dalam beberapa waktu terakhir mulai merayap keluar dari Arab Saudi ke wilayah Arab dan Muslim di sekitarnya dalam upaya sia-sia untuk menghapus stigma sebagai tren minoritas dalam Islam.

Sementara itu, Keluarga Saudi-Wahhabi gagal total dalam membela Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan Palestina dari pendudukan ilegal dan brutal Israel. Mereka juga secara terbuka telah melakukan pengkhianatan yang memalukan karena telah bekerjasama dengan musuh Islam dan Arab, bukan hanya karena telah menjajah tanah mereka di Afghanistan dan Irak, tetapi juga dengan mengizinkan musuh untuk menduduki tanah suci itu sendiri (pada saat Perang Teluk tahun 1990-1991, atas undangan Arab Saudi, AS menempatkan pangkalan militernya di sana-pen. Lebih lengkap tentang lokasi-lokasi pangkalan militer AS di Arab Saudi silakan lihat tautan ini: https://militarybases.com/overseas/saudi-arabia/), yang mana membuat semua upaya mereka untuk meningkatkan citra Wahhabisme menjadi tidak berharga dan sia-sia.

King Fahd Air Base, pangkalan militer Angkatan Udara AS di Dammam, Arab Saudi. Photo: militarybases.com

King Fahd Air Base, pangkalan militer Angkatan Udara AS di Dammam, Arab Saudi. Photo: militarybases.com

Bertentangan dengan propaganda media Amerika saat ini setelah serangan teroris 11 September 2001, AS malahan masih sangat mendukung Keluarga Wahhabi-Saud. Bahkan, Wahhabisme telah menuruti perintah Amerika dengan mengubah kurikulum Islam di Saudi dan mengubah makna Jihad (menjadi “perang suci”) untuk membuat senang Washington. Kenyataannya, Keluarga Saud dan para pemimpin Wahhabi sama dibencinya oleh sebagian besar Muslim sebagaimana AS itu sendiri. Serangan teroris oleh fundamentalis Muslim Saudi (beberapa di antaranya terhubung dengan al-Qaeda dan Osama Bin Laden) di dalam Arab Saudi yang bertujuan untuk mendestabilisasi Wahhabi-Saud telah benar-benar meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Faktanya, musuh-musuh Islam dan Arab, yaitu Israel dan AS, takut dan membenci Syiah (Iran dan Hizbullah) lebih dari sekte manapun dalam Islam yang lainnya, yang mana oleh sebagian besar umat Islam dianggap sebagai suatu kehormatan bagi Syiah, tidak seperti Wahhabisme yang secara memalukan telah gagal untuk memperolehnya (kehormatan).

Bersambung ke: Bagian 6

Sebelumnya: Bagian 4

 

PH/IslamIndonesia/Photo Fitur: Tempo/Iqbal Lubis

 

One response to “Analisis – Trilogi Saudi-Wahhabi-Amerika di mata Buya Syafii Maarif (Bagian 5)”

  1. toti says:

    Lucu sih klo logikanya kyak gitu, ulama Wahabi juga byk yg menentang Amerika di Saudi, tapi apa ulama yg menentang itu didengarkan oleh pemerintahan Saudi ?. Klo logikanya pukul rata bgtu, gimn dgn bbrp tokoh NU yg ingin punya hubungan diplomatik dgn Israel, trus ada org ngomong OH TERNYATA NU MENDUKUNG ISRAEL…, tentunya ada juga ulama NU yg menentang hub dgn Israel, ada juga misal MUI melarang perayaan tahun baru, tpi ternyata perayaan tahun baru tetap meriah di Indonesia,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *