Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 02 April 2016

Di Suriah, Dubes RI Hadiri Haul Imam Al Bouti, Ulama yang Disesatkan ISIS & An Nusra


EXrCtO4CrmdZdMjkdG_mjmkTpXlJ4V5cfzdKAh0RE6IfNJNjTfEX3Nm-r-RkVlNh94oGOR4kwEnXlxGvC3yB8ZtISkLSIihRkiP0N1GVC7MxnlcxDiAlkYKGsSYIgCgULySyT83H-5Dapa6jjXdZtbQK=w350-h200-nc

Bertempat di Universitas Damaskus, Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto, menghadiri Peringatan Tahun Ke-3 wafatnya ulama terkemuka dan imam Mazhab Syafii di Suriah, Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Bouthi. Didampingi sejumlah pejabat negara dan putra almarhum, Dr. Taufik Ramadhan Al Bouthi, Dubes RI mendengarkan pidato sejumlah tokoh masyarakat tentang sosok ulama yang berpengaruh luas hingga ke Indonesia itu.

“Dr. Bouti sangat peka dalam membaca situasi dan persoalan. Baik dalam masyarakat, pendidikan bahkan situasi pemerintahan. Setelah membaca situasi lalu dengan cepat memberikan masukan dan solusi persoalan yang dihadapi dengan pendekatan persuasif, moderat, dan nasihat secara langsung,” kata salah satu pembicara dalam peringatan haul Imam Al Bouthi yang juga dikutip portal kemenlu.go.id  (29/3).

Seperti diketahui, Al Bouthi di mata masyarakat Suriah adalah pakar dalam berbagai disiplin ilmu agama. Ulama kelahiran 1929 ini telah menulis lebih dari 60 buku dalam berbagai tema ilmu Islam seperti syariah, akidah, tasawuf, sejarah, dakwah hingga dinobatkan sebagai pelopor reformasi ensiklopedik. Tidak sedikit dari buku-bukunya yang diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia.

“Khususnya dalam situasi krisis dan musibah yang dihadapi (Suriah), beliau sering tampil selayaknya seorang ayah yang memberikan bimbingan jalan yang lurus kepada anak-anaknya,” kata pembicara dalam acara tersebut.

Sejak 2012, Suriah memang dilanda kekacauan dalam negeri akibat aksi bersenjata berbagai kelompok militan seperti ISIS dan Jabhat An Nusra. Krisis politik itu diperparah oleh distorsi informasi yang memperkuat posisi kelompok militan dan memperlemah posisi politik Damaskus.

“Informasi yang menyatakan pemerintahan Assad membunuh rakyatnya. Itu tidak benar. Bagaimana mungkin, wong pemerintahan solid didukung rakyatnya,” kata Djoko kepada harian Republika beberapa waktu lalu. (Baca juga: WAWANCARA – Dubes RI di Damaskus: Tidak Ada Benturan Suni-Syiah di Suriah)

Dubes RI kelahiran Jawa Tengah itu mempertanyakan motif kelompok militan yang ingin menjatuhkan Assad atas nama Islam. “Pertanyaanya, kalau memang ISIS kuat, mengapa tidak menyerang Israel? Malah faktanya Israel tenang-tenang saja. Itu yang diharapkan. Padahal, fanatisme anti-Israel yang dimiliki Suriah lebih dari Indonesia,” katanya

Di tengah kekerasan bersenjata yang melanda rakyat Suriah, Imam Al Bouthi menjadi suara moderat yang menolak pemberontakan dan penggulingan pemerintah dengan cara-cara brutal. Sebagaimana dilaporkan kemenlu.go.id, karena fatwa-fatwanya yang moderat itu, ISIS dan An Nusra menyebut Imam Al Bouthi “sesat dan menyimpang”. Pada 21 Maret 2013, tepatnya saat mengajar di Masjid Al Iman Damaskus, Imam Al Bouthi tewas akibat ledakan bom yang diduga kuat dilakukan oleh para militan anti Assad. []

 

Edy/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *