Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 14 October 2017

TASAWUF – Merasa Lebih Unggul dari Orang Lain


arrogance-min

islamindonesia.id – TASAWUF – Merasa Lebih Unggul dari Orang Lain

 

Janganlah memandang hina manusia dan jangan berjalan di atas bumi dengan tidak sopan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang angkuh  lagi berlagak. (QS. Lukman: 18)

Takabur, angkuh atau sombong adalah ungkapan untuk keadaan jiwa seseorang yang merasa tinggi dan  di atas orang lain. Tanda-tanda takabur terlihat pada hasil perbuatan seseorang, demikian pula gejala-gejalanya terlihat jelas sehingga diketahuilah bahwa ia itu orang angkuh.

Takabur berbeda dengan ujub (baca: TASAWUF – Tersipu dengan Amal Baik Diri Sendiri). Namun,  takabur merupakan buah dari ujub. Ujub adalah kekaguman pada diri sendiri, sedangkan takabur adalah mengaggap diri lebih dan mengungguli orang lain.

Apabila seseorang merasa memiliki kelebihan, lalu muncul keadaan senang, bangga, dan genit, itulah disebut ujub. Tapi, apabila ia menganggap orang lain tidak memiliki kelebihan yang dibayangkan ada pada dirinya, berarti ia merasa dirinya lebih unggul dan lebih sempurna dari orang lain. Perasaan itu mewujudkan pada dirinya persepsi akan ketinggian dan kebesaran  sehingga timbul keadaan angkuh dan congkak, maka itu berarti takabur.

Imam Al Ghazali membagi takabur menjadi dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam rusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal.

Menurut Al Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filsuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur bagian kedua, kata Penulis Kitab Ihya ‘Ulumuddin ini, ialah takabur dalam urusan dunia. Takabur jenis ini biasanya disebabkan oleh nasab, harta, kekuasaan, kecantikan, banyaknya pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh ulama.

Contoh gejala takabur ialah ia tidak mau berada bersama orang miskin dalam pertemuan, di jalan atau di dalam kendaraan. Takabur ini merata dalam hampir semua kalangan masyarakat, dari yang elit politik hingga tokoh agama.

Menurut sejumlah ulama, takabur memiliki beberapa sebab. Namun, jika ditelusuri, semuanya bersumber dari khayalan  seseorang akan adanya kesempurnaan dalam dirinya. Ilusi ini mengakibatkan ujub yang berpadu dengan cinta diri, membuat kelebihan orang lain tidak tampak di matanya. Apabila ini terjadi, orang itu akan merasa tinggi di hadapan orang lain, baik dalam hati maupun dalam perilaku lahiriah.

Dalam konteks ini, Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah memberi nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: pasti dosanya lebih sedikit daripada dosaku.  Kalau kamu berjumpa pada orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: pasti amalnya lebih banyak daripada amalku.”

Gurunya Sayidina Ali, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, juga pernah bersabda, “Jika ada seseorang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah rusak’, (dan merasa hanya dirinya tidak rusak), maka ketahuilah sesungguhnya dia yang paling rusak.”[]

 

[Baca juga: TASAWUF – Jihad Melawan Diri]

 

YS/ IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *