Satu Islam Untuk Semua

Monday, 17 September 2018

KISAH — Muwaffaq Raih Haji Mabrur Tanpa Berhaji


KISAH — Muwaffaq Raih Haji Mabrur Tanpa Berhaji

islamindonesia.id – Muwaffaq Raih Haji Mabrur Tanpa Berhaji

 

Saat itu, seorang tabiin bernama Abdullah bin Mubarak sedang pergi haji. Ia tak sengaja tertidur di Masjidil Haram. Dalam tidurnya, ia bermimpi mendengar dua orang malaikat yang sedang bercakap-cakap.

“Berapa banyak umat Islam yang berhaji di tahun ini?” tanya sang malaikat kepada malaikat yang satunya.

“Enam ratus ribu orang, tapi tidak ada satu pun yang diterima.”

“Hanya ada satu orang tukang sepatu bernama Muwaffaq dari Damsyik yang tak bisa berangkat haji, tapi malah diterima. Karena sang tukang sepatu tersebut, semua yang haji pada tahun ini bisa diterima,” ujar sang malaikat satunya.

Dengan segera Abdullah bangun dari tidurnya. Ia tak percaya dengan apa yang didengar dalam mimpinya tersebut. Namun, untuk menjawab rasa penasarannya, sepulangnya dari perjalanan haji, ia datang ke Damsyik dan mencari tukang sepatu tersebut.

Akhirnya, sampailah ia ke Damsyik dan bisa menemukan rumah orang bernama Muwaffaq. Ia pun yakin mimpinya tadi bukan sembarang mimpi, tetapi merupakan sebuah petunjuk dari Allah SWT.

Ia berhasil menemui Muwaffaq. Ia pun masuk ke rumahnya dan dimulailah pembicaraan untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya. Mengapa seseorang yang tidak berangkat haji tetapi dihitung amal ibadahnya telah naik haji?

“Kebaikan apa yang telah kau lakukan hingga kau bisa tercatat telah berhaji, padahal kau tidak pergi?” tanyanya.

Tukang sepatu pun menjawab. Ia bercerita, sebenarnya ia sudah berniat untuk pergi berhaji. “Melihat kondisi ekonomiku yang sederhana ini, sangat mustahil untuk mengumpulkan uang yang dipakai bekal berhaji. Namun, atas pertolongan Allah, aku tiba-tiba diberikan rezeki sebesar 300 dirham atas jasaku menambal sepatu seseorang,” kata Muwaffaq mulai bercerita.

Dengan sejumlah uang tersebut, Muwaffaq berniat untuk pergi haji. Dengan uang yang didapatnya tersebut, ia merasa mampu berangkat haji. Hal ini pun mendapatkan persetujuan istrinya yang sedang hamil.

Sebelum niat itu terlaksana, suatu hari istri Muwaffaq mencium bau masakan dari rumah sebelah. Karena sedang hamil, ia merasa sangat menginginkan masakan yang dipikirnya pasti sangat lezat tersebut.

Muwaffaq pun pergi ke rumah tetangganya dengan maksud meminta sedikit makanan yang baunya tercium oleh istrinya tersebut. Karena alasan istrinya sedang hamil, Muwaffaq pun yakin tetangganya pasti akan berbaik hati membagi makanan tersebut.

Ia pun mendatangi sumber aroma masakah itu dan ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Rumah itu dihuni oleh seorang janda dan enam anaknya.

Muwaffaq pun mengutarakan maksudnya. Bahwa, istrinya sedang mengidam aneh dan meminta masakan apa pun yang aromanya tercium olehnya. Tetapi, dugaannya tadi salah. Pemilik rumah menolak untuk memberikan makanan tersebut. Sekalipun ditebus dengan uang, permintaan tersebut tetap ditolak.

“Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan,” kata sang janda kepada Muwaffaq.

“Mengapa?” tanyaku lagi.

“Karena daging ini adalah bangkai keledai. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya, tentulah kami akan mati kelaparan,” jawab sang janda sambil menahan air mata.

“Mendengar ucapan tersebut, spontan aku menangis, lalu aku pulang. Aku ceritakan kejadian itu kepada istriku, dia pun menangis. Akhirnya, uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia,” kenang Muwaffaq.

Ibnu al-Mubarak tak bisa menahan air mata. Ia pun tercengang mendengar kisah ini. Ia tak menyangka amal ibadah sang tukang sepatu itu sangat besar. Selama ini, ia menganggap ia yang kaya raya ini sangat dermawan, namun ternyata di hadapannya kini duduk orang yang jauh lebih dermawan dan tulus darinya.

”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya,” ucapnya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *