Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 15 December 2018

Analisis – Senat AS Menentang Dukungan Donald Trump terhadap Perang Yaman dan MbS


Senat Amerika Resolusi Perang

islamindonesia.id – Senat AS Menentang Dukungan Donald Trump terhadap Perang Yaman dan MbS

 

Senat Amerika Serikat (AS) pada Kamis (13/12) telah mengeluarkan resolusi yang menyerukan untuk mengakhiri dukungan militer AS kepada koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang Yaman, dan menegaskan hak Kongres untuk memutuskan masalah perang dan damai, sebagaimana dilansir dari The Guardian.

Hasil akhir dari voting adalah 56 berbanding 41. Hal ini baru terjadi lagi dari sejak tahun 1973 saat senat mengeluarkan resolusi tentang perang yang menentang sikap presiden AS pada waktu itu yang menginginkan konflik bersenjata.

Hal ini juga menjadi sebuah sinyalemen yang menyatakan bahwa di dalam tubuh Senat terdapat dua kubu yang cukup seimbang, yang mana salah satunya secara signifikan berhasil melakukan lobi untuk menentang kebijakan pemerintahan Donald Trump. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa sebagian orang-orang yang tadinya pendukung Trump, dalam konteks ini sama-sama menentang kebijakannya mengenai perang (politik bipartisan).

Senator independen Bernie Sanders yang secara konsisten sepanjang tahun ini terus menyerukan untuk mengeluarkan resolusi, menyebut peristiwa ini sebagai “momen bersejarah”.

Dia mengatakan, “Hari ini kami mendeklarasikan kami tidak akan lagi berpartisipasi dalam intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di muka bumi, dengan 85.000 anak-anak yang mati kelaparan. Hari ini kita menyampaikan kepada rezim despotik di Arab Saudi bahwa kita tidak akan lagi menjadi bagian dari petualangan militer mereka.”

Sanders melanjutkan: “The War Powers Act disahkan 45 tahun yang lalu. Hari ini untuk pertama kalinya kita akan maju menggunakan undang-undang itu, dan memberi tahu presiden Amerika Serikat bahwa tanggung jawab konstitusional untuk berperang bergantung kepada Kongres Amerika Serikat, bukan Gedung Putih. ”

Namun demikian, resolusi ini masih akan menghadapi hambatan yang cukup serius untuk dapat dijadikan sebagai hukum yang berlaku. Dewan Perwakilan Rakyat AS, yang masih dikuasai oleh orang-orang dari Partai Republik (partai pendukung Trump) selama kurang lebih satu bulan lagi, tampaknya tidak akan mendukung resolusi ini.

Partai Demokrat (partai oposisi pemerintah) berdasarkan hasil pemilihan akan mengambil alih kekuasaan di DPR pada bulan depan, tetapi proses pengajuan legislatif terhadap resolusi ini harus sudah dimulai. Kemungkinan lainnya adalah, Trump dapat memveto resolusi ini, yang mana dibutuhkan dua per tiga suara di kedua lembaga ini (Senat dan DPR) untuk dapat menggugurkannya.

Tetapi bagaimanapun, keluarnya resolusi bipartisan ini merupakan sebuah isyarat simbolis yang mencerminkan kurangnya kepercayaan parlemen terhadap kebijakan Trump mengenai Yaman dan Arab Saudi, dan khususnya dukungan pribadinya terhadap Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman (MbS).

Lindsey Graham, seorang senator dari Partai Republik bahkan mengatakan, “Putra Mahkota MbS, adalah seorang wrecking ball (perumpamaan, wrecking ball adalah bola penghancur yang sangat berat, terbuat dari besi, digunakan dengan cara diayunkan untuk menghancurkan gedung-gedung tua-red). Saya pikir dia gila. Saya pikir dia berbahaya,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari BBC pada Jumat (14/12).

Sebelum dikeluarkan, resolusi ini sempat diamandemen demi memperjelas bahwa kegiatan pengisian bahan bakar pesawat koalisi Saudi di udara dari pesawat tangki AS adalah sebuah bentuk partisipasi  dalam perang Yaman.

Amandemen lainnya menyatakan secara eksplisit bahwa resolusi itu tidak akan mempengaruhi operasi militer AS bersama dengan Israel. Hal itu dilakukan demi meyakinkan beberapa senator Republik yang khawatir bahwa resolusi itu nantinya akan memiliki konsekuensi yang tak terduga untuk aliansi lainnya.

Meskipun pembunuhan kolumnis Washington Post Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul tidak disebutkan dalam resolusi Yaman, namun hal ini tetap membuat opini dari para senator tentang Riyadh dan MbS memburuk.

Segera setelah resolusi Yaman dikeluarkan, dengan suara bulat Senat mendukung resolusi lainnya yang menyatakan bahwa MbS bertanggungjawab atas pembunuhan Jamal Khashoggi, sebuah kesimpulan yang sulit disangkal oleh pemerintahan Trump.

Selain itu, dilansir dari TRT World, sebelumnya diberitakan bahwa hampir 60 persen rakyat AS menyatakan bahwa pemerintah AS kurang tegas terhadap Saudi terkait dengan pembunuhan Khashoggi.

 

PH/IslamIndonesia/Photo: Mark Wilson/Getty Images/AFP

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *