Satu Islam Untuk Semua

Monday, 02 July 2018

Cak Nun: Daripada Mengadu Domba Saya, Mbok Cari Pekerjaan Lain


3B49704A-E8E7-44C8-80DE-6CB84AA6F45A

Islamindonesia.id– Cak Nun: Daripada Mengadu Domba Saya, Mbok Cari Pekerjaan Lain

 

 

Zaman itu bergulir, kata Budayawan kondang Emha Ainun Najib. Tak seperti dulu, orang kini dapat mendapatkan duit dengan hanya mengunggah video di Youtube.

Sebagian orang merekam diam-diam ketika Emha sedang berbicara, bahkan sebagian lagi hanya mengunduh dari video yang beredar di linimasa.

Video lalu diedit dan disandingkan dengan potongan video ceramah tokoh lain. Hal itu dilakukan untuk mencari duit lewat mobilisasi penonton dan pengikut di dunia maya.

“Kalau tujuannya cari duit, mbok cari pekerjaan lain,” ujar pria yang akrab disapa Cak Nun ini, malam 27 Juni, seperti dipublikasikan kanal CakNun.com. Malam itu, pria kelahiran Jombang ini sedang berbicara kepada masyarakat yang menghadiri ‘Sinau Bareng’ di lapangan POAS Muda, Sukomulyo, Manyar, Gresik.

Cak Nun berjanji mendokan mereka yang mengadu domba dirinya mendapatkan pekerjaan lain. “Itu lebih baik daripada mengadu domba saya,” ujarnya.

Cak Nun tetap enggan diadu meskipun video terkesan dibuat mengunggulkan dirinya. Pasalanya, Cak Nun menolak sikap yang merendahkan orang lain apalagi upaya mensejajarkan tokoh agama dengan dirinya.

“Jangan merendahkan Ustaz Abdul Somad, Habib Riziq,” kata penulis buku Slilit Sang Kiai ini. “Jangan mensejajarkan mereka dengan saya, sebab derajat beliau-beliau jauh lebih tinggi.”

Ustaz Abdul Somad Batubara merupakan mubalig asal Sumatera Utara. Ia pernah mengenyam pendidikan di Al Azhar Mesir dan Institute Al Hadist Al Hassaniyah, Maroko.

Sementera Habib Muhammad Rizieq Shihab merupakan mubalig yang juga dikenal sebagai pendiri Front Pembela Islam. Ia pernah mencari ilmu di King Saudi University, Arab Saudi.

“Saya ini siapa … begitu lho,” kata Cak Nun. “Kasihan mereka sudah sekolah jauh-jauh ke Mesir, ke Arab, lama di sana.”

Karena itu Cak Nun lebih nyaman memilih acara ‘sinau bareng’ daripada bertemakan ‘pengajian’. Sinau bareng berarti belajar bersama yang sudah menjadi tradisi Maiyah.

‘Maiyah’ sangat populer di kalangan orang-orang yang senantiasa mengikuti aktivitas Cak Nun di akar rumput bersama tim shalawat Kiai Kanjeng di berbagai desa hingga kota. Laki-laki, perempuan, tua, muda, dari berbagai latar suku, profesi, pendidikan, agama, mazhab datang berduyun-duyun, berkumpul, tanpa pendaftaran atau prosedur khusus lainnya. Mereka duduk berjam-jam bahkan tidak sedikit yang rela berdiri demi belajar menemukan hakikat manusia dalam wadah yang bernama Maiyah.

Oleh sebab itu, Maiyah juga dikenal sebagai forum belajar tapi dengan format sangat sederhana. Sebagaimana ribuan orang lainnya, di Yogyakarta, redaksi IslamIndonesia juga biasa duduk lesehan di atas tanah beralaskan koran dan beratapkan langit.

Tidak ada jarak yang begitu jauh antara audiens dengan narasumber. Semua ilmu dielaborasi bersama dengan interaksi dinamis dan elegan antara narasumber dan audiens. Di sela-sela diskusi, audiens juga menikmati elaborasi lagu berbagai genre yang dibawakan Kiai Kanjeng dengan kombinasi alat musik tradisional dan modern.

“Saya hanya keliling desa ke desa,” ujar Cak Nun menggambarkan aktivitasnya ber-Maiyah. “Saya tak punya ilmu seperti mereka, jadi tidak usah membanding-bandingkan saya dengan ulama, ilmuan atau pimpinan politik. Saya ini hanya mbahmu, bapakmu, yang mencintai kalian.”

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *