Satu Islam Untuk Semua

Monday, 11 September 2017

TASAWUF – Tersipu dengan Amal Baik Diri Sendiri


heart midical

islamindonesia.id – TASAWUF – Tersipu dengan Amal Baik Diri Sendiri

 

Dalam kamus bahasa Indonesia, ujub diartikan sebagai rasa bangga atau sombong. Dalam istilah akhlak-sufistik, sejumlah ahli hikmah menyebut ujub sebagai tindakan memperbesar-besar suatu perbuatan baik, perasaan puas dan senang dengannya, tersipu dan terkesima dengan perbuatan baik dirinya, dan merasa dirinya terbebas dari seluruh kekurangan  dalam perbuatan baik itu.

Namun sebaliknya, seorang yang merasakan kenikmatan dan kesenangan ketika melakukan perbuatan baik yang disertai dengan rasa rendah diri dan syukur kepada Allah atas taufik-Nya dalam keberhasilannya berbuat kebaikan, serta memohon kepada-Nya untuk menambah taufik baginya di waktu mendatang, bukan termasuk ujub, melainkan sifat yang terpuji.

Ahli hikmah Syekh Baha’uddin Al Alami, misalnya, berkata, ”Tak ada keraguan bahwa ketika seseorang melakukan perbuatan baik, seperti berpuasa dan salat malam, ia akan merasakan semacam kenikmatan dan kesenangan. Kenikmatan dan kesenangan itu bukan ujub – jika ia timbul dari persasaan bahwa Allah Yang Mahakuasa telah melimpahkan pemberian dan nikmat kepadanya berupa (dorongan untuk) melakukan perbuatan baik, sementara ia merasa khawatir akan keurangan dalam perbuatannya, cemas akan hilangnya nikmat itu dan memohon kepada Allah untuk terus memberinya tambahan nikmat.”

Dalam pandangan lain, contoh yang telah disebut di atas – salat dan puasa – diperjelas lagi bahwa yang bersentuhan dengan sifat ujub ialah perbuatan baik atau buruk, baik dari aspek lahiriah maupun batin. Sebab, selain memengaruhi perbuatan lahiriah, ujub juga memengaruhi perbuatan batiniah (mental dan spritual) seseorang.  Seperti halnya orang baik yang dapat berujub dengan amal baiknya, orang buruk juga dapat mengagumi perbuatan buruknya.

Karena itu, dalam ilmu akhlak, ujub memiliki beberapa derajat. Derajat pertama, ujub dengan keimanan terhadap ajaran-ajaran yang benar; lawannya ujub dengan kekufuran, kemusyrikan. Derajat kedua, ujub dengan sifat-sifat baik yang lawannya ujub dengan sifat-sifat buruk. Derajat ketiga, ujub dengan perbuatan-perbuatan baik yang lawannya kagum atas perbutan-perbuatannya yang jahat.

Ahli hikmah lainnya seperti Sayyid Al Ridha berkata, di antara tingkatan ujub ialah ketika sifat buruk seorang tampak baik baginya. Ia menganggapnya sebagai amal baik dan memuji dirinya, membayangkan bahwa ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tingkatan ujub lainnya tampak pada manusia yang beriman kepada Allah dan ia berpikir telah menguntungkan Allah, sehingga ia mengungkit-ungkit kebaikan di hadapan Allah padahal Allah-lah yang berbuat baik kepadanya (dengan memberinya keimanan itu).”

Menyinggung penyakit hati ini, Rasulullah juga telah mengingatkan umatnya dengan bersabda, “Ada tiga hal yang membinasakan seseorang; kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub terhadap dirinya sendiri.” [HR. Ath Thabarani]

 

RK/ YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *