Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 10 October 2017

TASAWUF – Bahaya Dominasi Syahwat Menurut Imam Al Ghazali


sufi tasawuf

islamindonesia.id – TASAWUF – Bahaya Dominasi Syahwat Menurut Imam Al Ghazali

 

Terputusnya makhluk dari Al Haq adalah karena mereka menghamba sesama makhluk, baik kepada nafsu, pandangan, maupun perbuatan mereka. Penyimpangan dari akidah yang sahih adalah karena keluarnya mereka dari hakikat diri yang sebenarnya; karena kecintaan pada kedudukan, harta, dunia, kekuasaan, dan kemasyhuran; juga karena panjang angan-angan menunda-nunda berbuat kebajikan, kekikiran, bangga diri (ujub).

Selain itu, karena mereka melampaui batas dalam makan, minum, dan berpakaian.  Mereka dirusak oleh dominasi duniawi dan syahwat. Mereka meninggalkan perang melawan hawa nafsu dan membiarkan nafsu memperbesar keinganan rendah dan sepak-terjangnya.

Mereka ‘berhias’ dan berkelakuan dengan sifat-sifat tercela, seperti iri, dengki, hasud, jahil, ria, dan munafik. Mereka pun menggerakkan anggota tubuh, seperti mata, telinga, lidah, tangan dan kaki, kepada selain Allah, padahal Allah berfirman, “Semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al Isra: 16)

Semua itu mereka pergunakan dengan malas, bodoh, lalai, dan perangai lain yang dapat menjauhkan diri dari Allah Swt.

Penghambaan kepada makhluk dan menuruti hawa nafsu adalah hijab (penghalang) dari Al Haq, dan memamerkan perbuatan adalah syirik.

Penyimpangan dari akidah yang sahih  bisa terjadi karena dominasi hawa nafsu atas kalbu. Cinta pada kedudukan, harta dan dunia merupakan racun mematikan.

Kecintaan pada kekusaaan dan kemasyhuran hanya mewariskan kesombongan dan menjurumuskan orang ke dalam keduniawian. Keduanya merupakan perusak agama.

Panjang angan-angan menghalangi perbuatan baik dan memalingkan orang dari Al Haq. Penundaan berbuat kebajikan adalah tentara setan yang paling besar. Kekikiran, hawa nafsu, dan bangga diri termasuk hal-hal yang membinasakan.

Makanan yang buruk dapat menggelapkan hati, mewariskan kekerasan, dan menjauhkan diri dari Allah Swt. Sebaliknya, makanan yang baik dapat menerangi hati, mewariskan kelembutan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Wahai orang-orang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu” (Al Baqarah: 172)

Makanan yang baik adalah makanan yang halal. Jauhilah hal-hal yang menyebabkan engkau tidak dapat bangun untuk beribadah pada malam hari dan berpuasa pada siang hari.

Makanan yang baik adalah landasan utama bagi perjalanan suatu bangsa. Jika seorang hamba minum, itu tidak bermanfaat baginya hingga dia mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya.

Orang yang paling cepat melewati as Shirath adalah yang paling banyak bersikap warak di dunia. Allah berfirman dalam hadis qudsi: “Hamba-Ku yang lapar akan melihat-Ku, yang bersikap warak akan mengenal-Ku, dan mengosongkan hati dari selain Allah akan sampai kepada-Ku.”

Di dalam hadis qudsi juga, Allah berfirman: “Terhadap orang-orang bersikap warak, Aku malu mengazab mereka.”

Sebagian ulama terkemuka mengatakan, “Hendaklah engkau meraih ilmu, lapar, khumul (tidak mencari kemasyhuran) dan puasa.”

Ilmu adalah cahaya yang bersinar dan lapar adalah hikmah. Abu Yazid berkata, “Saya tidak lapar suatu hari karena Allah kecuali saya temukan di dalam hati suatu pintu hikmah yang tidak pernah saya temukan sebelumnya.”

Khumul adalah ketenangan dan keselamatan, dan puasa adalah sifat Kemahamandirian Abadi yang tidak ada susuatu pun yang menyerupai-Nya. (As Syuro: 11)

Barang siapa yang berhias dengan sifat itu, dia mewarisi ilmu, makrifat dan musyahadah. Karena itu, Allah berfiman dalam hadis qudsi: “Setiap amalan hambaKu adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberikan balasan baginya.” Selain itu bau mulut  orang yang berpuasa lebih wangi daripada minyak kesturi di sisi Allah.

Sebaliknya, kecintaan kepada duniawi dan dominasi syahwat atas kalbu akan mewariskan seluruh sifat tercela. Selama sifat-sifat tercela itu tidak diganti dengan sifat-sifat terpuji, tidak akan ada minat untuk meraih kedekatan kepada Allah.

Sebagian ulama mengatakan, “Selama hamba dikotori dengan yang selain Allah, dia tidak layak meraih kedekatan, hingga hatinya disucikan dari selain Dia.”

Usman ra berkata, “Kalau hati itu suci, niscaya ia tidak akan merasa puas membaca Al-Qur’an. Karena, hati yang suci akan naik ke penyaksian Al Mutakallim (Allah), tanpa yang lain.”[]

 

YS/Irwan K/IslamIndonesia. Disarikan dari ‘Rawdhah Ath Thalibin Wa Umdah As Salikin’ karya Imam Al Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *