Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 June 2017

KAJIAN – Pembacaan Al-Qur’an di Bulan Suci Ramadan


cara-cepat-dan-mudah-mencari-halaman-setiap-juz-dalam-alquran

islamindonesia.id – KAJIAN – Pembacaan Al-Qur’an di Bulan Suci Ramadan

 

Banyak riwayat atau nas agama menegaskan dianjurkannya membaca Al-Qur’an di bulan suci Ramadan, selain hari-hari lainnya. Manusia dapat memanfaatkan kondisi spiritual ini (rasa haus lapar) dengan suasana Qurani untuk menggerakan batinnya yang hidup agar semakin peka.

Pengaruh pembacaan Al-Qur’an bagi kejiwaan manusia bisa beraneka ragam, sesuai dengan suasana jiwa pembacanya. Bila Al-Qur’an dibaca dalam suasana berpikir untuk memahami pemikiran Al-Qur’an, bacaan tersebut akan mengilhami renungan dalam kajian ilmiah. Jika dibaca dalam suasana spiritual, ketika roh seorang mukmin terbang menuju Allah SWT, maka pengaruhnya adalah semangatnya menuju Allah beriring pemikiran, kesadaran, dan renungan. Bacaan tersebut bergerak bukan sekadar menjadi pemikiran atau renungan belaka, namun menjadi paduan antara pemikiran dan gerak rohaniah menuju keimanan yang tinggi.

Barangkali, itulah tujuan yang dikehendaki Islam ketika menganjurkan untuk membaca Al-Qur’an setelah salat dalam keadaan berpuasa. Sebab, pengaruh spiritual yang diakibatkan bacaan Al-Qur’an dengan kondisi tersebut jauh berbeda bila dibandingkan dengan bacaan di luar suasana tersebut.

Bahkan, kita dapat menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak akan dipahami dengan baik, kecuali bila jiwa orang yang membaca, mendengarkan dan merenungkannya memiliki suasana spiritual seperti tersebut. Sebab, Al-Qur’an beranjak dari suasana spiritual.

Saat malam dan siang di bulan Ramadan adalah suasana tepat untuk membaca Al-Qur’an. Ritus ini akan mengantarkan manusia menapaki fase spiritual yang lebih tinggi. Lebih dari itu, ajaran Islam terkandung di dalam Al-Qur’an (pemikiran, moralitas dan syariat yang termaktub di ayat-ayatnya) membuat kita sadar akan manfaat Al-Qur’an yang membantu terbentuknya sosok berkepribadian Islami dan berpikiran matang, sehingga jiwa dan pikiran dipenuhi semangat.

Untuk mencapai tujuan ini, ketika membaca Al-Qur’an, diperlukan renungan dan suasana tadabur. Sebab, hanya inilah satu-satunya jalan untuk meraih hasil yang dikehendaki, mengembangkan potensi pemikiran dan kesadaran insaniah.

Cara tradisional yang hanya melihat kuantitas, bukan kualitas ketika membaca Al-Qur’an, tidak akan dapat meningkatkan pemikiran dan kesadaran insaniah. Bahkan, bacaan seperti itu merupakan bentuk keterbelakangan, yang memberikan kesan jumudnya kalimat dan bekunya kesadaran.

Hal ini terjadi karena adanya keinginan berlomba untuk memperbanyak khatam yang pahalanya dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada mereka, serta sebagaimana perantara untuk mendatangkan pahala. Guna meraih tujuan ini, seorang pembaca Al-Qur’an harus cepat-cepat menyelesaikannya, tanpa memikirkan dan merenungkan makna-makna spiritualnya.

 

MHF/YS/islamindonesia/ foto: merdeka.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *