Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 07 July 2018

Renungan Pagi- Abdillah Toha: IMAM


Abdillah Toha

islamindonesia.id — Abdillah Toha: IMAM

Oleh: Abdillah Toha

Imam dapat berarti macam-macam. Umumnya ketika kita menyebut imam yang dimaksud adalah Imam shalat. Biasanya yang dianjurkan menjadi imam dalam shalat berjamaah adalah mereka yang paling fasih dan paling hafal ayat-ayat Quran.

Imam juga diartikan sebagai dia yang posisinya paling depan seperti ketika memimpin shalat. Yang di belakang disebut makmum yang mengikuti proses gerak Imam. Berada di posisi terdepan sebagai Imam juga diartikan sebagai pemimpin.

Dalam konteks agama Imam adalah pemimpin spiritual atau pemimpin dan ahli dalam bidang agama. Dikalangan Ahlussunnah, para pencetus mazhab fiqih disebut Imam seperti Imam Shafii, Imam Malik, Imam Hambali, dan Imam Hanafi. Pengumpul hadis seperti Bukhari Muslim dan Abu Dawud juga menyandang gelar Imam. Begitu pula pemikir utama dalam bidang teologi Islam disebut sebagai Imam seperti Al-Ash’ari, Almaturidi, Ata bin Wasil, dan ibn Hanbal.

Dalam mazhab imamiyah, Imam mempunyai kedudukan sangat tinggi. Dipercaya oleh penganutnya sebagai terjaga dari perbuatan dosa (ma’shum), dan para Imam yang berjumlah dua belas dari keturunan  Nabi Muhammad SAW dalam mazhab ini dipercaya pula sebagai pilihan Tuhan yang sah dalam meneruskan misi kenabian terakhir.

Di beberapa negara Barat pimpinan kelompok peribadatan Muslim setempat seringkali disebut sebagai Imam. Di mata orang Barat hal ini sering disalahpahami seakan Imam itu adalah setara dengan pendeta. Jelas keliru karena dalam Islam tidak ada perantara dalam beribadah antara Tuhan dan hambanya.

Di Turki Imam adalah pimpinan masjid yang sekaligus memimpin shalat Jumat dan berkhotbah. Pemerintahnya menentukan syarat-syarat untuk menjadi imam seperti harus lulusan sekolah agama tertentu dan setiap Imam harus punya sertifikat yang sah dari pemerintah.

Dalam hubungan ini di negeri kita ada gelar Imam Besar yang relatif belum terlalu lama. Tidak jelas pula Apa yang dimaksud dengan imam besar. Ada Imam Besar Masjid Istiqlal. Pimpinan masjid Ini kemungkinan diberi gelar Imam Besar karena Istiqlal adalah masjid terbesar di Indonesia. Ada pula seseorang yang diberi gelar Imam Besar umat Islam. Ini lebih tidak jelas lagi karena tidak jelas siapa yang mengangkatnya dan tidak jelas pula apa fungsinya sebagai Imam Besar umat Islam Indonesia.

Dengan demikian maka lengkap lah negeri ini memiliki berbagai gelar untuk berbagai profesi keagamaan Islam seperti  Ustaz, Kyai, Habib, Ulama, Imam, dan Imam Besar. Untuk bagian besar dari gelar-gelar ini tidak pernah ada aturan yang jelas siapa yang berhak menyandang nya dan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi.

Yang lebih jelas adalah bahwa para penyandang gelar ini kemudian meraih status sosial keagamaan yang tinggi dan menjadi panutan banyak pihak. Karena tidak adanya persyaratan resmi yang harus dipenuhi oleh penyandang gelar tersebut maka yang terjadi adalah semacam anarki keagamaan di mana orang-orang tertentu yang belum tentu pengetahuan keagamaannya cukup telah mengklaim sebagai guru atau pembimbing agama bagi khalayak ramai.

Akibat berikutnya adalah pemahaman keagamaan muslim di negeri ini menjadi pemahaman superfisial atau pinggiran yang mudah diombang-ambingkan dan ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Akibat sampingan lainnya adalah terpecah belahnya kelompok-kelompok muslim dengan berbagai penafsiran yang berbeda tentang misi keagamaannya.

Dalam al-quran ada ayat terkenal tentang Imam. Yakni ayat doa nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah agar diberi keturunan sebagai pemimpin atau Imam dari mereka yang bertaqwa (wa ij’alna lil muttaqiena imaman)(al-Furqan:74). Di sini jelas yang dimaksud dengan imam adalah para nabi keturunan Ibrahim. Tuhan mengabulkan doa Ibrahim dengan menjadikan delapan belas dari keturunannya sebagai nabi dengan Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.

Jika benar bahwa yang dimaksud dengan imam adalah nabi atau setidaknya penerus misi kenabian maka gelar Imam bukanlah gelar main-main dan tidak boleh diberikan kepada orang secara sembarangan. Wallah a’lam.

AL/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *