Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 11 June 2016

TASAWUF–Sudah Baikkah Tarawih Kita? Nasehat Ibn Arabi


solat

Islamindonesia.id–Sudah Baik kah Tarawih Kita? Nasehat Syaikh Akbar Ibn Arabi

Oleh: Azam Bahtiar*

pp

“Biasanya sih sampai malam, tapi kalau dituruti kan orderan tidak ada habisnya, Mas. Lagian mau tarawih juga.”

Ada kegembiraan tersendiri mendengar kata-kata di atas keluar dari tukang ojek yang masih muda. Tanpa sedikit pun bermaksud buruk, saya menduga — dan semoga dugaan saya meleset — akan sulit menemukan lontaran jawaban seperti ini di luar bulan Ramadhan. Tentu bukan untuk alasan tarawih (karena memang hanya terjadi di bulan Ramadhan), namun untuk alasan ibadah nawafil lain di malam hari sehingga mendorong seorang driver memutuskan untuk pulang dan meninggalkan peluang income yang lebih tinggi. Apalagi pelakunya masih muda.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap bulan Ramadhan ibadah kita meningkat, setidaknya secara kuantitas. Terutama terkait aktivitas ibadah yang lebih berupa syiar-syiar kasat mata, yang terukur dan mudah dikenali. Misalnya, sebut saja shalat tarawih. Entah karena dorongan apa, hanya di bulan Ramadhan dapat kita saksikan betapa masyarakat, secara sukarela, dapat menjalankan ibadah sunnah secara berjamaah selama sebulan penuh. Sungguh misterius. Saya tak cukup percaya jika fenomena ini didorong semata oleh motif mengeruk pahala yang berlipat-lipat. Terlalu simplistis, pasti ada faktor lain.

Namun, meski tetap dirundung keharuan, fenomena unik seperti shalat tarawih berjamaah ini tak jarang menyisakan kepiluan di hati kecil saya. Saya mengukur dari apa yang saya alami sendiri. Saya dibesarkan dalam tradisi mazhab yang memujikan penyelenggaraan shalat tarawih secara berjamaah. Dengan tetap menghormati kultur dan tradisi ini, sedikit evaluasi rasanya memang mutlak diberikan.

Semoga bukan mainstream, tampaknya model pembacaan “amin” persis setelah imam menyelesaikan bacaan surah Al-Fatihah, betul-betul tak sejalan dengan panduan dalam kitab fikih manapun — tentu saja dalam fikih yang memandang “amin” itu dibolehkan, bahkan sunnah, dan terutama lagi yang memandang kesunnahannya itu dalam bentuk jahr (dibaca secara terang). Anda boleh tambahkan pula, bacaan surah Al-Fatihah dan surah-surah lain yang tak mengindahkan etika tajwid, termasuk gerakan-gerakan dalam shalat yang belum memenuhi kriteria thuma’ninah, juga pengeras suara yang tak ramah. Ini semua masih persoalan lahiriah.

Pertanyaannya, sudahkah shalat tarawih yang kita selenggarakan ini merepresentasikan qiyam al-layl yang diajarkan oleh Rasulullah saw?

Bagi saya, tak relevan mendiskusikan apakah shalat tarawih yang berlangsung selama ini identik dengan ibadah qiyam al-layl yang dianjurkan oleh Rasulullah di bulan Ramadhan, ataukah tidak. Juga soal mengapa sekarang didirikan secara berjamaah. Diskusi seperti ini seringkali tak substansial, dan lebih terjebak pada urusan nominal.

Bercermin pada tradisi shalat tarawih kita, rasanya kita perlu membuka hati dan telinga, sekali lagi, untuk mendengarkan nasihat guru agung kaum sufi, Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi (w. 638), untuk mengukur apakah shalat tarawih kita sudah sesuai dan merepresentasikan ajaran Islam sebagaimana diajarkan Rasulullah Muhammad saw, ataukah masih jauh dari harapan.

Lebih dari 700 tahun yang lalu, Syaikh Akbar sudah mengeluhkan praktik shalat tarawih berjamaah yang, ternyata, mirip dengan yang digiatkan saat ini. Persisnya, sebentuk shalat berjamaah yang kurang mengindahkan etika dan rukun-rukunnya: rukuk dan sujud yang tidak sempurna, bacaan yang tidak tartil, dan lain-lain. Di dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah (II: 177), Ibn Arabi secara tegas mempersamakan shalat yang diselenggarakan secara publik seperti ini — yang dipimpin oleh seorang imam dari kalangan penceramah, ustadz-ustadz fikih, dan imam-imam (pengurus) masjid — sebagai tak beda dengan shalatnya seseorang yang kepadanya Rasulullah saw berkomentar: “Pulang dan ulangi shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum (tunaikan) shalat.”

Meski sejatinya sabda Nabi di atas muncul dalam konteks dan kasus partikular, Ibn Arabi mencoba menariknya ke fenomena sosial-keagamaan yang lagi marak di masanya. Ada prinsip umum yang manyatukannya: dua fenomena itu disatukan oleh raison d’etre yang sama. Saya menduga, pembaca yang baik, Anda tak akan keberatan untuk menerapkan sabda Nabi di atas sebagai pula berlaku atas fenomena sosial-keagamaan yang berlaku saat ini, seperti dalam tradisi tarawih kita. Tak usahlah berbicara soal ruh shalat yang lebih spiritual-ruhani; kita perlu mengevaluasi dan memperbaiki bahkan bentuk lahiriah dari tradisi ini. Kita perlu mengulang shalat kita, bukan dengan cara yang sama; namun dengan cara yang lebih memedulikan etika shalat sebagai medium bermunajat dengan-Nya.

Maka, bila ketergesaan kita dalam menuntaskan shalat tarawih terjadi karena jumlah bilangannya yang tinggi, barangkali tak ada salahnya beralih dan memilih pandangan yang lebih minimalis dalam menetapkan jumlah rakaatnya. Islam sendiri agama mudah. Tetapi, saya berahap, semoga penilaian ini lebih karena over generalisasi yang saya lakukan. Dan bila terpaksa benar, sesungguhnya di dalam fikih Islam sendiri, jumlah rakaat tarawih tidak monolit. Ada yang memilih 36 rakaat; 20 rakaat; ataupun yang lain. Ini pun belum termasuk witir. Syaikh Akbar Ibn ‘Arabi sendiri memilih tak menentukan bilangan tertentu, karena menurutnya tak ada nash yang tegas dalam hal ini. Jika pun terpaksa harus ditentukan, Syaikh Akbar menyarankan agar tak lebih dari 13 rakaat (termasuk witir). Tentu hak Anda untuk tak setuju dan memilih pandangan mainstream, karena memang tak ada paksaan dalam beragama.

Terakhir, mari kita renungkan nasihat akhir Ibn Arabi di dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah berikut:

“Siapapun yang hendak mendirikan qiyam layl di bulan Ramadhan, yang disunnahkan dan diajurkan itu, maka dirikanlah shalat sebagaimana digariskan oleh Syari’, meliputi thuma’ninah, khusyuk, ketenangan, dan merenungi apa yang dibaca. Jika tak sanggup, maka meninggalkan adalah lebih baik.”

Kata-kata terakhir di atas jelas tak dimaksudkan sebagai dorongan untuk meninggalkan tradisi shalat ini, tetapi lebih pada perbaikan kualitasnya. Sebab, seperti terang Sang Arif ini, qiyam al-layl – atau sebut saja tarawih dan asyfa’ – didirikan di bulan ini semata demi mengagungkan Sang Ramadhan, yakni Allah; karena Ramadhan adalah salah satu nama-Nya. Jika kita pun perlu berdiri demi memuliakan kedatangan seseorang yang kita hormati, maka bagi kaum sufi, qiyam atau ‘berdiri’ di malam hari itu tak lain demi menyambut kedatangan Sang Ramadhan, Sang Kekasih. Meski tidak sederajat dengan mereka, semoga kita kecipratan sedikit saja dari etika mereka — minimal dalam sisi lahiriahnya, sehingga kebahagiaan dan keharuan yang menerpa kita di awal datangnya bulan ini benar-benar membekas di hati dan tak menyisakan sedikit pun kepiluan. Insya Allah.

 

*Anggota redaksi Mizan Wacana & pegiat Gerakan Islam Cinta (GIC)

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *