Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 01 June 2016

ANALISIS—Mengapa Banyak Skandal di dalam Istana Kerajaan?


Al Waleed bin Talal

Islamindonesia.id—Mengapa Banyak Skandal di dalam Istana Kerajaan?

 

Beberapa tahun silam, di tengah hiruk pikuk empat hari penuh perayaan 60 tahun naiknya Elizabeth II sebagai Ratu Inggris, salah satu televisi lokal negara itu menyiarkan laporan bertajuk “Pandangan Alternatif”. Pada intinya laporan ini mengangkat persoalan: “Apakah Ratu dan sistem monarki atau kerajaan masih relevan untuk Inggris?”

Selain menampilkan aksi beberapa warga Bristol, salah satu kota di Inggris barat, yang membuat grafiti dengan pesan: “Kerajaan Tak Cocok Lagi Bagi Inggris”, wartawan televisi itu juga menanyai beberapa warga yang hadir dalam perayaan di depan Istana Buckingham, “Apakah peran dan fungsi ratu bisa dipertahankan di era modern?” Dan jawaban warga memberikan gambaran bahwa tidak semua orang di Inggris setuju dengan sistem monarki, betapapun PM Inggris kala itu telah menyebutnya sebagai monarki konstitusional, dengan alasan sebagai upaya memodernkan sistem monarki yang masih ada di dunia.

Kelompok yang tidak sepakat dengan PM Cameron justru menyatakan bahwa Inggris semestinya meninggalkan kerajaan dan menerapkan sistem Republik, yang pemerintahannya dipilih langsung oleh rakyat dan para pejabatnya juga bertanggung jawab kepada rakyat. Monarki, kata mereka, begitu saja mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun dan tidak ada mekanisme yang jelas tentang pertanggungjawaban dalam menjalankan kekuasaan kerajaan kepada rakyat.

Pangeran Charles

Belum lagi di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa penguasa di balik tembok megah kerajaan kerap tak dapat dijadikan teladan bagi rakyat. Sebut saja salah satu contoh kasus menghebohkan yang menimpa Pangeran Charles. Mantan suami Diana ini, selain pernah terbukti menjalin hubungan rahasia dengan wanita yang pada akhirnya benar-benar dinikahinya, juga pernah mengagetkan publik dunia dan terlebih warga Inggris, setelah skandal hubungan rahasianya dengan mantan pelayan pria di Istana Buckingham terkuak. Siapa sangka pewaris tahta kerajaan Inggris ini ternyata penyuka sesama jenis?

Meski pihak istana telah membantahnya, bagaimana bukti rekaman video yang diserahkan pelayan bernama George Smith kepada Putri Diana melalui Paul Butler (mantan pelayan Putri Diana) kala itu bisa begitu saja dapat dibantah?

Begitupun dengan skandal asmara Putri Diana sendiri yang berujung tragis, menambah daftar panjang beragam peristiwa dan perilaku tak elok para penguasa dan keluarga mereka, di balik tembok megah kerajaan yang seolah tak tersentuh dunia luar.

Alwaleed Bin Talal

Di belahan dunia lain yang jauh dari Inggris, tepatnya di balik istana megah Kerajaan Saudi, di jantung kota suci Islam, Mekkah, hal tak jauh beda ternyata juga terjadi. Salah seorang pangeran di kerajaan itu pun, sebagaimana Pangeran Charles, juga disebut-sebut melakukan aksi asusila. Tepatnya, terkait perilaku tak pantas yang pernah dilakukan pangeran bernama Alwaleed Bin Talal Bin Abdulaziz Alsaud terhadap seorang gadis, model blasteran Jerman-Spanyol di kapal mewahnya.

Siapa tak kenal sosok Prince Alwaleed, anggota keluarga kerajaan Arab Saudi yang satu ini? Hampir semua orang, tak terkecuali di negeri kita, pasti mengenal sang pangeran yang merupakan konglomerat super kaya raya dan memiliki banyak investasi di berbagai bidang ini. Apalagi setelah kedatangannya ke Indonesia beberapa pekan silam. (Baca: Mau Apa Pangeran Alwaleed Berkunjung ke Indonesia?). Namun, siapa pernah menduga, bahwa keponakan Raja Abdullah ini ternyata pernah tersangkut kasus pemerkosaan di Spanyol itu?

Seperti pernah ramai diberitakan, siapa sangka bahwa Chairman dari Kingdom Holding Company dan Alwaleed Philantropis ini disebutkan telah memperkosa seorang gadis di Ibiza, Spanyol, tepatnya di yacht pribadi miliknya?

Kita tahu, pemberitaan kasus itu sempat berlangsung lama di Spanyol, dan baru setahun kemudian dihentikan karena dinilai “kurang bukti”. Namun hingga kini, tetap saja perilaku menyimpang dan tindak pidana sang Pangeran menjadi pertanyaan publik, meski gadis berkebangsaan Jerman-Spanyol yang berprofesi sebagai model dan mengaku diperkosa itu pada akhirnya tak jadi mengajukan banding ke pengadilan sehingga kasusnya ibarat terkubur diam-diam.

Menilik fakta-fakta yang belakangan kian banyak terungkap, mungkin banyak di antara kita yang bertanya-tanya, kira-kira masih adakah kasus dan skandal lain terkait kelakuan miring para Pangeran dan para petinggi di beberapa kerajaan yang saat ini masih eksis di dunia? Jawabnya, dalam hitungan puluhan bahkan ratusan, tentu saja masih banyak yang bisa disebutkan.

Maka, kehadiran sisten kerajaan yang dijalankan oleh orang-orang yang kerap terbukti tak dapat dijadikan sosok teladan bagi rakyat itu, di era ini, masih layakkah tetap dipertahankan?

Secara objektif, selain sistem, mungkin yang tak kalah penting dan perlu juga dipikirkan adalah faktor manusia selaku pelaksana sistem tersebut. Sebab sejarah membuktikan, tidak sedikit negara atau kerajaan di bawah kepemimpinan seorang raja, yang selain sejahtera, rakyatnya juga mendapatkan hak-hak politik dan ekonominya secara penuh. Namun sebaliknya, tak sedikit pula pemimpin negara Republik dengan amanah kekuasaan yang besar justru terjerumus menjadi diktator dan tak ayal diturunkan paksa melalui gerakan revolusioner rakyat.

Pendek kata, siapapun yang menjadi pemimpin atau sistem apapun yang dipilih, bila berorientasi pada rakyat—baik dari aspek kepentingan, pelayanan, keadilan maupun kesejahteraan, maka sang pemimpin dan sistem itu akan terus disokong penuh oleh rakyat.

Karena biasanya penolakan, perlawanan revolusioner rakyat hanya akan muncul bila sistem dan kekuasaan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi si penguasa dan kroni-kroninya, termasuk nafsu untuk memperkaya diri dan keluarga mereka. Sementara pada saat yang sama, rakyat justru dipangkas aksesnya pada sentra-sentra ekonomi yang berpeluang besar menyejahterakan kehidupan mereka. Sedangkan dalam bidang politik, kebebasan rakyat dibelenggu dan suara mereka dibungkam paksa.

Hal ini sebagaimana sudah terbukti, khususnya di kawasan Timur Tengah sejak beberapa tahun silam yang ditandai dengan bangkitnya kekuatan rakyat melawan penguasa hingga para tiran itu benar-benar jatuh terjungkal dari singgasana kekuasaan.

Maka begitulah apa yang dinamakan gelombang “Arab Spring” itu telah menelan banyak korban, baik di pihak rakyat maupun penguasa. Jika tak belajar dari peristiwa itu, baik kerajaan Inggris maupun monarki Arab Saudi, pada saatnya nanti—sesuai kehendak rakyat, tak mustahil bakal juga tumbang.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *