Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 10 June 2017

Mengenal Khadijah Al-Kubro (Tamat)


IMG_20151014_113400_602

islamindonesia.id – Mengenal Khadijah Al-Kubro (Tamat)

 

Kurang lebih seribu hari, Muhammad dan Khadijah, beserta para pengikutnya diboikot di lembah ‘Sy’ib Abu Thalib’. Menariknya, dari  400 orang warga lembah, yang terdiri dari wanita, laki-laki dan anak-anak, tidak ada satu pun yang menyerah apalagi ‘membelot’ menyerahkan Muhammad Saw pada Bani Umayah. Padahal, tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya pengasingan yang membuat mereka selalu dalam kelaparan, kehausan, kepanasan, kedinginan dan kesakitan hampir setiap hari.

Bagi mereka, menjadi tawanan bersama Muhammad lebih mulia daripada hidup ‘bebas’ tanpa Muhammad. Hampir setiap malam, mata Abu Thalib tidak tidur demi keselamatan Muhammad. Untuk mengecoh musuh yang mungkin menyusup, tak jarang Abu Thalib mengangkat dan memindahkan Muhammad yang sedang tidur lalu menukarnya dengan putranya sendiri. Bahkan paman Muhammad yang bersikeras menolak menyerahkan keponakannya kepada Bani Umayah itu siap mengorbankan putranya.

Demikianlah gambaran orang-orang yang telah ‘tenggelam’ dalam kenikmatan bersama Muhammad meski harus menerima intimidasi dan pengasingan. Khadijah, sang Ratu Makkah, yang sebelumnya hidup ‘serba ada’ dan nyaman, menjelma menjadi sumber ketegaran bagi yang lain di tengah-tengah bencana dan kesusahan. Khadijah menjadikan shalat sebagai wasilah untuk menambah cahaya keimanan sebanyak-banyaknya. Sikapnya yang tenang dan santun secara tidak langsung menjadi pendidikan moral bagi orang-orang yang hidup bersamanya dalam pengasingan.

Dalam waktu tiga tahun, kekayaan Khadijah ludes diwakafkan untuk menyelamatkan orang-orang tertindas di lembah pengasingan. Sebagian besar kekayaannya untuk mendapatkan pasokan air dari kota Makkah. Alih-alih merasa merugi, Khadijah bahkan bersyukur karena kekayaannya digunakan untuk menyelamatkan hamba-Nya yang paling mulia, Muhammad Al Mustafa, keluarga dan pengikutnya yang setia. Suatu kehormatan besar bagi Khadijah yang diberikan kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam mendukung misi agung yang diemban Muhammad.

Di luar lembah, sejarah mencatat setidaknya ada lima pejuang non-muslim yang setia membantu umat Islam yang diboikot ketika itu. Mereka adalah Mut’im bin Ady, Hisyam bin Amar, Zuhayr bin Abi Ummayah, Abul Bukhtari, dan Zama’ah bin Al Aswad. Berkat rasa kemanusiaan dan keberaniannya, mereka menginjak-injak perjanjian pemboikotan yang dibuat Quraisy-Bani Umayah hingga para pengungsi dapat kembali ke rumahnya masing-masing. Sayangnya, dampak pemboikotan selama tiga tahun itu tidak hilang begitu saja. Selain menghadapi kekurangan makan dan air setiap hari, para pengungsi harus menghadapi cuaca yang mencekam dengan fasilitas yang serba terbatas.

Ketika risalah Islam menghadapi tantangan yang berat, Khadijah mengorbankan kekayaannya, kenyamanannya, dan pikirannya untuk Islam. Lepas dari pengungsian, bukan hanya menjadikan Khadijah jatuh miskin tapi juga jatuh sakit.

Belakangan, pasca pemboikotan, Khadijah tampaknya harus mengorbankan hidupnya. Menjelang pagi, tubuhnya yang lemah tak mampu lagi menahan serangan demam. Meskipun sakitnya tidak lama, tapi kesehatannya sangat terpuruk hingga sang perempuan agung itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Ketika wafat, Khadijah tidak lagi memiliki harta benda bahkan untuk membeli sehelai kain kafan pun. Dengan jubah Muhammad, suaminya yang tercinta, jasad Khadijah dikafani lalu dimakamkan. Wafatnya Khadijah, perempuan yang selama ini membantu misi khususnya dalam keadaan derita dan kesulitan itu, telah membuat Muhammad sangat ‘terpukul’. Wanita pertama yang beriman pada keesaan Tuhan, kenabian Muhammad dan hari akhir itu wafat pada 10 Ramadhan, tahun kesepuluh Islam atau 619 M. Ibu Fatimah Azzahra ini dimakamkan oleh suaminya sendiri, Muhammad, di Hujun, Makkah.

Wahai jiwa yang tenang.

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan jiwa yang diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku.

Dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS. 89: 27-30) 

 

YS/Islam Indonesia  Foto: womenw.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *