Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 08 August 2015

KHAS – Katakan dengan Pegon (1)


pegon

Surat pernyataan mundur Kiai Musthafa Bisri dari posisi Rais Aam jitu menghadirkan ketenangan di tengah muktamar Nahdlatul Ulama yang sempat kisruh di Jombang. Kiai sepuh juga budayawan itu tidak ingin ormas tempat bernaung para ulama itu menjadi ring tunju, ajang perebutan kepentingan kelompok yang ada, yang akhirnya memberikan contoh buruk bagi umat.

Menariknya, surat Gus Mus itu ditulis dengan aksara Arab Pegon, khas kalangan pesantren. Meski penyebaran tulisan ini kian terbatas, tapi masih banyak warga yang bertahan menggunakannya.

Di dunia pesantren khususnya, yang masih memegang tradisi dan masih menggunakan kitab kuning, Arab Pegon ini menjadi menu wajib penghias pinggiran kitab-kitab pelajaran agama.

Namun jangan salah. Dulu, kala tulisan latin asal londo masih “diharamkan”, aksara-aksara nusantara masih berjaya, Arab Pegon ini sempat mengukir masa keemasannya dan menjadi alat komunikasi paling mujarab antar sesama sodagar. Ia juga medium jitu menurunkan ilmu agama dari generasi ke generasi.

Seantereo nusantara kala itu menggunakan Arab Pegon ini, karena tulisan pegon bisa digunakan di semua suku, baik Melayu, Jawa, Sunda, Madura, Bugis dan lain-lain.

Aksara Pegon juga menjadi alat perjuangan, kata sandi rahasia antara ulama dalam melawan penjajah. Sebab Belanda kala itu melarang tulisan selain latin dan Arab. Belanda pun melarang penerjemahan Al Quran ke bahasa daerah.

Menurut budayawan Jawa Timur, Agus Sunyoto, Belanda menyebut pribumi sebagai buta huruf karena tidak bisa membaca hurup latin milik Belanda. Padahal urusan baca tulis pribumi lebih dulu pandai, dan banyak tulisan bisa dikuasai. Kata ‘Buta huruf’ menjadi alat penjajahan.

Mengemuka dari Darat

Adalah Kiai Sholeh Darat, yang pertama menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. Penerjemahan itu sendiri atas saran Raden Ajeng Kartini.

Muhammad Shalih bin Umar adalah nama asli beliau. Dia lahir pada 1820 di Mayong Jepara, daerah yang sama tempat kelahiran Kartini. Beliau juga guru bagi KH.Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah dan banyak ulama besar Nusantara yang pernah menjadi muridnya langsung.

Menurut penuturuan cucu Kartini, Fadhila Sholeh, Kartini menghadiri pengajian sang Kiai yang saat itu membahas tafsir surat Al Fatihah. Bahasan tafsir itu membuat kartini terkesima. Sebelumnya Kartini hanya membaca surat Al Fatihah tanpa mengerti arti apalagi tafsirannya, katanya.

Kemudian Kartini meminta sang Kiai untuk menerjemahkan Al Quran ke bahasa Jawa agar bisa ia pahami. Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an itu diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon. Arab Pegon dipilih untuk mengelabui Belanda yang melarang penerjemahan al Quran ke dalam bahasa Jawa. Dan kitab itu dihadiahkan sang Kiai kepada Kartini saat pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, bupati Rembang.

MA/Islam Indonesia. Foto: Fahmialinh.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *