Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 18 August 2016

OPINI—Puasa Gadget: Jangan Tanya Hukumnya, Lakukan Saja


Puasa Gadget

IslamIndonesia.id—Puasa Gadget: Jangan Tanya Hukumnya, Lakukan Saja

 

Inilah zaman kita. Zaman canggih ketika sebagian besar orang terjebak pada keharusan online terus, mantengin gadget sepanjang pagi-siang-malam, agar tak tergolong kelompok jadul yang ketinggalan update, tak termasuk golongan non-always connect sehingga terlewat banyak berita dan beragam peristiwa.

Begitulah hidup di dunia digital, yang menuntut kita menghadapi berbagai hal dan mengharuskan kita menancapkan perhatian terus menerus tak kenal waktu. Buka-baca-balas email dari kantor, terlibat-tanggapi percakapan di grup chatting, sesekali update status, publish cuitan media sosial, dan masih banyak lagi.

Jika ditanya, “Pernahkah mematikan gawai dan akses internet selama 24 jam full?” Pasti sebagian dari kita akan merasa heran, dan balik nanya, “Buat apa off selama itu?”

Masalahnya, tanpa disadari berbagai perangkat digital itu telah mendistraksi kita dari hal yang sedang kita lakukan, bahkan media sosial membuat kita merasa kesepian dan merasa tak puas dengan diri sendiri. Kita cenderung makin gemar—baik secara sadar atau tidak, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena terlampau seringnya emosi kita ibarat dibenturkan satu sama lain. Merasa resah (atau lebih tepatnya iri) mengapa hidup kita tak seperti orang yang kita lihat di media sosial, di dunia maya yang sebenarnya tak nyata.

Para ahli menyatakan, bukan hanya mengancam orang biasa, gangguan kecemasan media sosial itu, bisa dialami oleh siapa saja, tak terkecuali orang-orang terkenal dan para pesohor, yang kita anggap sudah ngetop dan memiliki banyak pengagum dan penggemar. Hal ini terjadi karena sudah menjadi fitrah manusia, bahwa rasa tak puasnya seringkali tak pernah ada ujungnya. Sehingga siapapun akan dengan gampangnya terjebak pada situasi tergiur membandingkan diri dengan orang lain, dan pada akhirnya justru kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Maka sebelum kepercayaan diri atau self esteem kita drop dan turun drastis, bahkan bukan tak mungkin dapat menyebabkan kita membenci diri sendiri, sebagai gejala dari gangguan kecemasan media sosial atau social media anxiety disorder, maka inilah saatnya bagi kita segera melakukan apa yang oleh para ahli disebut sebagai detoks digital dan detoks emosional. Yakni upaya mengistirahatkan diri, keluar total dari dunia maya dengan cara puasa gadget sekurang-kurangnya 15 sampai 30 menit setiap hari, atau 24 jam penuh, setidaknya di setiap akhir pekan, pada hari Sabtu atau Minggu, khususnya bagi para pekerja kantoran. Sementara bagi mereka yang memiliki waktu luang atau waktu kerja tak terikat office hour, bahkan ada baiknya dapat melakukan puasa gadget selama sepekan penuh.

Detoks emosional sangat erat kaitannya dengan detoks digital karena gadget memang harus diakui sudah menjadi salah satu penyebab mengapa pikiran kita stuck, kusut dan penuh.

Sekadar diketahui, rasa rendah diri, iri, marah, cemas, dan berbagai macam emosi negatif lainnya, sebenarnya merupakan racun bagi jiwa, yang bila dibiarkan tak terkendali justru berpotensi mendatangkan dampak buruk yang bisa saja efeknya menjalar dan terasa ke fisik kita. Itulah sebabnya kita perlu puasa gadget agar pikiran kita bisa punya waktu kembali fresh dan tak selalu gelisah terus-menerus.

Berpuasa gadge akan mengembalikan kita pada ritme alami tubuh dan lingkungan sekitar. Manfaatkan waktu luang itu untuk melakukan berbagai hal yang sering kita abaikan. Salah satunya adalah kembali berkomunikasi dengan orang terkasih secara nyata dan hadir sepenuhnya di tengah keluarga. Inilah latihan penting dalam hidup agar kita kembali mendapatkan kesadaran diri secara penuh atau mindfulness. Agar dengan upaya itu kita kembali menjadi waspada dan sadar sepenuhnya pada apa yang kita pikiran, ucapkan dan kita perbuat. Bisa pula membantu kita dalam menghilangkan rasa cemas dan iri hati melihat orang lain yang semula kita anggap lebih sukses, dan lebih segalanya dari diri kita yang seolah-olah ditakdirkan dalam kondisi serba kurang. Padahal mustahil Tuhan menciptakan kita tanpa keadilan dan kasih-sayang-Nya, bukan?

Dengan detoks emosional dan detoks digital melalui puasa gadget, diharapkan kita akan dapat melihat kondisi kita dalam kacamata logis dan penuh keinsyafan, sehingga dengannya kita mampu lebih bersyukur pada banyaknya karunia yang selama ini kurang kita sadari sepenuhnya.

Dengan makin mantapnya rasa syukur dan kembali pulihnya kesadaran diri, siapa tahu kita bakal kembali menemukan ketenangan dan kebahagiaan batin, yang pada gilirannya akan berdampak pula pada kebugaran dan kesehatan raga kita?

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *