Satu Islam Untuk Semua

Monday, 19 June 2017

KAJIAN – Makna Puasa Secara Material dan Spiritual (Bagian 2)


golden-city-background-of-eid-mubarak_1017-8713

islamindonesia.id – KAJIAN – Makna Puasa Secara Material dan Spiritual (Bagian 2)

 

Di antara doa  di bulan puasa, yaitu “Ya Allah, sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya, ilhamkan kepada kami mengenai karuniaNya, mengagungkan kesucianNya, menjaga apa yang dilarangNya, bantulah kami untuk menjalankan puasaNya dengan menahan anggota tubuh dari maksiat kepada-Nya dan menggunakannya untuk apa yang diridai-Nya, sehingga telinga-telinga kami tidak terarah kepada kesia-siaan dan mata-mata kami tidak terpusat pada kealpaan.

Baca Juga: KAJIAN – Makna Puasa Secara Material dan Spiritual (Bagian 1)

Doa tersebut dilengkapi oleh kalimat selanjutnya, “Sehingga telinga-telinga kami tidak kami gunakan untuk mendengar kesia-siaan, mata kami tidak kami pusatkan untuk melihat kealpaan”. Kalimat tersebut bukanlah “omong kosong”. Kalimat ini terujar bukan tanpa pemikiran dan perenungan. Bait ini menguraikan hal-hal yang tidak diridai Allah, hal-hal tidak berguna – pemikiran dan tindakan – bagi manusia yang merusak kehidupan mereka, atau yang menyesatkan dari jalan yang lurus. Inilah yang dikehendaki Islam, yakni manusia menjauhinya dan berusaha menyempurnakan kepribadiannya. Adakalanya, telinga adalah alat untuk bersenang-senang dengan mendengarkan kesia-siaan yang berpengaruh kuat bagi terbentuknya kepribadian seseorang. Ketika ini terjadi, seseorang akan berkepribadian absurd.

“Mata-mata kami tidak kami pusatkan untuk melihat kealpaan.” Mata seseorang ketika melihat sesuatu mudah terpesona kemudian terlena, sehingga hati menjadi terkuasai (oleh objek yang dilihat mata). Ketika hal ini terjadi, berarti manusia berada dalam kealpaan, jauh dari Allah. Ia tertipu, mudah terpengaruh oleh perubahan keadaan. Akhirnya, ia tenggelam dalam kemewahan dunia dan syahwat, tidak lagi meraih kesempurnaan spiritual yang dicarinya dari Allah dan tidak lagi melangkah menuju rida Allah. Karenanya, ia kehilangan keseimbangan, jauh dari nilai kemanusiaan, berubah menjadi pribadi absurd yang menyia-nyiakan hidupnya.

“Sehingga tangan-tangan kami tidak kami ulurkan untuk menjamah dosa.” Allah telah menjadikan kedua tangan kita berperan sebagai salah satu sarana pemenuhan kebutuhan secara halal, baik material maupun spiritual. Banyak fungsi yang diperankan oleh tangan, seperti untuk melindungi orang-orang sekitar kita. Allah tidak mengizinkan tangan kita menjamah sesuatu yang haram, merusak kehidupan orang lain atau kehidupannya sendiri. Karena itu, manusia harus menyadari bahwa kedua tangannya bukan untuk mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan dilarang oleh Allah Swt. Kedua tangan kita bukanlah alat untuk bermaksiat kepada Allah. Bukan pula sarana untuk menghancurkan kemanusiaan.

“Kaki-kaki kami tidak kami langkahkan menuju keburukan.” Secara syar’i Allah tidak menghendaki kaki kita melangkah menuju kehancuran, dosa, pengkhianatan dan maksiat. Allah juga tidak berkenan jika kita melangkah menuju tempat yang dibenci Allah. Selayaknya manusia memikirkan setiap langkah kakinya, menentukan jalan yang halal atau haram yang hendak ia tuju.

“Karenanya perut-perut kami tidak kami isi kecuali (makanan dan minuman) yang Kau halalkan.” Allah telah menghalalkan berbagai makanan dan minuman serta mengharamkan sebagian lainnya. Allah menghendaki perut manusia sebagai sarana pengolahan makanan halal saja, makanan sehat yang memberi nutrisi otak demi kesehatan akal dan kesucian jiwa.

“Lidah-lidah kami tidak berbicara kecuali yang Kau contohkan.” Artinya, seseorang hanya mengujarkan kalimat yang Allah jelaskan dan tegaskan, yaitu kebenaran, bukan kebatilan, ucapan jujur bukan bohong, bermanfaat bagi manusia bukan membawa mudarat, ucapan yang meningkatkan kualitas kemanusiaan, ucapan yang meneguhkan eksistensi dan menjadi sebab terbukanya pintu kebaikan baginya, menutup pintu keburukan, ucapan yang merdeka dan memerdekakan dan menentang perbudakan. Dengan begitu, kemuliaan dan kehormatan akan diraihnya.

Bersambung…

 

YS/ MHF/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *