Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 14 September 2017

TASAWUF – Tingkatan Sifat Ujub (Bagian 1)


South Africa --- A heart monitor screen with a question mark --- Image by © VStock LLC/Klaus Tiedge/Tetra Images/Corbis

islamindonesia.id – TASAWUF – Tingkatan Sifat Ujub (Bagian 1)

 

Setelah mengurai sedikit hal tentang apa itu sifat ujub, (Baca artikel sebelumnya: Tersipu dengan Amal Baik Diri Sendiri) kali ini redaksi menurunkan artikel sederhana tentang tingkatan penyakit hati ini.

Jika seseorang memberikan perhatian sedikit saja kepada keadaan batinya, ia dengan mudah mengenali apakah dirinya sedang berbuat dengan motif ujub atau tidak.  Namun ada pula ujub yang tersembunyi dan halus, yang tidak mudah dikenali, kecuali jika kita secara cermat memeriksa diri kita, meneliti satu demi satu perbuatan kita. Begitu pula, beberapa tingkat ujub yang lebih merusak daripada tingkatan-tingkatan lainnya.

Derajat pertama dan terutama, yang merupakan tingkat ujub yang paling dahsyat dan berbahaya ialah anggapan seseorang bahwa dengan beriman kepada Allah, ia telah berbuat baik kepada Allah Sang Pemberi nikmat, Pemilik segala sesuatu. Ia berpikir bahwa dengan keimanannya ia telah memperluas kerajaan Allah dan ikut mencemerlangkan agama-Nya.

Ia berpikir bahwa dengan menyebarkan syariat-Nya, memberikan bimbingan pada umat agama-Nya, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melaksanakan batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah, keberadaannya di mimbar dan mihrab, maka ia telah menambah kebesaran agama Allah. Atau ia merasa bahwa kehadirannya dalam salat jamaah dan keaktifannya dalam majelis taklim, ia telah menambah keagungan agama, dan dengan demikian memberikan keuntungan kepada Allah, kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Meskipun ia tak mengungkapkan secara terang-terangan dalam hatinya ia merasa begitu.

Demikian pula dalam soal membantu hamba-hamba Allah sebagai kewajiban atau anjuran agama – seperti zakat dan sedekah – ia berpikir bahwa ia telah berjasa kepada mereka. Kadangkala, perasaan tersebut sedemikian tersembunyi  dan halusnya sehingga orang itu sendiri tidak mengetahuinya.

Tingkatan kedua ujub adalah keadaan seseorang yang tersipu oleh ujub dalam hatinya – yang berbeda dengan keadaan ujub seseorang sehinggga merasa telah menguntungkan Allah, meskipun banyak orang tidak melihat perbedaan keduanya. Pada keadaan itu, seseroang memandang dirinya sebagai kekasih Allah dan memasukkan dirinya dalam kelompok para wali dan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Jika ia mendegar nama para wali dan orang-orang dekat Allah, dalam hatinya ia merasa sejajar dengan mereka – meskipun secara lahir ia memamerkan kerendahan hati.

Jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya, ia akan mengumumkan bahwa ujian sebagai tanda kedekatan pada Allah. Orang –orang yang mengaku sebagai pembimbing manusia, ahli makrifat, sufi dan zahid labih mudah tekena bahaya ini dibandingkan orang-orang lainnya.

[Bersambung…..]

 

RK/YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *