Satu Islam Untuk Semua

Friday, 09 November 2018

ANALISIS – Khashoggi, Yaman dan Nasib Tanah Suci


jamal_khashoggi_10252018

islamindonesia.id – Khashoggi, Yaman dan Nasib Tanah Suci

 

 

 

Sudah lebih daripada sebulan dunia digegerkan oleh kasus hilangnya wartawan senior Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Tapi hingga kini, titik terang yang mengungkap kasus ini tak kunjung datang. Kabar yang tersiar, kolumnis harian The Washington Post ini dibunuh secara sadis oleh agen suruhan Kerajaan Saudi. Kabar ini makin santer diisukan hingga akhirnya dikonfimasi juga oleh Kerajaan. Yang lebih ironis, pembunuhan tersebut justru terjadi di dalam kantor Konsulat Saudi di Turki. Ini menunjukkan adanya upaya terencana dan sistematik, yang nyaris tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Kerajaan di dalamnya.

Banyak analisis bermunculan terkait dampak langsung maupun tidak langsung dari kasus tersebut terhadap situasi politik di tingkat internasional dan regional. Bila kita petakan, terdapat setidaknya dua arus isu utama yang muncul; pertama, dampak kasus tersebut terhadap kredibilitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan masa depan hubungannya dengan rezim Saudi, sekutu sekaligus mitra strategisnya. Negara yang mendapuk dirinya sebagai kampiun demokrasi dan hak asasi manusia di jagad ini pun merasa tercoreng namanya karena pembunuhan yang dilakukan oleh kolega dekatnya dianggap di luar kewajaran.

Kedua, pada level regional. Kasus tersebut telah menjadi isu seksi bagi Turki untuk mengubah skema permainannya di kawasan. Sebagaimana kita ketahui, hubungan antara Suadi dengan Turki dalam beberapa tahun belakangan tidaklah mulus. Terlebih pasca-Saudi dan sekutu regionalnya yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC), mengisolasi Qatar yang tidak lain sekutu dekat Turki. Dan terakhir, hubungan dua kekuatan kawasan ini makin memburuk ketika Amerika yang merupakan sekutu dekat Saudi memberikan sanksi ekonomi pada Turki, yang mengakibatkan Turki harus mengalami pelemahan mata uang yang sangat signifikan.

Dalam kerangka ini, Turki sangat peduli dan fokus pada kasus yang menimpa Khashoggi. Bisa jadi karena kasus ini terjadi di dalam negaranya, Turki merasa berkepentingan untuk memulihkan kewibawaan negaranya. Yang jelas secara strategis sangat terlihat bahwa kasus tewasnya Khashoggi menjadi kunci bagi Turki untuk menekan balik Saudi, termasuk Amerika.

Namun bagaimanapun, terlepas dari hiruk pikuk isu internasional terkait tewasnya Khashoggi, sebenarnya tekanan Turki kepada audi perlu diapresiasi. Karena selain Turki, praktis tidak ada negara Islam yang cukup peduli pada kasus tersebut, terlebih di Indonesia. Kasus ini dianggap seakan-akan sebagai kejadian biasa. Pemberitaan yang muncul pun hanya “meng-copy paste” perspektif media luar. Padahal, kasus Khashoggi dapat menjadi pintu masuk yang tepat bagi umat Islam untuk mengkoreksi kedudukan Kerajaan Saudi yang mendaku dirinya sebagai “khâdim al-haramaian” (pelayan dua kota suci): Mekkah dan Madinah.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Buya Syafii Maarif dalam salah satu kolomnya di harian umum Republika mengatakan, “Saya sudah agak lama berpikir bahwa Ka’bah, kiblat kaum Muslimin di Mekkah, dikawal oleh para tiran dengan dukungan ulama Wahabi. Siapa tahu kasus Khashoggi ini pada saatnya akan membongkar sisi kelam dari rezim yang berkedok sebagai “khâdim al-haramaian” (pelayan dua kota suci): Makkah dan Madinah, dua kota yang kini sedang berada di bawah cahaya kemewahan yang luar biasa.”

Lebih jauh Buya melanjutkan, “Ini masalah sangat besar karena menyangkut kelakuan penguasa dengan segala atribut mulia yang menempel pada dirinya. Umat muslimin sedunia wajib memahami semuanya ini dengan sikap sangat awas, tidak boleh tiarap. Ini nasib kiblat mereka yang dikunjungi jutaan orang sepanjang waktu.”

Apa yang sampaikan oleh Buya agaknya memang patut menjadi renungan kita. Memang secara strategis, kasus tersebut tidak berdampak langsung pada stabilitas nasional Indonesia ataupun umat Islam. Tapi bila ditelaah lebih jauh, kasus Khashoggi hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya sebenarnya terdapat banyak lagi jejak kejahatan Kerjajaan, khususnya ketika masa rezim Raja Salman bin Abdul Aziz dan anaknya Muhammad bin Salman (MBS).

Salah satu kasus yang berdampak sangat serius terhadap nasib jutaan orang adalah masalah Yaman. Praktis dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, negara muslim termiskin di jazirah Arab ini dibombardir oleh pasukan gabungan pimpinan Saudi. Bahkan, sejumlah negara adidaya seperti Amerika dan Inggris mendukung koalisi tersebut dengan data intelijen hingga pasokan senjata. Namun ironisnya, media massa dunia bungkam.

Alhasil, sejak awal tahun 2018, badan dunia untuk anak-anak (UNICEF) mengatakan lebih dari tiga juta anak lahir saat perang yang berkecamuk sejak tahun 2015. Mereka merasakan kekerasan, pengungsian, penyakit, kemiskinan, kekurangan gizi, dan kekurangan akses terhadap layanan dasar selama bertahun-tahun.

Baru-baru ini, atau pascamunculnya kasus Jamal Khashoggi, PBB mulai berani angkat suara dan menyatakan bencana kemanusiaan di Yaman terburuk dalam 100 tahun terakhir. Diperkirakan sekitar 14 juta manusia akan mengalami bencana kelaparan. Jumlah ini setara dengan separuh jumlah rakyat Yaman. Mereka hanya bisa mengharap bantuan luar negeri. Sedang bantuan itu tidak bisa disalurkan disebabkan akses ke wilayah tersebut diblokade oleh Saudi dan koalisinya. Untuk itu, PBB, Amerika dan Inggris sekarang bersama-sama menyeru upaya perdamaian antar kedua pihak yang bertikai.

Sikap Amerika dan sekutunya ini tentu cukup mengherankan. Alih-alih menyelamatkan muka Saudi, upaya mengalihkan isu dari kasus pembunuhan sadis terhadap Khashoggi ke masalah Yaman justru membongkar kedok kejahatan kerajaan Suadi dan koalisinya yang didukung oleh Amerika dan sekutunya.

Tapi terlepas dari itu, bagi umat Islam, persoalan ini harusnya dilihat lebih serius dari sekedar isu strategis atau keamanan. Karena menyangkut kredibilitas penjaga dua tanah suci mereka. Kita tentu sulit membayangkan bila ternyata tanah suci yang menjadi kiblat umat Islam sedunia diurus oleh sekelompok tiran yang sadis dan tidak mengenal belas kasihan.

Indonesia sebagai Negara Muslim terbesar di dunia, tentunya perlu memberi perhatian serius pada masalah ini. Dalam kerangka ini, Pemerintah dapat melakukan multi-track diplomacy dalam tiga aras; Pertama, mendukung Turki dalam upaya mengungkap kasus Khashogi secara terang benderang ke hadapan publik dunia; Kedua, mendorong resolusi PBB untuk penyelesaian masalah kemanusiaan di Yaman, serta mendorong terbentuknya tim pencari fakta terkait kemungkinan adanya tindak kejahatan perang di sana.

Ketiga, melalui para ulama, mendorong wacana kultural untuk mencari solusi tentang nasib Tanah Suci. Karena bagaimanapun, Mekkah dan Madinah bukan hanya milik Saudi, tapi juga kota suci seluruh umat Islam. Sebagaimana kita ketahui, bahwa selama ini atas nama pemurnian agama, sudah sangat banyak situs-situs bersejarah Islam yang dihancurkan oleh pemerintan Saudi. Digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit dan mall-mall mewah.

Mengutip kembali pernyataan Buya Ma’arif dalam kolomnya, “Saya tidak tahu bagaimana sikap Nabi Muhammad saw. menyaksikan perubahan yang dahsyat seperti ini pada saat agama akhir zaman ini semakin sunyi dari roh kenabian. Proses pembaratan besar-besaran begitu nyata sedang digulirkan dan digalakkan di sana. Saya khawatir hati penguasanya telah lama membeku dan membisu terhadap kebenaran, sedangkan ulamanya tidak paham peta.”

 

 

AL/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *