Satu Islam Untuk Semua

Monday, 27 January 2014

Islam Says “Big No” to Racism


Zurijeta/Photos.com

Belum lama ini, ramai di media sosial dibicarakan tentang peristiwa “Avanza vs Truk TNI” di kawasan tol Tomang, Jakarta, yang kabarnya melibatkan komentar-komentar rasisme. Tentu saja kita perlu mendalami kasus tersebut agar dapat menilai dengan adil apa yang sebenarnya terjadi. Namun tak urung peristiwa ini mengingatkan kita pada sebuah survei tingkat rasisme negara-negara di dunia yang diadakan World Value Survey.

Tahun 2013 lalu, lembaga tersebut mencoba mengukur tingkat rasisme di kalangan masyarakat di 80 negara. Dalam survei itu, responden ditanya apakah mereka bersedia bertetangga dengan orang dari suku/ras yang berbeda.

Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar negara-negara di Dunia Barat lebih toleran terhadap ras berbeda, dengan Inggris sebagai kampiun pertama, disusul Amerika, Kanada, Australia, dan negara-negara Amerika Selatan.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? Meski bukan termasuk 5 negara paling tidak toleran terhadap perbedaan, yang ditempati antara lain oleh Bangladesh, India dan Yordania, Indonesia tetap memperoleh raport merah. Responden asal Indonesia yang menjawab tidak mau bertetangga dengan ras lain termasuk dalam rentang persentase antara 30-39,9%. Tentu ini sebuah catatan besar untuk sebuah negara yang memiliki keragaman suku dan budaya, yang mengumumkan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyannya, dan yang merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Mengapa populasi Muslim terbesar di dunia sangat relevan dikedepankan dalam hal ini? Karena Penghulu Muslim sendiri, Nabi Muhammad Saw., menentang keras rasisme. Siapa tak tahu tentang khutbah Arafah, khutbah terakhir Rasulullah dalam “Haji Perpisahan”?

Allah menciptakan kalian bersaudara satu sama lain. Tak ada kelebihan orang Arab di atas orang non-Arab, demikian juga tak ada kelebihan orang non-Arab dibanding orang Arab. Mereka yang berkulit putih juga tidak lebih baik daripada mereka yang berkulit gelap dan sebaliknya. Tak seorang pun lebih mulia dari lainnya kecuali dalam taqwa dan amal saleh,demikian Nabi menegaskan.

Kita pun mengenal Bilal, yang dipilih Rasulullah Saw. sebagai Sayyid al-Mu’azzin, pengumandang adzan utama. Bilal pula pernah dipercayai Nabi sebagai pengurus Baitul Maal di Madinah. Kalau Islam tidak menentang rasisme, mungkinkah Bilal, seorang bekas budak dari Afrika, mampu mencapai kedudukan setinggi itu?

Dan mari kita dengarkan pandangan seorang tokoh yang memiliki pengalaman sebagai korban rasisme, seseorang yang pernah patah arang dengan gagasan “dunia tanpa ras” (raceless world), namun kemudian berubah pikiran ketika mengunjungi Kota Suci Mekah untuk beribadah haji. Inilah catatan Malcolm X, sebagaimana dituangkan dalam autobiografinya:

“Tak pernah kusaksikan keramahan yang tulus, semangat persaudaraan sejati, sepeti yang dipraktikkan oleh orang-orang dari berbagai ras dan suku bangsa di Tanah Suci ini, di rumah Ibrahim, Muhammad, dan semua Nabi lain yang disebutkan Kitab Suci. Selama sepekan terakhir, aku benar-benar tak mampu berkata-kata, terpesona melihat kemurahan hati semua jamaah yang berasal dari berbagai bangsa.

Selama sebelas hari di sini, di dunia Muslim, aku makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di karpet yang sama—sambil berdoa kepada Tuhan yang sama—dengan  sesama Muslim, yang matanya paling biru di antara yang biru , yang rambutnya paling pirang di antara mereka yang berambut pirang, yang kulitnya paling putih di antara yang putih. Dan dalam perkataan serta perilaku Muslim berkulit putih itu, aku merasakan ketulusan yang sama dengan yang aku rasakan di kalangan Muslim kulit hitam Afrika  asal Nigeria, Sudan dan Ghana.

Terakhir, marilah kita renungkan kembali firman Allah Swt. berikut, untuk memahami kehendak-Nya tentang penciptaan manusia dalam keadaan yang berbeda-beda:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS 49:13).

Nah, kalau Rasulullah Muhammad Saw. yang hidup pada belasan abad lalu, sudah terang-terangan menolak rasisme, mana mungkin kita menerima pernyataan rasis di zaman sekarang? Hari gini gitu loh? []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *