Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 27 June 2017

Stop Sebar Stigma Buruk: Islam dan Kaum Muslimin Anti-Kebinekaan


Stop Sebar Stigma Buruk Islam dan Kaum Muslimin Anti-Kebinekaan

islamindonesia.id – Stop Sebar Stigma Buruk: Islam dan Kaum Muslimin Anti-Kebinekaan

 

Entah darimana asal muasalnya, belakangan berkembang kesan dan stigma buruk seolah-olah umat Islam yang merupakan penganut agama mayoritas di Tanah Air, sebagai kelompok anti-NKRI yang suka memaksakan kehendak, intoleran, anti-Pancasila dan anti-kebinekaan. Sementara penganut agama selain Islam, adalah kelompok penjaga dan pembela prinsip keberagaman, yang mengklaim diri sebagai kaum Nasionalis yang cinta NKRI. Benarkah demikian?

Seperti kita ketahui, “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna “berbeda-beda tapi tetap satu” sudah sejak lama menjadi semboyan bangsa Indonesia yang memiliki banyak ragam suku, ras, agama dan sebagainya, akan tetapi dapat dipersatukan dalam sebuah negara, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari literatur sejarah yang populer diajarkan di dunia pendidikan kita, kalimat ini merupakan kutipan yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup pada masa sekitar abad ke-14.

Padahal, tidak demikian menurut sejarawan, Prof. Ahmad Manshur Suryanegara, yang berpendapat filosofi “Bhinneka Tunggal Ika” ini, justru dicetuskan oleh Sunan Kalijaga sewaktu membangun masjid yang soko atau tiangnya, dibuat dari potongan kertas dan kayu (Jawa: tatal).

“Hal tersebut bermakna bahwa meskipun beraneka ragam, kecil, dan banyak tetapi bila dipersatukan maka akan menjadi kuat dan kokoh, layaknya tiang ini,” terang guru besar sejarah Universitas Padjajaran tersebut.

Hal serupa, kata Ahmad Manshur, juga terjadi pada lambang negara Indonesia, burung Garuda, yang di dalamnya terdapat simbol dan lambang.

[Baca: ANALISIS – Apa Kaitan Lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai dengan Garuda Pancasila?]

“Simbol Garuda ini diciptakan oleh Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak atas permohonan Bung Karno, yang beliau contoh dari Rajawalinya Sayyidina Ali,” ungkapnya.

[Baca: Menempatkan Syarif Abdul Hamid Alkadrie (Perancang Lambang Negara Garuda Pancasila) pada Tempatnya]

Lebih lanjut diungkapkan penulis buku “Api Sejarah” itu, bahkan teks Proklamasi yang ditulis oleh Bung Karno dan Bung Hatta pun, baru diproklamirkan setelah meminta restu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Jika faktanya demikian, masih pantaskah umat Islam dan kaum Muslimin dicap anti-Pancasila, anti-kebinekaan, dan anti-NKRI?

Lebih dari itu, tidak tahukah mereka yang gemar menyebarkan stigma buruk itu bahwa Islam lah yang justru sudah sejak awal menyatakan keniscayaan keberagaman, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *