Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 22 January 2014

Siapa Pembakar Perpustakaan Alexandria?


foto: naniwak.com

Caronus menunjuk Amrn ibn Ash sebagai pelakunya, namun tuduhan itu ditampik oleh Gibbon dan Le Bone

 

Pada 1989, pemerintah Mesir mengumumkan rencana pembangunan kembali Perpustakaan Alexandria. Untuk memunculkan kembali salah satu perpustakaan terbesar sepanjang sejarah tersebut, tak tanggung-tanggung saat itu pemerintah Presiden Husni Mubarak menganggarkan dana yang sangat besar: $ 200 juta. Proses pembangunan situs yang dinyatakan UNESCO sebagai salah satu warisan dunia itu sendiri  sudah dimulai dari 1995 dan resmi digunakan tujuh  tahun kemudian. Lantas apa yang membuat pemerintah Mesir dan UNESCO bersikeras untuk menghadirkan kembali perpustakaan kuno itu?

Tersebutlah Kaisar Alexander Agung (356-323 sM) dari Makedonia yang menjadi penguasa Mesir saat itu. Selain seorang raja, ia pun merupakan murid dari Aristoteles (384-322 sM), seorang filsosof dan pemikir terkemuka bangsa Yunani. Guna menunjang hobinya tersebut, Alexander membangun sebuah perpustakaan yang menampung puluhan ribu manuskrip filsafat dan kebudayaan.

Namun baru di tangan Kaisar Philadelphus (283-246 sM) dari Dinasti Ptolemi, Perpustakaan Alexandria mengalami kemajuan. Sebagai seorang raja yang memiliki hobi mengoleksi karya ahli-ahli pikir dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, ia banyak menambahkan koleksi ribuan manuskrip baru . Bahkan konon, pada masa kekuasaan Kaisar Phila juga, Kitab Suci Agama Yahudi diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani.

“Orang-orang Yunani menyebut hasil terjemahan itu sebagai Septuaginta,”tulis Joesoef Sou’yb dalam Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin.

Namun sayang, dalam perkembangan selanjutnya, Perpustakaan Alexandria diceritakan “musnah” begitu saja. Siapa yang memusnahkannya? Tak pernah ada jawaban pasti hingga pada saat Perang Salib I berkecamuk (1096-1270), seorang Uskup Agung dalam Gereja Siryani bernama Gregorius Caronus (dalam literatur Arab ia dikenal sebagai Abul Faraj al Malathiyi)  dalam sebuah karyanya The History of Dynasties  (diterjemahkan dari Tarikhud Duwwal) menuduh pasukan Arab Islam pimpinan Jenderal Amr ibn Ash-lah yang memusnahkan jutaan naskah tua koleksi Perpustakaan Alexandria.

Caronus bercerita, usai penaklukan Alexandria oleh pasukan Arab Islam pada 641 M, Jenderal Amr diminta tolong oleh Johannes Philoponus (seorang cendekiawan neoplatonism) untuk  menyelamatkan jutaan manuskrip yang ada di Perpustakaan Alexandria. Merasa bukan wewenangnya, Amr ibn Ash lantas meminta saran kepada Khalifah Umar ibn Khattab di Medinah. Apa jawab Umar? ” Andaikan karya-karya orang Yunani itu sejalan isinya dengan Al Qur’an buat apa dipelihara? Terlebih jika semua itu tidak sesuai dengan Al Qur’an maka itu berbahaya dan harus dimusnahkan…”

Maka, dikumpulkanlah jutaan naskah tua. Setelah terkumpul dalam bentuk tumpukan yang bergunung-gunung, Am ibn Ash membagikannya kepada 4.000 pemandian air panas di penginapan-penginapan sepanjang pelabuhan Alexandria. “Begitu banyaknya manuskrip  itu, hingga penginapan-penginapan tersebut bisa menggunakannya sebagai suluh setiap harinya selama 6 bulan,”tulis lelaki Yunani yang dalam sejarah dikenal juga sebagai Johanes Grammaticus itu.

Banyak kalangan di Barat mempercayai begitu saja keterangan sejarah versi Caronus tersebut. Soal ini baru terbukti sebagai “omong kosong” setelah sejarawan Edward Gibbon (1737-1794) menelanjangi “kisah fantastis” Caronus itu sebagai “tipu-tipu murahan Perang Salib”. Dalam   Decline Fall of the Roman Empire jilid IX, Gibbon mencurigai isu pembakaran jutaan manuskrip tua Perpustakaan Alexandria itu tak lebih sebagai strategi politik kubu Kristen Barat untuk menjelek-jelekan kubu Arab Islam.

Setelah Gibbon, beberapa cendekiawan Barat lainnya juga berduyun-duyun membantah fitnah sejarah versi Caronus. Tercatat nama-nama sejarawan seperti M.J.J. Marcel, Gustave Le Bone, L.B.Sedillot, Stanley Lanepoole dan Alfred J.Butler menjadi saksi bahwa apa yang ditulis Caronus merupakan sebuah kisah yang tak layak dipercaya.

Alih-alih menyalahkan pasukan Arab Islam, Gustave Le Bone justru menyebut musnahnya Perpustakaan Alexandria disebabkan ulah  pasukan Julius Caesar (110-44 sM) saat menyerbu Mesir. “Bencana-bencana yang menimpa Perpustakaan Alexandria disebabkan api yang berkobar tanpa sengaja pada saat Caesar mempertahankan dirinya.”

Setelah dibangun kembali pada era Kaisar Marcus Antonius (83-30 SM), Perpustakaan Alexandria  lagi-lagi pada 263 M. Akibat terjadinya kerusuhan besar di Alexandria pada era Kaisar Gallenus (255-268), situs bersejarah itu hampir semuanya hancur kecuali Gedung Sarapeum yang masih tersisa.

Jadi jelas, saat pasukan Arab Islam memasuki Alexandria, Perpustakaan itu sesungguhnya sudah lama musnah. ” Sungguh memalukan, dosa yang dibuat sendiri oleh dunia Barat hendak dikambinghitamkan kepada orang-orang Arab,”ujar Gibbon.

Selain menggali informasi sebab musabab musnahnya Perpustakaan Alexandria, para cendekiawan Barat itu juga menelanjangi kebohongan Caronus lewat kisah Johannes Philoponus. Menurut Le Bone, kendati tokoh Johanes Philoponus memang ada namun sesungguhnya ia hidup di era sebelumnya. Dikatakan sejarawan Prancis itu bahwa Philoponus merupakan uskup radikal yang hidup  saat terjadi Konsili Chaceldon pada 451. Ia hidup sampai masa kekuasaan Kaisar Justinianus (518-565 M).

” Bagaimana bisa seorang tokoh yang sudah lama berada dalam perut bumi dikatakan ‘bersahabat baik dengan Jenderal Amr ibn Ash di Alexandria’ pasca penaklukan bandar itu pada 641 M?”ujarnya.

Sejarah memang kerap ditulis oleh para pemenang. Namun jauh puluhan abad sesudahnya, sejarah membuktikan orang-orang Arab-lah (baca: Mesir) yang  justru berhasil menghadirkan kembali Perpustakaan Alexandria untuk dunia.

 

Sumber: Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *