Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 21 March 2017

Mengenal Sultanah Radhiyyah, Ratu Islam dari Delhi


764px-Asif_tomb-564x442

islamindonesia.id – Mengenal Sultanah Radhiyyah, Ratu Islam dari Delhi

 

Banyak wanita yang memiliki gelar sultanah dan malikah (ratu), para ratu Arab jarang yang menyandang gelar sultanah, ahli sejarah lebih sering menjuluki mereka malikah. Julukan sultanah, malikah, al-hurrah dan sitt merupakan gelar bagi para wanita yang memerintah di wilayah Arab dari dunia Muslim.

Salah satu di antaranya yang paling termasyur adalah Sultanah Radhiyyah, yang memegang kekuasaan di Delhi pada tahun 634 Hijriah (1236 Masehi). Dia memiliki status masih lajang ketika mewarisi takhta dari ayahnya, Sultan Iltutmisy, raja Delhi.

Tindakan pertama Radhiyyah sebagai penguasa adalah membuat namanya tercetak pada mata uang  dengan tulisan berikut ini yang jelas sekali di atas beribu-ribu mata uang :

Pilar Kaum Wanita

Ratu Segala Zaman

Sultanah Radhiyyah Bint Syams Al-Din Iltutmisy

Di memilih dua gelar. Yang pertama Radhiyyah Al-Dunya wa Al-Din, yang melalui permainan makna kata radhiyyah (berasal dari akar kata radha, ucapan syukur), diterjemahkan sebagai ‘yang diberkahi dunia dan iman’. Yang kedua adalah Balqis Jihan, Balqis adalah nama Arab dari ratu Syaba, dan Jinan adalah gelar kebangsaan.

Ayahnya, Iltutmisy, merupakan seorang budak yang kemampuan pribadinya telah mengantarnya menuju kejayaan, tidak menghadapi persoalan dengan pengakuan akan nilai seorang wanita. Dimatanya, kebijakan dan keadilan berjalan seiring; inilah soal utama dalam pemahamannya akan Islam, dan karena dia sangat saleh, segala sesuatu yang lain, termasuk perbedaan jenis kelamin, dianggap tidak relevan.

Bakat-bakat Radhiyyah menandainya sebagai pewaris yang nyata. Setelah kematian ayahnya para pangeran dan wasir berusaha menyingkirkannya, Radhiyyah tidak menyembunyikan diri di balik selubung, dia bahkan merebut kembali kekuasaan dengan jalan secara langsung memohon pada rakyat Delhi, dengan menggunakan taktik yang diciptakan oleh ayahnya dalam memerangi ketidakadilan:

“Dia (Iltutmisy) memerintahkan bahwa setiap orang yang ditindas hendaknya mengenakan pakairan berwarna, sementara semua penduduk India mengenakan pakaian putih. Setiap kali sultan menyelenggarakan sidang peradilan dan setiap kali dia mengendarai kudanya, begitu pandangannya jatuh pada seseorang yang mengenakan pakaian berwarna dia akan dengan segera menyelidiki kasusnya dan mendapatkan keadilan dari orang yang menindasnya.”

Tindakan pertamanya begitu dia berkuasa adalah memerintahkan seorang penguasa mutlak selama empat tahun. Dia menunggang kuda bagaikan kaum pria yang bersenjata busur dan kantung anak panah, dan dia tidak mau menutupi wajahnya. Bagaimanapun juga, dia menjalankan tugas-tugasnya dengan kecakapan tinggi dan dinilai sebagai seorang administrator yang sangat baik oleh semua ahli sejarah.

Akhir hidup Radhiyyah berakhir tragis. Pusara itu berada di tepi sungai Jun (Jumma) pada jarak sekitar satu paradang … dari kota.[]

 

 

YS/ Islamindonesia/ Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan, 1994

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *