Satu Islam Untuk Semua

Friday, 30 June 2017

Soal Film ‘Aku Adalah Kau yang Lain’, MUI: Polri Kurang Sensitif


karopenmas-divisi-humas-polri-brigjen-rikwanto-kedua-kanan-bersama-_170628131246-393

islamindonesia.id – Soal Film ‘Aku Adalah Kau yang Lain’. MUI: Polri Kurang Sensitif

 

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Amirsyah Tambunan menilai Humas Polri kurang memiliki rasa sensitivitas karena menyebarkan film ‘Aku Adalah Kau yang Lain’ ke publik. Amirsyah juga prihatin terhadap kinerja tim juri yang berlatar belakang seniman, seperti Renny Jayusman dan Oppy Andaresta, yang dinilai kurang profesional.

“Jadi, meskipun film tersebut bukan buatan polisi, namun disesalkan film tersebut sempat beredar di publik,” katanya seperti dilansir detik.com, 29 Juni.

Meski demikian, Amirsyah mengapresiasi Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang segera bertindak cepat dan video itu ditarik. Sebab, kalau tidak segera ditarik, hal itu dapat menimbulkan pro-kontra yang berpotensi konflik.

Meski begitu, Amirsyah meminta Humas Polri dan sutradara film menyampaikan permintaan maaf kepada publik. “Meminta sutradara agar minta maaf kepada publik karena telah melukai hati umat Islam. Juga Humas Polri agar minta maaf di hari baik ini, Idul Fitri,” tuturnya.

Sebelumnya, Kau Adalah Aku yang Lain keluar sebagai pemenang pertama ajang kompetisi Police Movie Festival 2017. Police Movie Festival ini merupakan ajang lomba film pendek dan animasi yang disenggelarakan Kepolisian Republik Indonesia untuk masyarakat Indonesia. Untuk tahun ke empat ini, Polri mengusung tema ‘Unity in Diversity‘, yang berarti persatuan dalam keberagaman.

Menurut laporan IndoPress.id,  peserta Police Movie Festival tahun ini banyak mengangkat isu keberagaman bangsa Indonesia, khususnya suku, ras, dan agama. Beberapa film dan animasi yang masuk sepuluh besar nominasi bahkan menyindir aksi bela Islam dan kasus penistaan agama yang belakangan sempat membuat ramai masyarakat.

Anggota DPR Fraksi PKS Nasir Djamil berpendapat, film pemenang festival ini sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Bahkan, menurutnya sangat wajar jika film tersebut mengundang reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam “Wajar kalau kemudian menimbulkan reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam,” ujar Nasir seperti dikutip republika.co.id, 29 Juni

 

 

YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *