Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 02 February 2017

TASAWUF – Takwa Negatif dan Positif


sufi

islamindonesia.id – TASAWUF – Takwa Negatif dan Positif

 

Ada dua hal yang sangat khas pada manusia: kehendak-bebas dan akal. Kehendak-bebas berarti bahwa manusia dapat bertindak sesuai dengan keinginan dan pilihannya. Tidak ada kekuatan yang sanggup memaksa manusia untuk melakukan sesuatu secara permanen dan total kecuali bila yang bersangkutan menghendaki terjadinya pemaksaan tersebut.

Jadi, mungkin saja ada orang atau kekuatan yang dapat memaksa manusia untuk melakukan suatu tindakan tertentu di waktu tertentu. Tetapi, tanpa kehendak untuk tunduk terhadapnya, maka pemaksaan itu tak akan lama bertahan.

[Baca juga: TASAWUF – Sejarah Jiwa dan Syahwat yang Tamak]

Orang yang dipaksa melakukan sesuatu pasti akan punya kesempatan untuk melawan dan memberontak dengan cara-cara yang beragam. Bahkan, suatu saat, bukan mustahil dia akan bisa mematahkan kekuatan pemaksa itu once and for all.

Selain kehendak-bebas, manusia juga mempunyai akal. Salah satu fungsi akal adalah mengarahkan kehendak-bebas manusia ke jalan yang benar.

Akal bisa memahami prinsip-prinsip umum tentang jalan yang benar. Akan halnya rumusan rinci dan spesifik tentang jalan yang benar akal tidak mampu menjabarkannya.

Tidak ada kesanggupan padanya untuk merinci soal demi soal atau praktik demi praktik yang dapat membawa manusia pada jalan yang benar. Sebagai contoh, akal bisa memahami penyembahan kepada Sang Maha Pencipta sebagai prinsip umum dalam jalan yang benar.

Namun, akal tidak bisa menjelaskan cara-cara untuk menyembah Sang Maha Pencipta secara rinci dan spesifik. Untuk itulah syariat Ilahi diturunkan dalam rangka menjabarkan aturan-aturan khusus menyangkut prinsip umum “penyembahan”yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh akal.

Masalahnya kemudian adalah bahwa syariat sebagai kumpulan aturan dan tuntunan spesifik tidak akan efektif tanpa kesadaran dalam diri manusia untuk melaksanakan, menjaga dan memeliharanya.

[Baca juga: TASAWUF – “Quantum Being”]

Semua aturan dan undang-undang, baik yang datang dari manusia maupun yang datang dari Sang Maha Pencipta, tidak akan berguna tanpa adanya kesadaran yang sedemikian. Kesadaran semacam itu adalah prasyarat bagi keberhasilan dan efektivitas suatu aturan, baik di tingkat individual maupun sosial.

Dalam kaitan itu, “bertakwa kepada Allah” bermakna bahwa seluruh aturan dan tuntunan Ilahi tidak akan berguna tanpa lahirnya ketakwaan dalam diri manusia. Hanya takwa yang bisa memunculkan swakarsa dan self-enforcement untuk melaksanakan semua aturan dan tuntutan syariat.

Kekuatan atau kesadaran takwa dapat menghindarkan orang dari segala bentuk pelanggaran, baik pada tataran kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Dalam kaitan dengan takwa, setidaknya ada dua pembacaan di kalangan sufi. Pertama, takwa negatif yang bersumber pada upaya menjauhkan diri dari noda-noda maksiat.

Pada tingkat ini, takwa hanya menjauhkan manusia dari hal-hal yang menjurus pada kemaksiatan; persis seperti upaya seseorang memelihara kesehatan fisiknya dengan menjauh dari lingkungan yang diduga terserang penyakit atau wabah tertentu.

Yang demikian tak pelak akan membawa sikap reaktif terhadap segala kemungkinan adanya penularan. Mendekati suatu tempat atau bergaul dengan suatu kelompok yang diduga tertular, dengan alasan apapun, jelas-jelas merupakan pantangan.

Kedua, takwa positif yang bersumber pada kekuatan dalam jiwa. Pada tingkat ini, takwa bukan hanya menjauhkan orang dari lingkungan maksiat, melainkan menjaga dan membentenginya, terlepas apakah noda-noda itu berada di tempat yang jauh ataupun dekat.

Sekiranya orang seperti ini tinggal di lingkungan yang penuh dengan berbagai fasilitas maksiat, maka kekuatan takwa yang ada di dalam dirinya akan menjaga dan mencegahnya dari pencemaran lingkungan sekitarnya. Dan ini tak ubahnya seperti orang yang telah menjalani vaksinasi sehingga menjadi kebal terhadap pengaruh-pengaruh penyakit.

Kekebalan yang datang dari takwa ini sudah terang tidak bersumber pada faktor-faktor fisikal-eksternal, melainkan bersumber pada aktivasi potensi-potensi spiritual-internal untuk menolak segala macam keburukan yang dapat mengancam kesehatan aspek ruhani manusia.

Dan salah satu potensi itu tak lain adalah akal dan perenungan. Fitrah, kalbu yang bersih, kesabaran, tawakal, istiqamah, dan lain sebagainya juga dapat memperkuat posisi akal dalam membentengi manusia.

Sayangnya, di kalangan para sufi, pembacaan negatif lebih umum berkembang ketimbang pembacaan positif. Akibatnya, berbondong-bondonglah orang menjauhi ruang-ruang kehidupan dan menyendiri di pedesaan.

Padahal, semua itu hanya mengacu pada makna takwa yang negatif, lemah dan temporer. Karena, coba kita bayangkan, kalau asumsinya memang takwa itu berarti hidup dalam kesendirian, maka orang yang “bertakwa” akan cepat (atau bahkan lebih cepat) terpengaruh oleh berbagai godaan yang muncul dalam keramaian daripada kebanyakan orang yang tidak bertakwa.

Lebih dari itu, bagaimana bila “keramaian” itu berlangsung dalam imajinasi dan fantasi, yang tidak bisa dihindari dengan lari dan menyendiri secara fisik? Karena itu, takwa negatif itu sebenarnya lebih merupakan ketakutan, kecemahan, kegelisahan, dan bukan takwa yang sejati.

Barangkali, pembacaan negatif itu muncul lantaran sejak awal takwa telah dimaknai sebagai “menjauhkan diri dari dosa”. Lalu, secara bertahap, makna “menjauhkan diri dari dosa” terasosiasi dengan “menjauhkan diri dari lingkungan dan hal-hal yang mengakibatkan dosa”.

Selanjutnya, “takwa” identik dengan pengucilan dan kehidupan asosial. Walhasil, takwa berbanding lurus dengan keterkucilan, keterasingan, dan keterpisahan dari lingkungan; makin terkucil dan terpencil kehidupan, makin besar pula peluang orang untuk bertakwa.

Perbandingan semacam menjadi tidak relevan dalam pembacaan yang positif. Sebab, orang yang benar-benar bertakwa akan tetap bersikap sejalan dengan syariat, bagaimanapun situasi dan kondisi di sekelilingnya.[]

[Baca juga: TASAWUF – Benarkah Kaum Sufi Meremehkan Syariah?]

AJ/ YS/ islamindonesia

 

One response to “TASAWUF – Takwa Negatif dan Positif”

  1. Ilhampohan says:

    Saya mau jd anggota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *