Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 27 October 2016

ANALISIS — Cak Nun: Firaun Unggul di Bawah Kendali International Firaun Corporation


cak-nun-firaun-unggul-di-bawah-kendali-international-firaun-corporation

islamindonesia.id — Cak Nun: Firaun Unggul di Bawah Kendali International Firaun Corporation

 

Melalui dialog-dialog cerdas para tokoh imajiner dalam tulisannya, Cak Nun sudah seringkali memotret dan menganalisa kondisi Indonesia bahkan bukan hanya dari apa yang tampak di permukaan, melainkan justru jauh ke dalam, ke akar-akar masalah yang biasanya jarang menjadi perhatian kebanyakan orang. Maka pisau analisa miliknya itu pun menjadi jauh lebih tajam daripada kebanyakan pisau analisa biasa yang kita punya.

Begitu pun ketika pentolan Kiai Kanjeng ini berbicara tentang apa yang dimaksud dengan kuasa konspirasi global yang mencengkeram dunia, atau tentang “tangan-tangan” yang tak tampak, tentang “para pelempar” mercon yang sesungguhnya di balik “boneka-boneka” lucu di atas pentas, lagi-lagi Cak Nun bertutur melalui lisan-lisan para tokoh rekaannya tersebut, seraya, jika kita boleh mengandaikan, melalui “lisannya sendiri” yang dalam lakon wayangan modernnya itu biasa diperankan si Mbah Markesot.

Dalam sebuah forum interaktif yang berlangsung secara sinambung di dunia pewayangan maya, Mbah Markesot menyampaikan pandangan tentang lebih utamanya mengalami kehidupan dibanding mempelajari kehidupan. Mungkin salah satu terjemahan maknanya adalah bahwa manusia tidak berbekal teori-teori ilmu dulu baru memasuki kehidupan, melainkan menjalani hidup dulu baru merumuskan teori-teori untuk sewaktu-waktu diperbantukan agar memperjelas atau memperdalam pengalaman hidup.

Bahwa setiap bayi berjuang untuk menggerakkan tubuhnya agar keluar dari Rahim Ibundanya ke dunia. Kemudian ia menangis dan memulai, atau meneruskan pekerjaannya sebagai makhluk hidup.

“Itu semua tergantung kesepakatan sejak tahap apa atau mana kehidupan dimulai. Apakah tatkala sperma memperjodohi ovum, atau ketika janin terjadi, atau saat tubuhnya mengalami kesempurnaan yang pertama sebagai bayi, atau dianggap bahwa mulainya kehidupan adalah saat kelahirannya ke dunia dari perut Ibundanya,” urai Mbah Sot, yang kemudian ditimpali tokoh wayang lain bernama Tarmihim.

“Tetapi pasti bahwa kehidupan tidak diawali dari kesadaran otak”, tambah Tarmihim, “apalagi kalau dikatakan bahwa hidup berawal dari Sekolah dan Pendidikan. Bahan-bahan di Sekolah memperkenalkan cara-cara untuk menyimpulkan berbagai hal dalam kehidupan. Akan tetapi hidup tidaklah berawal dari perumusan itu. Kehidupan sudah melewati waktu cukup lama sebelum kesadaran hadir men-support-nya. Tetumbuhan dan hewan bahkan menjalani kehidupan tanpa dikawal oleh kesadaran apapun. Kesadaran mereka berada di Tuhan, sehingga sejatinya Tuhan sendirilah yang bergerak, bersemai, berkembang, serta melakukan apapun pada atau melalui tetumbuhan dan hewan. Manusia agak berbeda sedikit….”.

“Manusia diciprati sangat sedikit kesadaran Tuhan, sehingga manusia mengalami kesadaran itu. Peristiwa pencipratan itu dilaksanakan dengan proses pengambilan jarak, antara manusia dengan Tuhan. Kemudian manusia mengalami kesadaran. Dengan kesadaran itu ia menemukan hidupnya, membacanya, merumuskannya, sambil terus menjalankannya. Dan pada tahap tertentu, manusia terpeleset untuk merasa dan meyakini bahwa itu adalah kesadarannya sendiri, bukan kesadaran Tuhan.”

“Manusia kemudian mendongakkan kepalanya, membusungkan dadanya, menyombongkan dirinya dengan menyimpulkan kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah makhluk yang memiliki kesadaran. Rasa memiliki kesadaran itu membuat manusia kemudian mendeskripsikannya, mencatatnya, membukukannya, memonumenkannya sebagai khazanah ilmu yang ia sangka itu adalah ilmu manusia. Ilmu manusia yang ia pikir merupakan produk dari kesadaran manusia.”

“Sehingga pada tahap berikutnya manusia juga berlaku seakan-akan ia telah menciptakan dirinya sendiri, melahirkan ilmu dan ideologi, menerapkannya menjadi kebudayaan, Negara, peradaban dan segala macam sistem perilaku yang memenuhi sejarahnya. Kemudian energi nafsu mendorong makhluk manusia-manusia itu untuk membangun kekuasaan atas segala sesuatu yang mereka pikir itu adalah milik mereka, berasal dari mereka, dan bertujuan sesuai dengan kemauannya. Di masa silam makhluk besar kepala semacam itu bernama Firaun: ia merasa dirinya pencipta dirinya sendiri, berkuasa atas dunia dan isinya, dan sejarah dikendalikan sesuai dengan kehendaknya.”

“Dua abad terakhir ini jumlah Firaun membengkak menjadi miliaran jumlahnya. Karena jumlahnya banyak, maka Firaun-Firaun saling bersaing, berkompetisi, dan pekerjaan kompetisi itu mereka sebut sebagai pekerjaan primer yang membuat sejarah berkembang ke arah kemajuan. Atau mereka bekerja sama, merangkulkan jaringan, sindikasi, konspirasi, pemusatan modal-modal ke-Firaun-an, dan sampai hari ini seluruh yang berlangsung di muka bumi ini dikendalikan oleh sejumlah kecil Firaun-Firaun unggul….”

Seger tidak tahan untuk tidak menginterupsi. “Jadi, Pakde, yang berlangsung di muka bumi ini pada hakikat maupun wujudnya adalah suatu kehidupan yang dikendalikan oleh semacam Sindikat atau Konsorsium Firaun-Firaun?”

Ndusin yang menjawab. “Boleh juga disebut Multi Firaun Enterprise, atau International Firaun Corporation. Yang memproduksi mainan anak-anak seperti Demokrasi, Games Timur-Barat Kiri-Kanan Sosialisme-Kapitalisme, Simulasi Liberalisme-Konservatisme-Pluralisme dan macam-macam lagi. Ada produksi robot Negara, State, Pembangunan, Kemajuan, yang diubah-ubah substansi dan aturan-aturan mainnya sesuai dengan keperluan Korporasi….”

***

Begitulah Cak Nun bertutur dan menganalisa tentang pernak-pernik kehidupan kita. Fakta sebenarnya bahwa sejatinya kita tak lagi punya yang namanya kemerdekaan, kebebasan, pun kemandirian sepenuhnya.

Mungkin boleh juga semacam itulah kita memandang jalan sunyi yang sengaja ditempuh Kiai Mbeling ini di belantara hiruk-pikuk kehidupan kita yang “rata-rata” dan “biasa-biasa saja”. Bahwa para tokoh seperti Tarmihim, Sundusin, Jitul, Seger dan kawan-kawannya itu sejatinya hanyalah boneka-boneka lucu yang ditampilkan budayawan nyentrik asal Jombang yang kini menetap di Yogya ini.

Boneka-boneka itu tak lebih dari mercon-mercon yang dilemparnya ke tengah masyarakat dan bangsa kita yang kebanyakan tuli dan buta, alias tak mampu membaca peta hidup yang sebenarnya.

Ihwal kenapa mercon-mercon mesti dilemparkan, tak lain agar setidaknya kita sekali-kali kaget,  lalu mulai melek dari tidur dan keterlenaan panjang di bawah kendali konspirasi global yang disebut penulis Slilit Sang Kiai ini sebagai International Firaun Corporation itu. Untuk kemudian bangkit merebut kembali kebebasan dan kemandirian sebagai hamba Tuhan yang sejak mula memang terlahir merdeka.

Pendek kata, sudah seharusnya kita tak menjadi Firaun atau bagian dari jejaring Firaun. Karena Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah-Nya, sebagai “Musa”.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *