Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 05 April 2016

KAJIAN – Hadis 73 Golongan dalam Islam (Kesimpulan)


KAJIAN - Hadis 73 Golongan dalam Islam (Kesimpulan)

 

Hadis 73 golongan dalam Islam telah menjadi perbincangan kontroversial selama berabad-abad. Dan selama berabad-abad itu pula hadis ini telah disalahgunakan oleh berbagai kalangan untuk memecah persatuan dan kesatuan umat Islam di pelbagai belahan dunia.

Hal ini dapat dilihat dengan maraknya pengkafiran dan penyesatan antar golongan dalam Islam. Masing-masing golongan menganggap dirinya lah satu-satunya yang selamat dan masuk surga. Padahal, sebagaimana telah dibuktikan pada kajian sebelumnya, matan hadis tersebut bertentangan dengan sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis shahih riwayat Imam Bukhori yang menyatakan bahwa semua masuk surga kecuali yang menolaknya. Ditambah lagi sanadnya daif dan munkar.

Sekalipun hadis ini dianggap sahih oleh sebagian orang, namun harus dipahami bahwa teks hadis itu secara harfiah menyebutkan bahwa kesemua 73 golongan itu adalah umatnya (baca: ummati), yaitu umat Islam. Maka, sungguh tidak layak dan mencerminkan kecongkakan bila salah satu golongan umat ini menganggap yang lain keluar dari umat Rasulullah Saw. Tidak ada hak bagi satu golongan menganggap golongan lain masuk neraka.

Setidaknya, kita patut mengingat sejumlah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah kerap menyebut ummati, yang tentunya menegaskan kasih sayang beliau kepada seluruh umat ini secara mutlak, tanpa membedakan satu aliran atas aliran yang lain.

Dalam suatu hadis sahih disebutkan bahwa ketika Nabi selesai membaca surat Ibrahim ayat 36 dan surat al-Maidah ayat 118, Nabi mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan :

shahih-muslim-hadis-202-h.126-7

Shahih Muslim Hadis 202

“ Ya Allah, umatku, umatku..dan Nabi menangis. Maka Allah berkata, ‘Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – Dan Tuhanmu Maha Mengetahui – dan tanyakan padanya apa yang menyebabkannya menangis ?’ Maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya. Lalu Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang telah diceritakan. Maka Allah menjawab: ‘Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah, ‘Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha dalam urusan umatmu, dan tidak akan berbuat buruk pada umatmu'”. (HR. Muslim)

Perbedaan pendapat di antara umat Islam tidak bisa dijadikan alasan untuk mengeluarkan suatu golongan, aliran atau sekte dari Islam. Islam sebagai satu umat yang agung menghargai adanya perbedaan pendapat selama itu berpijak pada sumber-sumber dan argumen-argumen yang benar. Mungkin itu pula mengapa Rasulullah selalu menyebut mereka dengan umat, yang mengisyaratkan makna kesatuan yang utuh.

Ala kulli hal, umat Islam di Indonesia dengan nilai-nilai agung yang termaktub dalam Al-Qur’an dan ideologi Pancasila harus menjadi perekat keutuhan, dan bukan malah menjadi sumber pemecah belah bangsa dengan dalih hadis 73 golongan yang telah kita kritisi maupun dalih-dalih lemah lain. Apalagi, sebagaimana yang telah dibuktikan dalam beberapa kajian lalu, hadis itu dalam berbagai versi redaksinya bertentangan dengan Al-Qur’an dan memiliki sanad yang lemah bahkan munkar (tertolak).

 

Tom&AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *