Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 27 August 2016

ANALISIS–Menimbang “Revolusi” Kebudayaan; A Tribute to Rendra


6a0342c0fb0a14982ecb3ecac31cb6b2_w725

Islamindonesia.id–Menimbang “Revolusi” Kebudayaan
Sejujur-jujurnya, perkembangan kebudayaan itu ada. Tetapi, ke arah mana? Jawabnya bisa macam-macam. Dari pengamatan sederhana, kita dapat melihat adanya perkembangan ke arah peniruan yang destruktif ketimbang penciptaan yang konstruktif. Misalnya, mana mungkin tiga puluh atau dua puluh tahun lalu kita dapat membayangkan sebuah seminar membahas-tuntas perkara homoseksualitas. Di era itu nyaris mustahil ada orang yang terang-terangan menyatakan diri sebagai gay, apalagi membela diri sebagai orang yang normal dan layak dihormati seperti umumnya manusia lain.
Pada 1984, seorang siswa SMA menyebarkan hasil angket yang dilakukan anak-anak muda Dasakung ihwal perilaku seks di kalangan mahasiswa-mahasiswa Yogyakarta. Hasilnya: perilaku seks di kalangan mahasiswa kos-kosan itu rupanya cukup bebas. Betapa tidak, 62 persen dari 29 pasangan mengaku berkumpul kebo, bersebadan, berhubungan seks, atau “tidur” dengan kekasihnya 5 sampai 7 kali dalam sepekan. Sementara, penelitian yang lebih resmi, dengan izin Direktorat Sosial Politik setempat, menunjukkan: 233 dari 846 pasangan telah bersebadan sebelum menikah. Tanpa meneliti secara ilmiah pun, sebenarnya, tak sulit meraba “revolusi seks” di masyarakat kita. Terutama, bila kita melihat alat kontrasepsi, khususnya karet KB, yang bisa didapat di kios-kios rokok pinggir jalan.

Bahkan, sekarang ini kita harus rela menjawab pertanyaan anak-anak kita yang masih ingusan tentang apa itu kondom. Maklum, iklan kontrasepsi itu setiap malam muncul di layar televisi. Bahkan, di radio dan televisi—akibat HIV—kini para remaja selalu diingatkan oleh iklan layanan masyarakat tentang “keselamatan seks dengan kondom”. Sementara, iklan atau gambar yang dulu dinilai tabu pun semakin marak di media massa cetak dan elektronik. Tak pelak lagi, ada “perkembangan kebudayaan” dalam seks. Semuanya sekarang “jauh lebih terbuka”.
Apakah semua itu layak disyukuri atau diratapi, tentu tak perlu diputuskan di sini. Hanya, revolusi itu tak semata berkisar seputar urusan mesum atau syahwat. Tapi, juga berlangsung di berbagai sektor: jumlah pekerja wanita mengalami peningkatan dari dekade ke dekade. Peran wanita di sektor-sektor yang selama ini lebih didominasi lelaki semakin menguat. Meskipun, bisa jadi, masih belum seperti yang “seharusnya”. Toh, peningkatan jumlah wanita karir itu bisa mencapai puncak-puncak strategis di piramida lembaga swasta dan pemerintah serta organisasi-organisasi profesi. “Memang, ada semacam perubahan dalam masyarakat kita dalam memandang seks,” kata budayawan Goenawan Mohamad suatu ketika.
Lebih dari itu, keterbukaan yang berkaitan dengan perempuan, belakangan ini terasa meningkat pesat. Kesadaran feminisme, dengan berbagai variannya, semakin marak. “Ada kecenderungan, laki-laki sekarang ini semakin lemah, sementara kaum wanita dan androgini makin kuat,” ujar seorang seniman.
Namun, di tengah maraknya sikap “modern” ini, kita menemukan coretan-coretan liar alias grafiti di bus kota, tembok-tembok rumah, atau WC umum. Di samping itu, kita juga menyaksikan banyaknya jembatan penyeberangan yang sia-sia, telepon umum yang tak berfungsi, dan korupsi-kolusi-nepotisme-koncoisme, mulai dari pejabat tinggi, direktur bank, sampai mandor pasar, dan petugas parkir. Belum lagi munculnya fenomena penjiplakan karya orang lain secara massif, terutama di dunia maya. Orang-orang tertentu juga mudah menjadi dan diterima sebagai juru dakwah—sesuatu yang dulu nyaris tak terbayangkan.
Adakah semua itu bisa disebut sebuah revolusi kebudayaan? Atau malah itukah devolusi kebudayaan? Pertanyaan ini kita biarkan menggantung untuk sementara. Sebelumnya, tak ada salahnya kita bertanya: kenapa revolusi kebudayaan atau budaya disebut-sebut? Terus terang saja, ungkapan revolusi ini dilontarkan sekadar untuk mengimbangi gencarnya lontaran kata “revolusi mental” belakangan ini. Lebih dari itu, istilah revolusi kebudayaan muncul karena sebuah keragu-raguan: jangan-jangan, revolusi kebudayaanlah yang sesungguhnya diperlukan.
Soalnya, dengan asumsi kebudayaan mencakup banyak aspek kehidupan manusia, manakala revolusi kebudayaan dilakukan, maka revolusi lain otomatis akan terjadi. Apalagi, kebudayaan bertujuan ke arah sesuatu yang lebih baik. Katakanlah, pembentukan-diri (self-making). Paling tidak, kebudayaan yang memuat nilai positif akan mengantarkan individu ke jalan yang lebih baik.
Toh, kalaupun revolusi kebudayaan dilakukan, bukan berarti revolusi di bidang lain tak perlu dijalankan. Namun, dengan lebih dulu melongok ke wajah kebudayaan kita, yang lain sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih tepat-sasaran.
Rendra menilai bahwa sepanjang sejarah Indonesia modern, jangankan revolusi, reformasi kebudayaan pun sebenarnya tak pernah terjadi. “Yang ada hanyalah reformasi kekuasaan, di mana kekuasaan diatur dengan kekuasaan,” katanya. Dan itu, tak lain karena kebudayaan Jawa-Mataram masih terus berlangsung sampai sekarang. Bahkan, kebudayaan Jawa-Mataram sendiri nyaris tidak berkembang sampai sekarang. Apa yang dikenal sebagai hasil kebudayaan Jawa yang “bagus dan fantastis” itu tak lebih dari peninggalan zaman Kerajaan Demak.
“Inovasi dari rakyat ketika itu luar biasa,” kata Rendra. Si Burung Merak itu menyebut, inovasi di masa keemasan bangsa Jawa itu tak hanya terjadi di bidang kesusastraan, tapi juga dalam hal teknologi: perkapalan, makanan, arsitektur, dan teksil. Pada zaman itu, misalnya, ditemukan jenis-jenis makanan yang terbuat dari ketan. Mulai kue kelepon sampai berbagai jenis wajik. Pada zaman itu pula, karena pengaruh Cina, kapal-kapal Jawa mulai memiliki cadik. Begitu pula atap-atap rumah Jawa yang tadinya hanya berupa joglo, berubah jadi bentuk limasan. “Sehingga, rumah pun bisa diperlebar ke kiri dan ke kanan, hingga dikenal adanya gandok. Pendapa, yang tadinya hanya berupa gardu biasa, sebagaimana asalnya di India, jadi lebih lebar,” kata Rendra.
Lahirnya inovasi bangsa Jawa itu, kata Rendra selanjutnya, tak lain karena masuknya agama Islam, yang mengenalkan hukum Islam (fikih) yang berlaku bagi semua orang. Baik rakyat maupun raja, sama-sama tunduk kepada aturan tersebut. Segala sesuatu dicari ukurannya dalam hukum tersebut. “Eh, ini surat apa, ayat berapa,” kata Rendra berilustrasi. Sementara, hukum yang lebih tinggi dari raja itu tak pernah dikenal. Sebelumnya, “Yang ada hanyalah hukum raja,” kata Rendra. Dia menggambarkan bagaimana kosmologi orang Jawa yang menganggap alam sebagai bagian dirinya, bukan objek yang bisa diubah. Dengan begitu, “Reformasi yang terjadi pun hanya reformasi kekuasaan, di mana percaturan kekuasaan diatur oleh kekuasaan,” kata Rendra.
Sayang, masa “keemasan” bangsa Jawa itu pupus ketika Mataram berkuasa. Daulat raja kembali tumbuh. Birokrasi pemasung jadi canggih. Dan kreativitas masyarakat nyaris punah. Akibatnya, kebudayaan mandek. Dan itu, masih menurut Rendra, berlangsung sampai sekarang, setelah hampir 53 tahun Indonesia merdeka. Meskipun, kata Rendra lagi, semangat kreatif dan “sadar hukum” era Demak itu tidak sirna sama sekali. “Itu tersimpan dalam memori kolektif sebagian orang Jawa, khususnya kalangan pesantren,” kata Rendra.
Benarkah pandangan Rendra itu? Mungkin tak seluruhnya benar. Bisa jadi reformasi kebudayaan memang tidak pernah terjadi. Tapi, gejolak kebudayaan terus berlangsung dari masa ke masa. Lengkap dengan saling pengaruh dan kait-berkait antara satu dan lainnya. Sebut saja, Politik Etis. Rela tidak rela, Politik Etis telah banyak mempengaruhi nilai-nilai kebudayaan kita.
Lagi-lagi soal yang sama muncul: adakah terjadi reformasi kebudayaan? “Tidak ada,” kata Goenawan Mohamad. Terutama, bila reformasi itu menyangkut perubahan yang terencana, konseptual, dan seterusnya. Perubahan-perubahan nilai dan mobilitas sosial yang terjadi, tak lebih sebagai sebuah perlawanan terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Malah, dalam banyak hal, terjadi penurunan kualitas kebudayaan.
Misalnya, di sektor pendidikan yang merupakan unsur penting dalam pembudayaan. Kondisi carut-marut dalam pendidikan kita, mungkin, yang membuat kita terperosok dalam krisis panjang dan parah ini. Dan ujung-ujungnya, kehidupan pemikiran dan kesenianlah yang paling memprihatinkan.
So, apakah suatu revolusi kebudayaan itu bisa dilakukan? Jawabannya begini: Revolusi tidak bisa dilakukan bertahap-tahap, berbelok-belok, bercabang-cabang, betele-tele, berkelit-kelit, seincrit-incrit, setengah hati, dan maju mundur! Ia harus berlangsung radikal, cepat dan menyeluruh.

Tetapi, maukah (lebih tepatnya mungkinkah) kita secara bersama-sama meninggalkan masa lalu dan menuju ke masa depan itu? Lagi pula, masa depan macam apa yang mau kita tuju itu? Apakah yang kita maksud adalah seperti masyarakat Barat? Atau kembali jauh ke belakang, ke masa Demak, seperti yang digagas Rendra? Jawabannya, Anda dan kita semua yang pegang stir!

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *