Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 15 June 2017

KAJIAN – Makna Puasa Secara Material dan Spiritual (Bagian 1)


golden-city-background-of-eid-mubarak_1017-8713

islamindonesia.id – KAJIAN – Makna Puasa Secara Material dan Spiritual (Bagian 1)

 

Di antara doa di bulan Puasa ialah:

“Ya Allah, sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya, ilhamkan kepada kami mengenai karuniaNya, mengagungkan kesucianNya, menjaga apa yang dilarangNya, bantulah kami untuk menjalankan puasaNya dengan menahan anggota tubuh dari maksiat kepada-Nya dan menggunakannya untuk apa yang diridai-Nya, sehingga telinga-telinga kami tidak terarah kepada kesia-siaan dan mata-mata kami tidak terpusat pada kealpaan.

Sehingga tangan-tangan kami tidak kami ulurkan pada larangan dan kaki-kaki kami tidak kami langkahkan pada keburukan, sehingga perut-perut kami tidak kami isi kecuali yang Engkau halalkan dan lidah-lidah kami tidak berbicara kecuali yang Engkau contohkan.

Kami tidak melakukan kecuali yang mendekatkan pahala-Mu, kami tidak mengerjakan kecuali yang menjaga kami dari siksa-Mu, maka bersihkan kami dari riya-nya orang-orang yang riya, dari pamernya orang-orang yang pamer. Di bulan ini kami tidak akan meyandingkan siapapun dengan-Mu, kami tidak akan merindukan selain-Mu.”

***

Kajian ini akan membahas hubungan antara puasa secara material – seperti tidak makan, minum, berhubungan seksual, dan lain-lainnya – dengan puasa secara spiritual, seperti akhlak secara luas yang mencakup makna takwa.

Melaksanakan puasa, secara fikih merupakan jalan untuk meraih tujuan Islam. Tujuan pertama (dari bait doa di atas) adalah agar Allah mengajarkan kepada kita untuk memahami kemuliaan dan keagungan bulan Ramadan.

Apakah pemahaman di sini secara pemikiran dan perayaan seremonial belaka? Ataukah pemahaman yang dimaksud adalah tindakan yang dapat merubah dan membentuk sebuah kepribadian? Mengingat, Ramadan berhubungan dengan waktu (salah satu bulan di tahun Hijriah), dan bukanlah sesuatu yang hidup (mandiri), yang dapat menghantarkan manusia untuk memahami keistimewaan dirinya.

Tetapi, waktu adalah sesuatu atau entitas yang berada dalam domain gerak sebuah eksistensi. Manusia dapat membubuhinya makna dan kenangan indah atau buruk, positif atau negatif, melalui aktivitas yang dilakukannya.

Oleh karena itu, pemahaman tersebut (kemuliaan dan keagungan bulan Ramadan) tidak akan bermakna tanpa selaras dengan eksistensi dan gerak manusia. Pentingnya seseorang memahami waktu adalah agar mampu mempertanggungjawabkannya.

Dengan demikian, kita akan memahami pengagungan bukan dengan melakukan sesuatu yang primitif, namun melakukan sesuatu yang agung.

Manusia selayaknya hidup di bulan suci Ramadan dengan mengetahui peran, tanggung jawab, serta usia yang akan dipertanggungjwabkan ketika melakukan perjalanan menuju Allah. Sehingga, masuknya kita ke dalam bulan suci ini karena kesadaran akan keagungan bulan tersebut yang mengenalkan kepada kita bahwa Islam aktif di setiap lini kehidupan.

Tujuan kedua dari doa ini agar si hamba tidak melanggar hukum Allah, karena pelanggaran itu tidak berguna bagi kehidupan manusia dan Allah mengancam pelakunya. Tujuannya adalah agar manusia, pada bulan ini menghindari hal-hal yang diharamkan dan melakukan kewajiban-kewajibannya.

Inilah kalimat-kalimat doa yang terujar dari lubuk hati seorang mukmin khusyuk yang tidak ingin terperdaya oleh jeratan materi, tabiat, lingkungan dan hal lainnya yang membuat manusia menyimpang dari jalan lurus. Karenanya, ia meminta bantuan kepada Allah agar tidak menjadi gamang, agar tetap tegar dengan mengharap belas kasih Allah tetap tercurah kepadanya.

Ilustrasi yang termaktub dalam bait,”Bantulah kami agar berpuasa dengan menahan anggota badan untuk itdak memaksiati-Mu agar kami memfungsikannya untuk sesuatu yang Engkau ridai,” menjelaskan bahwa puasa yang sejati akan berpengaruh kepada kehidupan manusia untuk selalu bepegang teguh kepada Allah agar tidak gamang secara pemikiran maupun tindakan.

Seluruh anggota tubuhnya, ucapan maupun perbuatan tidak akan membawa maksiat kepada Allah. Sebaliknya, ia selalu taat, setiap prilaku benar-benar menjadikannya manusia yang mengarah kepada Allah, bukan kepada setan. Ia menjadi hamba Allah yang tunduk kepada-Nya dalam segala urusan. [Bersambung]

 

YS/ MHF/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *