Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 28 June 2016

OPINI—Abdillah Toha: Memimpin Dalam Perubahan (Bagian 1)


AT

Islamindonesia.id—Abdillah Toha: Memimpin Dalam Perubahan (Bagian 1)
Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang berhenti dalam hidup. Satu-satunya yang tetap dalam hidup adalah perubahan. Tuhanpun tidak berhenti berkarya dengan setiap saat mencipta. Sejarah telah membuktikan bagaimana kehidupan di planet yang kita huni bersama ini terus berubah. Ketika ada adagium history repeats itself, yang dimaksud bukan kejadian yang sama berulang, tetapi pola pikir manusia yang seringkali tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu dan mengulang tabiat atau perilaku yang sama dalam menghadapi perubahan.

Tidak ragu lagi bahwa percepatan inovasi teknologi dalam setengah abad terakhir yang secepat kilat telah berdampak pada hampir seluruh sisi kehidupan kita. Begitu cepat perubahan-perubahan belakangan ini sehingga banyak dari kita menjadi gagap untuk meresponnya dengan tepat. Mengelola perubahan sekarang telah menjadi ilmu yang dikembangkan untuk membantu para pemimpin dalam tingkat apapun utk menghadapi tantangan baru ini.

Namun demikian, sebelum kita menerapkan ilmu mengelola perubahan, terlebih dahulu kita harus memahami prinsip-prinsip dasar kepemimpinan. Dalam ajaran Islam, ada hadis yang sudah sama-sama kita kenal. “Setiap kalian adalah penggembala atau pemimpin dan setiap kalian kelak akan dimintai pertanggungjawabannya atas gembala atau kepemimpinan kalian”.

Kita semua adalah pemimpin dalam kapasitas yang berbeda-beda. Dari unit terkecil keluarga sampai masyarakat, negara, dan ummat manusia. Lebih penting lagi, setiap kita adalah pemimpin bagi diri sendiri yang menentukan bagaimana kita membawa diri kita ke arah yang benar, dan bagaimana kita mengendalikan perseteruan tiada henti didalam diri kita masing-masing antara jiwa yang tenteram dan jiwa amarah.

Ketika kita berbicara menyangkut bangsa, mau tidak mau kita terbawa oleh arus sisi emosional dari dalam diri kita meski kita tetap berusaha rasional dan se-obyektif mungkin. Menyangkut kebangsaan, selalu ada semacam pertautan emosi diantara kita sebangsa yang mempunyai perikatan sejarah, budaya, dan asal usul. Karenanya, pemimpin bangsapun tidak dapat lepas dari hubungan batin antara pemimpin dan yang dipimpin.

Pemimpin bangsa tidak dapat diserahkan kepada orang asing yang tiba-tiba datang menawarkan dirinya sebagai pemimpin karena mau tidak mau orang asing tidak dapat sepenuhnya merasakan aspirasi batiniyah dari bangsa yang dipimpin karena dia bukan bagian dari bangsa itu. Namun demikian, pemimpin bumiputra juga belum tentu dapat memenuhi tuntutan batin bangsa yang dipimpin bila ia tidak cukup peka dan bila ia lama mengasingkan dirinya dari kehidupan nyata bangsanya sendiri.

Kepekaan adalah suatu yang dituntut dari seorang pemimpin. Dia bisa saja cerdas tetapi bebal dalam kemampuan membaca perasaan rakyatnya. Pemimpin yang ideal adalah yang melihat rakyat seakan sebagai bagian dari tubuhnya sendiri sehingga ketika rakyat tersakiti maka dia akan merasa bagian tubuhnya terasa sakit pula.

Sumber kekuasaan pemimpin datang dari rakyat dan pada saatnya harus dikembalikan kepada rakyat. Pemimpin juga harus mempertanggungjawabkan kekuasaannya kepada rakyat dan itu berarti dia bertanggung jawab kepada Tuhan, karena sebenarnya Tuhan bukan berada jauh di langit tetapi Tuhan itu dekat dan berada diantara rakyat, terutama diantara rakyat yang tertindas. “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin” kata Bung Karno.

Ketika dalam al-Quran Allah mengingatkan bahwa Dialah yang memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendakiNya dan mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendakiNya, pada hakekatnya Tuhan melakukan itu melalui tangan rakyat yang tertindas. Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa tiadak ada kekuasaan tanpa batas yang akan bertahan selamanya namun manusia tetap saja alpa ketika sedang berada dalam kekuasaan dan merasa kekuasaannya tidak akan runtuh dan akan bertahan selamanya.

Keadilan adalah salah satu nilai tertinggi kemanusiaan. Pemimpin yang adil berdiri di tengah dan bertindak sebagai wasit yang adil. Keadilan bukan menyamaratakan seluruh komponen bangsa tetapi memberi bagian yang berlebih bagi yang kekurangan dan mengurangi kelebihan dari yang berkelebihan. Keadilan sosial adalah mewujudkan kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk meraih sukses dengan membantu yang lemah tanpa membedakan asal usul atau kelas sosial. Keadilan adalah menciptakan kesamaan setiap warga di mata hukum dan memberdayakan warga agar dapat meghadapi perlakuan yang sama di depan hukum. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang mengakui hak rakyat lebih dahulu dari pada hak kelompok kekuatan yang menopang kekuasaan.

Pemimpin bangsa harus punya pegangan moral yang jelas dan kuat. Cara mencapai tujuan sering kali lebih penting dari tujuan itu sendiri. Bila ia seorang Muslim, ia harus sadar bahwa agama Islam bukanlah agama tujuan karena tujuan kita semua sudah jelas bahwa kita akan kembali kepada sang Pencipta. Agama Islam adalah agama jalan. Karenanya dalam sholat yang kita baca berulang-ulang adalah permohonan untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Bukan permohonan untuk meraih keuntungan duniawi. Nabipun diutus semata untuk menyempurnakan akhlak.

Moralitas bangsa juga ditentukan oleh moralitas pemimpinnya. Kemorosotan moral politik kita saat ini disebabkan oleh longgarnya moral para pemimpinnya, sehingga yang salah dianggap normal dan yang benar terpinggirkan. Budaya koruptif tumbuh karena terlalu banyak konspirasi dan kompromi moral dengan dalih menjaga keharmonisan diantara sesama penyelenggara negara. Pertimbangan material jangka pendek mengalahkan pertimbangan moralitas jangka panjang.

Bersambung…

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *