Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 01 July 2018

Syekh Siti Jenar dalam Kitab Ulama Damaskus


Syekh Siti Jenar dalam Kitab Ulama Damaskus

islamindonesia.id – Syekh Siti Jenar dalam Kitab Ulama Damaskus

 

Bagi masyarakat Muslim di Tanah Air, khususnya di pulau Jawa, nama Syekh Siti Jenar sudah sedemikian akrab di telinga. Meski tak dapat dimungkiri, sosok wali yang satu ini kerap diselimuti kontroversi. Utamanya terkait ajaran-ajarannya yang dianggap di luar mainstream pada masanya.

Namun siapa sangka bahwa polemik ajaran Syekh Siti Jenar ternyata juga mendapatkan perhatian dari ulama asal Nablus.

Dalam kitab Risâlah ‘Abd al-Ghanî fî Hukm Syath al-Walî, karya seorang ulama besar dunia Islam yang hidup di peralihan abad ke-17 dan 18 M, yaitu Syekh ‘Abd al-Ghanî ibn Ismâ’îl al-Nâblusî al-Dimasyqî (dikenal dengan ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî, 1050—1143 H/ 1641—1731 M) termuat pandangannya terkait polemik masalah teosofi (tasawuf falsafi) dan pantheisme (wahdatul wujud) yang berkembang di Bumi Nusantara pada masa itu.

Al-Nâblusî terpanggil untuk turut serta menuangkan fatwa dan pandangannya terkait masalah pemikiran “wahdatul wujud” yang berkembang di Nusantara dan erat kaitannya dengan sosok dan ajaran Syekh Siti Jenar yang kontroversial.

Fatwa dan pandangan al-Nâblusî ini dituangkan dalam sebuah risalah yang kini manuskripnya tersimpan di Perpustakaan al-Zhâhiriyyah di Damaskus, Suriah, dengan nomor kode 4008. Risalah ini kemudian disunting (tahqîq) oleh Prof. Dr. ‘Abd al-Rahmân al-Badawî dan disisipkan bersama dalam bunga rampai pemikiran para sufi berjudul Syathahât al-Shûfiyyah yang diterbitkan Wikâlât al-Mathbû’ât di Kuwait (tanpa tahun). Oleh al-Badawî, risalah karangan al-Nâblusî ini kemudian diberi judul Risâlah li ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî fî Hukm Syath al-Walî.

Dalam lembar kolofon, al-Nâblusî mengatakan jika karyanya ini diselesaikan pada sore hari Jumat, 13 Sya’ban tahun 1139 Hijri (bertepatan dengan 4 April 1727 Masehi).

Al-Nâblusî menulis;

فرغ ما جرى به قلم الإمداد ورسمه في الطرس روح الاستعداد بصورة اسم عبد الغني في عشية نهار الجمعة الثالث عشر من شعبان لسنة تسع وثلاثين ومائة وألف

Sebenarnya, risalah ini ditulis oleh al-Nâblusî untuk mengembangkan dan melengkapi apa yang telah ditulis oleh guru beliau, yaitu Syekh Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690 M).

Al-Kûrânî, yang juga mahaguru ulama Nusantara di Haramain pada masa abad ke-16 M, atau generasi Syekh ‘Abd al-Ra’ûf ibn ‘Alî al-Jâwî (Abdul Rauf Singkel, w. 1693 M) dan Syekh Yûsuf al-Tâj al-Khalwatî (Yusuf Makassar, w. 1699 M), menulis sebuah risalah berjudul Al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî untuk merespon polemik pemikiran teosofi dan pantheisme yang berkembang di Nusantara pada masa itu.

Nah, risalah Al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî karangan al-Kûrânî ini kemudian dikembangkan oleh al-Nâblusî dalam risalahnya yang (diberi) judul Risâlah ‘Abd al-Ghanî fî Hukm Syath al-Walî.

Dalam kata pengantarnya, al-Nâblusî menulis;

أما بعد. فيقول العبد الفقير الى مولاه الخبير عبد الغني المدرس في المقام الحاتمي والمنزل الحاتمي جامع الشيخ الأكبر خطيب العلوم الإلهية على أوج المنبر، حققه الله تعالى بحقائق العرفان وأمده ببدائع الكشف والبيان. وجدتُ رسالة اسمها “المسلك الجلي في حكم شطح الولي” للشيخ الإمام العلامة العمدة المحقق المدقق الفهامة الملا إبراهيم الكوراني المدني رحمه الله تعالى أجاب بها عن سؤال ورد عليه من بعض جزائر جاوه من أقصى بلاد الهند في سنة ست وثمانين وألف.

(Maka berkatalah seorang hamba yang fakir kepada Tuhannya yang Maha Mengetahui, ‘Abd al-Ghanî, yang mengajar di maqam al-hâtimî [maqam Ibnu ‘Arabi] dan manzil al-hâtimî [rumah Ibnu ‘Arabi] di Masjid Syekh Akbar Ibnu ‘Arabi [di Damaskus], yang menjadi khatib ilmu-ilmu ilahiah di atas mimbar [masjid tersebut], semoga Allah menuntunnya kepada jalan kebenaran ilmu pengetahuan. Aku telah mendapati sebuah risalah berjudul “Al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” karangan Syekh Imam Ibrâhîm al-Kûrânî al-Madanî, semoga Allah merahmatinya, yang menjawab di dalam risalah itu akan sebuah pertanyaan yang datang kepadanya dari salah satu pulau di negeri Jawi [Nusantara] di ujung negeri India, pada tahun seribu delapan puluh enam [hijri/ 1675 masehi]).

Bunyi pertanyaan yang datang dari negeri Jawi (Nusantara) tersebut yang dikedepankan kepada Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî, sebagaimana tertulis dalam Al-Maslak al-Jalî, adalah sebagai berikut;

ماذا يقولون في قول بعض أهل جاوة، ممن ينسب الى العلم والورى: إن الله نفسنا ووجودنا ونحن نفسه ووجوده. هل له تأويل صحيح كما قال بعض أهل جاوة، أو هو كفر صريح كما يقوله بعض العلماء الواردين اليها ممن يثني عليه بأنه عالم بالعلم الظاهر والباطن. بينوا لنا ما هو الحق بمقتضى قواعد الشرع والتحقيق. أجزل الله لكم الثواب. وأدام لكم الامداد والتوفيق.

(Apa pendapat Anda atas sebuah pemikiran salah seorang dari negeri Jawi [Nusantara], yang mana ia dikenal sebagai sosok yang ahli ilmu dan wara: (menurutnya) “Allah adalah wujud [eksistensi] diri kami dan diri kami adalah wujud Allah. Kami adalah Allah dan wujud-Nya”. Apakah pemikiran ini mendapatkan landasan penafsiran/ penakwilan yang sahih sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ahli Nusantara, ataukah pemikiran itu adalah sebuah kekafiran yang jelas sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang terpuji sebagai ahli ilmu zahir dan batin? Mohon berikan kami penjelasan apakah hakikat sebenarnya pemikiran tersebut sesuai dengan kaidah syariat dan hakikat. Semoga Allah memberikan Anda ganjaran, dan melanggengkan imdad dan taufiq-Nya untuk Anda).

Syekh ‘Abd al-Ghanî mengatakan, bahwa Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî telah menjawab pertanyaan tersebut dengan pendapatnya yang proporsional. Kini giliran Syekh ‘Abd al-Ghanî yang hendak menambahkan jawaban atas pertanyaan tersebut dan memberikan perspektif pemikirannya yang baru atas pertanyaan dari Nusantara itu.

Dalam versi suntingan al-Badawî, jawaban dan ulasan Syekh ‘Abd al-Ghanî atas permasalahan di atas yang berasal dari Nusantara itu tertuang dalam 8 (delapan halaman). Beliau sangat detail dan jeli dalam menyikapi seorang ulama Nusantara yang mengatakan bahwa “Allah adalah wujud kami dan wujud kami adalah Allah”, dengan membaginya ke dalam empat maqam tingkatan, yaitu maqam aghyâr (ghayrullâh), af’âl (fi’lullâh), shifât (shifâtullâh), dan dzât (dzâtullâh).

Sosok “orang Nusantara yang memiliki reputasi sebagai sosok seorang ulama yang saleh, ahli ilmu, dan wara’i” ini menarik untuk ditelisik lebih jauh. Siapakah gerangan dirinya? Adakah ia adalah Syekh Hamzah Fanshuri, Syekh Syamsuddîn Samathrânî, atau Syekh Siti Jenar? Yang mana ketiganya dikenal sebagai tokoh penganut ajaran teosofi dan pantheisme di Nusantara.

Hal lain yang tak kalah menariknya untuk juga ditelisik adalah keberadaan Syekh ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî yang tercatat sebagai salah seorang ulama sentral di zamannya, turut serta menuliskan sebuah karya khusus untuk menanggapi, merespon, dan menjawab sebuah permasalahan pemikiran teosofi dan patheisme yang muncul dan berkembang di belahan bumi yang jauh, yang dikenal dengan sebutan Negeri Bawah Angin (Jawi/ Nusantara).

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *