Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 04 October 2017

TASAWUF – Ujub dan Cinta Diri


heart midical

islamindonesia.id – TASAWUF – Ujub dan Cinta Diri

 

Sifat ujub berasal dari cinta diri yang telah tertanam dalam fitrah manusia. Bagi kaum sufi, sumber semua kesalahan, kemaksiatan, dan keburukan moral adalah cinta diri. Karena cinta diri inilah, manusia membesarkan perbuatan remehnya dan, dengan demikian, memasukkan dirinya ke dalam kelompok para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah.

[Baca juga:  TASAWUF – Tersipu dengan Amal Baik Diri Sendiri]

Oleh karenanya, ia tidak hanya memadang dirinya patut mendapat pujian dan penghormatan karena perbuatan-perbuatan remeh itu, tetapi  kadang kala ia juga memandang perbuatan buruknya sebagai  baik jika ia melihat adanya kebaikan moral dan kesalehan yang lebih besar pada orang lain, ia tidak saja mengaggapnya tidak berarti, tetapi juga mencoba merusak kesan baiknya sedapat mungkin.

Ia selalu melihat adanya kebaikan dalam perbuatan-perbuatan  buruknya sekalipun, dan berusaha mewarnainya dengan warna-warna yang semarak. Ia memandang rendah makhluk-makhluk Allah yang lain dalam hatinya, sementera ia berpikir tentang  dirinya sendiri dengan opitimisme, memandang dirinya amat tinggi.

Disebabkan cinta diri yang sama ini jugalah sehingga ia berharap tindakan-tindakan remehnya, dan tindakan-tindakannya yang telah dirusak oleh ribuan noda, cukup berharga untuk diberi balasan oleh Allah.

Akan lebih baik jika kini kita merenungkan perbuatan-perbuatan baik kita dan menilai ibadah-ibadah kita secara rasional. Kita harus mencoba menilainya dengan adil dan melihat apakah kita memang berhak memperoleh balasan baik dari Allah dan mendapat pujian atas dasar perbuatan-perbuatan itu. Ataukah,  sebaiknya, kita patut dikecam dan dihukum karenanya. Dan, jika Allah akan memasukkan kita ke dalam nyala api kemurkaan-Nya disebabkan perbuatan-perbuatan itu, yang kita pandang sebagai perbuatan baik, apakah Dia cukup adil untuk melakukannya?

Pertanyaan lain ialah: jika Rasulullah Saw yang kejujurannya telah diakui, berkata pada kita, “Tidak ada pengaruhnya  di dunia yang akan datang nanti, apakah engkau beribadah kepada Allah sepanjang hidupmu, mematuhi perintah-perintah-Nya, dan menahan segala hawa nafsu, atau apakah enkau hidup dengan membangkan kepada-Nya  dan menuruti saja seluruh hawa nafsumu?

Tidak ada pengaruhnya apakah engkau melakukan sslat atau terlibat maksiat. Meski demikian, ridha Allah ada pada orang-orang yang menyembah-Nya, memuji dan bersyukur kepadaNya, dan menahan hawa nafsunya di dunia ini, meskipun untuk itu tidak ada balasanya.”

Jika kita diberi pilihan itu, apakah kita akan menyembahNya demi memperoleh ridha Allah atau tidak? Dan, apakah kita masih mau melakukan ibadah-ibadah sunah dan salat berjamaah? Ataukah engkau akan bergelimang dalam kemewahan, hiburan, dan syahwat?

Dari jawaban jujur hati kecil, kita memperoleh kesimpulan bahwa seluruh perbuatan kita berfungsi sebagai sarana untuk memuaskan keinginan kita dan mengikuti tarikan jasmaniah kita. Kita adalah penyembah daging kita sendiri.

Kita menghentikan satu kenikmatan demi kenikmatan lain yang lebih besar. Tujuan yang kita kejar, harapan kita yang tidak pernah mati adalah untuk pemuasan jasmaniah kita.

Salat, yang merupakan sana untuk mencapai kedekatan dengan-Nya, kita lakukan dengan harapan agar kita dapat berkumpul bersama para bidadari surga. Ibadah kita juga tidak ada hubungnannya dengan kepatuhan terhadap perintah-Nya, dan ribuan mil jauhnya dari keridhaan Allah.

Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan sabda Rasulullah Saw ini. Beliau bersabda bahwa Allah berkata kepada Daud. ‘Wahai Daud, sampaikanlah kabar gembira kepada para pelaku dosa dan peringatkanlah orang-orang yang saleh. ‘Daud berkata, ‘Bagaimana aku menyampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa dan memperingatkan orang-orang saleh?

Allah menjawab, ‘Sampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa bahwa Aku menerima tobat mereka dan peringatkanlah orang-orang yang saleh agar mereka tidak memiliki sifat ujub dalam perbuatan-perbuatan mereka karena tidak ada seorang hamba pun yang akan selamat jika Aku menilai perbuatan-perbuatan mereka (dan patut mendapat hukuman karena – menurut persyaratan keadilan – seorang manusia dengan seluruh ibadahnya tidak dapat bersyukur kepada Allah sebagaimana seharusnya – bahkan untu satu rahmat-Nya pun)”.

[Baca juga: TASAWUF – Tingkatan Sifat Ujub]

YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *