Satu Islam Untuk Semua

Monday, 25 April 2016

OPINI–Gus Mus Memanusiakan Manusia


Gus Mus dan Politik Memanusiakan Manusia

Islamindonesia.id–Gus Mus dan Politik Memanusiakan Manusia

“Tetaplah menjadi manusia. Mengertilah manusia. Manusiakanlah manusia, sebab Tuhan sangat memuliakan manusia.”

Begitu bunyi wejangan singkat yang disampaikan Gus Mus, menjawab permintaan Najwa Shihab untuk memberikan pesan penutup kepada para pemirsa acara Mata Najwa yang dipandunya.

Bagi Gus Mus, begitulah seharusnya cara manusia menjadi manusia dalam upayanya memanusiakan manusia lainnya. Menurutnya, prinsip itu bisa diterapkan dalam lapangan pengabdian apa saja di tengah kehidupan manusia; bisa di lingkungan pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, bahkan juga politik.

Gus Mus lantas bercerita bahwa ketika dulu sempat menjadi politikus, dia bertekad menjadi politikus “yang benar-benar lain daripada politikus lainnya”. Yaitu dengan menjalankan prinsip-prinsip sederhana yang diyakininya itu.

Ditanya alasannya, Gus Mus menegaskan bahwa dalam pandangannya, politik itu tak lain adalah salah satu sarana untuk menciptakan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi seluruh warga masyarakat. Bukan untuk selain tujuan mulia itu. Jika tidak, kata Gus Mus, buat apa dirinya sibuk-sibuk menjadi politikus? Bahkan jika berpolitik dilakukannya bukan demi meraih tujuan kemaslahatan itu, apa buktinya bahwa dirinya adalah politikus yang beragama? Dengan kata lain, bagaimana caranya membuktikan bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang terjun ke dunia politik demi membela kepentingan rakyat?

Maka politik Islami dalam kacamata politikus Muslim, sudah seyogyanya mesti identik dengan upaya-upayanya dalam memanusiakan manusia, sebagaimana Tuhan pun memuliakan manusia.

Saat didesak Najwa dengan satu pertanyaan, apakah politikus Indonesia yang ada saat ini, sebagian besar tidak berpolitik demi tujuan kemaslahatan rakyat? Gus Mus hanya menjawabnya dengan senyum. Sarat makna.

Meski Gus Mus hanya tersenyum, dan kita tak tahu jawaban pastinya, setidaknya kita masih bisa menebak-nebak, masih bisa kembali Membaca Gus Mus Lewat Puisi yang ditulisnya.

Dari sekian banyak puisinya, ada satu puisi sebagai salah satu wujud otokritiknya terhadap cara berislam kebanyakan orang Indonesia. Siapa tahu puisi ini juga pas dialamatkan kepada para politikus yang mengusung nama dan baju Islam dalam berpolitik.

Ya. Gus Mus pernah menulis sebuah puisi yang sepintas dialamatkan kepada dirinya sendiri. Otokritik, adalah gaya khas Gus Mus. Sebagai Kiai, tampak sekali kearifannya dalam setiap upayanya “meluruskan apa-apa yang bengkok, tanpa malah mematahkan yang bengkok itu”.

Kata Gus Mus, puisi otokritik itu ditulisnya saat mengikuti lomba menulis Puisi Islam. Maka judulnya pun dibuatnya sederhana, “Puisi Islam”.

 

PUISI ISLAM

Islam agamaku nomor satu di dunia
Islam benderaku berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya

Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandang
Tempat aku menusuk kanan kiri
Islam media massaku
Cahaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam saat ini

Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku
Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara

Islam pulsaku
Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi
Islam makananku
Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci
Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati
Islam kaosku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa saja

Tuhan, Islamkah aku?

Seperti halnya Gus Mus bertanya kepada dirinya, “Tuhan, Islamkah aku?” Bukankah kita pun layak bertanya kepada diri kita masing-masing pertanyaan serupa?

Perihal Gus Mus, tak salah jika Mata Najwa mencatatnya sebagai sosok pengayom dan pendidik yang egaliter. Dia bisa bergaul dengan siapa saja, dari politisi hingga rakyat jelata, tanpa kehilangan marwahnya sebagai ulama.

Persis sebagaimana disampaikan dalam catatan penutup Mata Najwa: Menjadi alim ulama bukan hal mudah, sebab ulama tak sekadar pandai berkhotbah. Ulama harus pandai membaca zaman agar ajaran agama dapat terus relevan.

Sudah selayaknya ulama tak gemar membuat penghakiman, sebab menghakimi adalah haknya Tuhan.

Seperti itulah sosok Gus Mus yang kharismatik. Istiqomah dalam mengayomi dan mendidik.

Dialah ulama yang bisa berbicara melalui sastra. Mampu menghidupkan rasa dengan seni rupa.

Nasihat-nasihatnya tak bikin gaduh. Puisi-puisinya terasa teduh. Lukisannya amat menyentuh.

Gus Mus dapat bergaul dengan siapa saja. Dari politisi hingga jelata, tanpa kehilangan  marwahnya sebagai ulama.

Karena Indonesia adalah bangsa berbhineka. Ulama harus jadi guru bagi semua. Dapat merangkul siapa saja.

Itulah teladan yang diberikan Gus Mus, kiai yang berdakwah dengan berbagai jurus.

Semoga akan selalu ada sosok Gus Mus di mana saja, agar Islam terus menjadi rahmat bagi semesta.

 

EH/Islam Indonesia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *