Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 24 September 2016

KOLOM – Alwi Shihab: Bahasa Air Mata


larmes_199119763

Oleh Alwi Shihab*

 

Banyak cara untuk menyampaikan pesan dan terdapat aneka ragam bahassa berkomunikasi, bahkan berdiam seribu bahasa sering lebih efektif untuk mengungkapkan sikap Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS. yang diperintahkan Allah SWT. berdiam atau menggunakan simbol untuk menyampaikan pesan (QS 3:41 dan 9:26). Terkadang aksi mogok makan sebagai protes, Ummu Kaltsum, penyanyi tanah Mesir pernah mengalunkan suara dari gubahan Ahmad Syaugi yang menggambarkan bahwa bahasa terkadang tidak seampuh lirikan mata untuk mengekspresikan asmara. “Lumpuh ungkapan bahasa, namun tatapan mata yang menyala lebih ampuh untuk menekspresikan cintaku kepada kekasih”, kata Syauqi. Diantara sekian banyak sarana komunikasi, linangan airmata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam.

Kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing kapan terakhir kita menangis dan mengapa kita menangis. Mencucurkan air mata bukan semata monopoli anak kecil atau kaum wanita. Manusia-manusia agung pun mencucurkan airmata. Dalam sirah (biografi Nabi Muhammad SAW) diriwayatkan bahwa beliau mencucurkan air mata saat mencium putranya Ibrahim, ketika menghembuskan nafas yang terakhir. Melihat air mata nabi yang tak terbendung, Abdurrahman ibn Auf tercengang dan berkata, ”Engkau menangis wahai Rasul”. Nabi menjawab, ”Ini adalah rahmat Tuhan”, lalu beliau bersabda: “Airmata berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diredhai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan ini”.

Nabi Isa as pun menangis. Menurut riwayat Perjanjian Baru (St. John), Mary dan Martha meminta kedatangan Jesus untuk mengobati saudara mereka Lazarus yang telah meninggal. Menurut St. John, perasaan Jesus sangat terganggu dan sedih sambil mencucurkan airmata.

Pertama-tama kita harus sadari bahwa menangis adalah kenyataan biologis, ia berfungsi sebagai sistem pembersih kornea mata. Oleh karenanya jika air mata mengendap dibalik mata, alat penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin hanya manusia yang mengaitkan airmata dengan responsi emosial. Ahli-ahli ilmu Jiwa mendeteksi bahwa mereka yang sering menangis, terutama anak-anak kecil, lebih sempurna keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Manusia adalah makhluk yang peka dan acap menangis, ia menangisi jika disakiti, ketika ia takut, ia sedih ingin dikasihani, bahkan apabila bahagia.

Masih dalam lingkup menangis, manusia terkadang mengeluarkan airmata buaya jika hendak mengelabuhi atau menipu. Oleh karenanya kita perlu memahami bahasa airmata. Bahasa ini terkadang lebih jelas dari bahasa kata-kata, ia memiliki aturan tertentu yang menghubungkan pemikiran dan emosi melalui sarana yang sangat canggih. Menangis bersumber spiritual manusia. Namun sayangnya manusia pada umumnya menggunakan standar ganda dalam menghadapi budaya tangis. Hanya kaum Hawa yang dinilai wajar menangis, bahkan dalam kebudayaan tertentu wanita akan diberi tempat layak apabila ia mengucurkan airmata pada situasi tertentu. Sebaliknya anak lelaki atau pria, rasa hormat akan diberikan ketika mereka dapat menahan airmata. Bahkan atribut ketegaran sering diberikan kepada seorang wanita, dikala ia menahan linangan airmata.

Kalau saja kita dapat memahami bahasa tangis, pandangan sepihak atau standar ganda yang selama ini membentuk persepsi kita akan lambat laun kita tanggalkan. Salah satu cara untuk mengoreksi kekeliruan tersebut adalah upaya untuk membedakan tipe-tipe tangis yang sangat bervariasi.

Variasi Tangis

Airmata dapat melaju karena faktor fisiologis. Mata terkena debu, aroma bawang atau gas yang mengandung bahan kimia. Airmata juga dapat keluar saat tingkat hormon tidak seimbang. Adapula airmata yang didorong oleh kenangan yang mengesankan, yang indah atau yang buruk. Kita hidupkan kenangan-kenangan tersebut melalui linangan airmata. Lain lagi airmata yang memberikan rasa lega, yang berfungsi sebagai terapi untuk mengatasi rasa cemas yang berkepanjangan. Kita pun menangis akibat tangisan orang banyak, misalnya tangisan saat tangisan saat perkawinan, wisuda atau memasuki masa purnabhakti. Airmata ini pertanda keakraban hubungan.

Airmata juga melambangkan ekspresi rasa kehilangan, terutama bila yang hilang sangat berarti bagi seseorang. Jangankan manusia, meninggalnya anjing kesayangan mantan Presiden Amerika, George Bush, sangat membesar pada hati keluarga Bush, demikian menurut berita CNN. Kematian tanpa cucuran airmata dianggap anomali. Dalam kebudayaan Yunani, Cina dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi jenazah masih berlaku sampai sekarang. Pada saat-saat perpisahan, airmata mengekspresikan rasa penghargaan dan mengundang refleksi, depresi, frustasi dan putus-asa juga membangkitkan laju airmata yang deras. Airmata yang keluar saat itu sebagai akibat ketidakberdayaan, sangat menyayat hati. Ketika itu kita benci melihat tetesan airmata.

Dilain pihak, kita sering menangis karena tidak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata sangat terbatas untuk menampung rasa bahagia yang begitu dahsyat. Kelahiran anak pertama, keberhasilan yang didambakan. Airmata simpati akibat kesedihan yang ditimpa orang lain sering juga kita alami. Bahkan terkadang kita sengaja mengeluarkan uang untuk mengundang air mata tersebut melalui pertunjukan film. Imaginasi kita dapat membangkitkan rasa haru yang disusul dengan tangisan tersedu-sedu. Ada pula tangisan yang bersifat manipulatif dengan cara mengundang simpati orang lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan vonis/hukuman. Yang paling pandai menggunakan tangisan ini adalah anak-anak dan mungkin juga wanita, demikian Joseph Kottle dalam bukunya The Language of Tears.

Agama dan Tangis

Air mata yang tercurah akibat penyesalan atau dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan atau kekhawatiran akan nasib di hati kemudian, disamping kebahagiaan atas penemuan dan kehampiran kepada Tuhan, kesemuannya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci. Dalam literatur tasawuf, sebelum kata “Sufi” (yang menunjuk kepada kelompok yang menekankan aspek spritual dalam kehidupannya), populer digunakan, kelompok ini diberi atribut Al-Bakkauun yang berarti “Penangis atau yang suka menangis”. Kelompok ini yang dipelopori oleh Al-Hasan Al-Bashri, tiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedut. Ketika surga disebut, mereka mengucurkan airmata sambil berharap dapat memasukinya, dan ketika siksaan neraka digambarkan mereka pun menangis karena takut terjerumus kepadanya.

Pengalaman spiritual seseorang khususnya di tempat-tempat suci membangkitkan rasa syahdu, khusyuk sehingga airmata laju tak terbendung. Umat Yahudi bahkan memiliki Wailing Wall (Dinding Ratap), dimana mereka meratap sambil memohon ampunan. Demikian halnya umat Kristen ketike melawat ke Jerusalem, sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Yesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam (sisi kanan Hajar Aswad di Ka’bah), dimana mereka meratap sambil mengenang kehidupan serta perjalanan spiritual Jesus, airmata yang membasahi pipi terlihat dimana-mana. Tidak ubahnya dengan umat Islam yang dibarengi cucuran airmata dan tangisan merupakan hal biasa.

Belum lagi saat beraudiensi di makam Rasulullah di Madinah sambil mengucapkan salam dan penghargaan kepada Beliau, suara tangis terdengar walau dari kejauhan. Hal yang sama dapat dijumpai dihadapan maqam Imam Husein di Karbala atau Cairo, pengunjung bertangisan mengenang perjuangan beliau meletakkan keadilan walau harus mengorbankan jiwanya.

Sungguh, bahasa airmata secara jelas menyampaikan pesannya, “Ya Tuhan, aku datang memohon ampunan dan mengharapkan rahmat. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengikuti jejak RasulMu”.

Dalam Al-Qur’an kita jumpai kata-kata menangis, atau cucuran airmata disebut beberapa kali. Terkadang menggambarkan kesedihan atas kematian (44:29), atau kekhawatiran atas ancaman Tuhan (53:60). Terekam pula airmata saudara-saudara Nabi Yusuf AS. saat mengelabuhi ayahnya, Nabi Ya’qub AS. (12:16). Tangis sedu lagi khusyu’ sebagai manifestasi iman dan kehampiran kepada Allah SWT (17:107 dan 19:58). Disamping itu Al-Qur’an menggambarkan betapa sebagian umat Kristen mengucurkan airmata saat mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Curahan airmata dibarengi dengan kesaksian terhadap kebenaran wahyu ilahi (5:83). Tergambar pula tangisan suatu kelompok yang bersedih hati karena harus tertinggal dari suatu peperangan dijalan Allah (9:92).

Mari kita merenung bersama, apa yang menjadikan airmata kita melaju. Apakah hanya terbatas ketika sedih karena kehilangan, depresi karena frustasi, atau ketidakberdayaan karena jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar peringatan Tuhan, atau mengenang perjuangan rasul-rasul Nya? Semoga demikian.[]

 

*Cendekiawan Muslim Indonesia. Pernah mengajar di Hartford Seminary, Connecticut, USA.

 

YS/IslamIndonesia/Sumber:undzurilaina.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *