Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 28 February 2017

KAJIAN – Pengetahuan Hati (Bagian 1)


benarkah-sufi-tak-shalat

islamindonesia.id – KAJIAN – Pengetahuan Hati (Bagian 1)

 

Sebagai sarana terbaik manusia, pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan gelap dan terang, getir dan manisnya kehidupan. Pengetahuan sendiri terangkai dari tiga unsur: orang yang mengetahui atau subjek pengetahuan; sesuatu yang (hendak) diketahui atau objek pengetahuan; dan hasil dari interaksi keduanya yang disebut dengan ‘ilm atau ma’rifah atau pengetahuan.

Ada tiga cara untuk mengetahi sesuatu, yang masing-masing cara itu berkaitan dengan sarana atau alat pengetahuan yang berbeda-beda: indra, akal dan hati.

Menurut para sufi, pengetahuan yang diperoleh melalui sarana indra atau pengetahuan indrawi (sensual knowledge) berada pada tingkatan paling rendah, lantaran objeknya yang sangat terbatas, relatif (related to a thing)  dan sementara (temporary).

Begitu banyak realitas objektif yang tak dapat dijangkau oleh indra manusia, termasuk objek-objek bendawi seperti molekul, bakteri, elektron dan lain sebagainya. Pengetahuan ini takkan sanggup mengantarkan manusia kepada tujuan penciptaan maupun kebahagiaan yang sejati.

Kedua, pengetahuan dengan sarana akal atau pengetahuan rasional yang berada pada tingkat menengah. Mengingat pengetahuan jenis ini menuntut penalaran, analisis, perangkat-perangkat logika serta kecerdasan dan wawasan, sedikit manusia yang mampu memperolehnya.

Meski objek pengetahuan rasional mencakup materi dan nonmateri, ia tetap mesti dianggap menengah karena bersifat tempelan atau representasional (hushuli). Nilai pengetahuan ini terletak pada kesesuaiannya dengan fakta yang menjadi objek pengetahuannya.

Ketiga, pengetahuan dengan sarana kalbu atau pengetahuan emosional yang merupakan puncak pengetahuan manusia. Semua manusia dari segala lapisan dapat memperoleh pengetahuan jenis ini.

Ia menjadi paling mulia dan sempurna, karena objeknya adalah realitas non bendawi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan tidak tunduk pada kaidah-kaidah logika. Nilai pengetahuan emosional terletak pada rasa (dzauq) dan keyakinan (al-Yaqin)  yang juga sering disebut dengan syuhud atau kasyf  (penyingkapan atau penyaksian).

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan qalb, yang berarti “sesuatu yang berputar atau berbalik.” Emosi berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti “menggerakan atau bergerak.” Ditambah dengan awalan “e-“, emosi menjadi bermakna “sesuatu yang bergerak menjauh.”

Dengan demikian, baik kalbu maupun emosi sama-sama menyiratkan arti gerakan dan menjadi sumber dorongan untuk bertindak. Karena itu, agaknya sah-sah saja bila kita memadankan kalbu dan emosi. []

 

Bersambung…

 

YS/MK/ Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *