Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 13 October 2015

OPINI – Imam Besar dan Tragedi Mina


Ali-Mustafa-Yaqub

Oleh: Abdillah Toha

Rakyat atau ummat menderita dan salah jalan seringkali disebabkan oleh pemimpinnya yang salah mengarahkan. Saya tidak tahu siapa yang memberikan gelar agung itu tapi Masjid Istiqlal, yang menjadi kebanggaan umat Islam Indonesia, saat ini punya Imam Besar bernama Ali Mustafa Yaqub (AMY).

Imam lulusan universitas di Saudi Arabia ini sering muncul di TV, menulis di koran, dan mengajar dimana-mana. Belakangan sering membuat komentar yang, bukan hanya membingungkan, tapi juga cenderung merisaukan umat. Terakhir beliau menulis di situs daring Republika (republika.co.id) tanggal 9 Oktober, analisis menakjubkan tentang penyebab peristiwa tragis di Mina pada musim haji tahun ini dengan judul “Aktor Intelektual Tragedi Mina”.

AMY antara lain menyimpulkan: “Sekiranya ada 100 orang yang jatuh dan terinjak-injak sampai mati, maka yang seribu orang tentunya akan berusaha menghindarkan diri dengan mundur ke belakang. Akan tetapi, seperti diberitakan justru semuanya mati terinjak-injak. Maka suatu hal yang mungkin sekali bahwa ada kelompok jamaah haji yang memang mendapatkan tugas untuk merobohkan jamaah yang lain, kemudian kelompok yang lainnya menginjak-injak mereka sehingga yang roboh itu kemudian mati”.

Beliau melanjutkan, “Apabila perkiraan ini benar, maka hal itu bukanlah perbuatan orang yang beribadah haji, melainkan perbuatan orang-orang yang sengaja membuat kekacauan”.

Di ujung analisisnya, AMY kemudian menutup dengan kesimpulan tendensius bahwa di hari depan kejadian ini bisa terulang lagi ” kecuali apabila aktor intelektual dan kelompok jamaah haji yang selalu membuat keonaran di tanah suci itu tidak dizinkan lagi memasuki Arab Saudi”.

Tidak dijelaskan siapa kira-kira kelompok itu.

Kesimpulan itu memberi tahu umat bahwa tidak semua Muslim itu baik. Bahwa ada kelompok Muslim jahat yang berniat mencederai Muslim lain. Atau bahkan mereka itu kelompok kafir yang mengaku Islam. Dari mana dia membuat spekulasi ini kita tidak tahu, namun yang jelas AMY sangat gegabah dan menyimpulkan kasus besar seperti ini tanpa menguasai ilmu yang ada hubungannya dengan kumpulan massa di suatu tempat.

Dalam bahasa Inggris ada kata “stampede” yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus ia hanya diartikan sebagai “lari tunggang langgang karena takut”. Sebenarnya stampede terjadi saat massa yang berdesakan panik atau terlalu bersemangat ingin mencapai arah tertentu dengan mendahului yang lain.

Stampede berasal dari istilah gerombolan hewan seperti kuda dan sapi yang panik lari tunggang langgang tidak terarah karena mendengar atau melihat sesuatu yang mengejutkan. Pada manusia, stampede sering terjadi pada massa padat yang melakukan ibadah bersamaan di satu tempat seperti di Mina, atau juga seperti telah pernah terjadi pada penganut agama Hindu di Gangga.

Stampede juga bisa terjadi dalam arena olah raga atau konser musik ketika penonton berebut masuk atau keluar arena ke arah yang sama. Semua itu ada contoh-contoh nyatanya yang mengakibatkan puluhan bahkan ratusan manusia tewas dan cedera.

Karena telah berkali-kali terjadi, stampede telah menjadi bahan penelitian di berbagai universitas terkenal. Berdasarkan penelitian, stampede terjadi ketika massa begitu padat di tempat yang terbatas sehingga satu meter persegi di tempati oleh antara 6 sampi 7 orang. Tanda-tanda akan ada stampede mulai terasa ketika keempat sisi orang sudah bersentuhan dengan orang lain.

Stampede terjadi karena jumlah manusia yang begitu besar dan massa jauh dibelakang tidak sadar dan tidak mengetahui akan sudah jatuhnya korban yang berada jauh didepan dan terus mendesak dari belakang. Sebagian besar korban stampede tewas berdiri kehabisan nafas kemudian terjatuh.

Stampede juga terjadi karena tertutupnya saluran, dalam hal ini pintu keluar, atau sengaja ditutup untuk alasan tertentu. Seperti tekanan air yang besar, bila tertutup salurannya maka pipa akan meletus. Seorang ahli dari University of Sussex, Annne Templeton, mengatakan kepada Newsweek bahwa kepadatan saat itu di Mina mencapai 6 sampai 8 orang per meter persegi. Begitu ada satu atau dua yang jatuh, maka itu akan menciptakan ruang yang akan diisi oleh massa dari belakang sehingga yang jatuh akan terinjak. Bukan diinjak, sebenarnya, karena yang menginjak tidak punya pilihan lain karena terdesak oleh yang jauh dibelakang dan tidak dapat melihat apa yang terjadi jauh didepannya.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa selama tiga dekade korban akibat stampede di berbagai tempat di dunia mencapai 7.000 tewas dan lebih dari 14.000 cedera. Penelitian tentang penyebab dan perilaku manusia dalam stampede masih terus berjalan di berbagai perguruan tinggi. Salah satu temuan mengatakan bahwa kejiwaan manusia berubah dalam situasi stampede dan perilakunya menunjuk kepada gerakan ke satu arah yang sama.

Stampede bisa dihindari bila ada manajemen massa (crowd management) yang baik. Ketika  4 orang sudah berdempet pada satu meter persegi, petugas sudah harus mulai waspada untuk menyetop massa di bagian belakang. Pintu-pintu darurat harus dibuat dengan pintu yang dapat dibuka ke arah luar, bukan ke dalam. Dimana letak kesalahan penyelenggara haji, sebaiknya kita menunggu hasil investigasi independen, bila itu dilakukan, sehingga kejadian serupa tidak akan terulang.

Karenanya, sangat disayangkan sang imam besar AMY, tanpa dasar yang kuat, telah membuat analisis kesimpulan yang menyesatkan. Sang imam tidak berhenti disitu. Dalam komentar-komentar lain di berbagai media, AMY membuat analisis dan pernyataan yang kurang bertanggung jawab.

Dalam sebuah tulisan lain, entah dengan tujuan apa, AMY membuat kesimpulan tentang banyaknya kesamaan dan paralel antara NU dan Wahabi. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi bila mengingat fakta NU didirikan oleh Hadratussyech Hasyim Asy’ari justru untuk menghadang “pembersihan” yang dilakukan Wahabi dan disaksikannya sendiri di Makkah atas kelompok Muslim yang dianggap tidak sejalan dengan mereka? Sebagai ormas ahlussunnah terbesar di Indonesia, kita ketahui NU sangat sarat dengan cara-cara damai dalam dakwahnya, sedangkan Wahabi menghalalkan kekerasan dalam menghadapi Muslim yang tidak sejalan dengan alirannya. Bukan rahasia lagi bahwa kelompok-kelompok teroris terkenal di dunia seperti ISIS, Alqaeda, Alnusra,dan sebagainya, semuanya adalah gerakan yang terpengaruh oleh ajaran Wahabi.

Sang imam juga berpolitik dengan mengambil sikap politik dengan mendukung pembantaian rakyat Yaman yang Muslim dan penghancuran negeri miskin itu oleh Saudi dan kawan-kawan dengan melanggar seluruh aturan agama dan hukum internasional.

Dalam kesempatan lain, imam besar ini merasuki pikiran warga NU dengan mewanti-wanti agar warga NU tidak memilih beberapa pemimpinnya yang, menurutnya, sudah kesusupan mazhab Syiah dan Islam liberal. Apa gerangan motivasi beliau? Menyelamatkan NU atau memecah belah? Ataukah barangkali ada kekuatan lain yang mendorongnya berbuat demikian?

Semua perilaku imam besar ini yang berdalih “menjaga kemurnian ahlussunnah”, sebenarnya sedang melemahkan umat Islam dengan memecah belah antar kelompok Muslim dan aliran yang sah dalam Islam. Imam Besar yang seharusnya menjadi panutan makmumnya justru sedang mengisi umat dengan gagasan dan pandangan yang berliku-liku.

Semoga untuk selanjutnya Masjid Istiqlal dan lembaga-lembaga Islam penting lainnya mendapat pimpinan yang lebih bertanggung jawab dan memiliki niat baik untuk menguatkan umat dan memelihara persatuannya.

2 responses to “OPINI – Imam Besar dan Tragedi Mina”

  1. armi says:

    analisis dan kesimpulan dongo, hanya berdasarkan nafsu dan titipan dari onta arab.

  2. fuad says:

    kalau dengki sdh mendalam logika nihil, analisa ngawur dan kelihatan bodohnya. sangat disayangkan seorang MA punya analisa ngawur hanya karena dengki sdh mendalam pd suatu golongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *