Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 24 October 2017

KAJIAN – Dua Jenis Kemuliaan Manusia


sufi tasawuf

islamindonesia.id – KAJIAN – Dua Jenis Kemuliaan Manusia

 

Kultur masa kini dan para humanis mengklaim bahwa setiap orang, karena ia manusia, mempunyai nilai alami dan, dalam kata lain, kemuliaan, sekalipun misalnya ia telah melakukan banyak pembunuhan dan kejahatan.

Namun Islam memandang dua jenis kemuliaan manusia. Yang pertama ialah kemuliaan umum, yang berarti bahwa setiap manusia, karena ia manusia – tanpa peduli akan perilaku dan sikapnya – memiliki kemuliaan itu. Ini kemuliaan ciptaan dan nilai yang dikaruniakan Allah Yang Mahakuasa kepada manusia, yang tidak diberikan-Nya kepada makhluk lain.

Boleh jadi poros dari karunia Tuhan ini adalah akal manusia. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, kemuliaan ciptaan ini telah ditunjukkan. “Dan sungguh telah Kami muliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. 17: 70)

Pada ayat di atas dinyatakan bahwa Allah Yang Mahakuasa telah menganugerahkan suatu kemuliaan kepada anak-anak Adam (as) dan mengutamakan mereka atas kebanyakan mahkluk-Nya. Pemberian kemuliaan ini meliputi seluruh  manusia, lelaki maupun perempuan, kecil maupun besar. Allah memberikan kepada mereka tubuh yang tegak dan indah, mata, telinga, dan organ-organ serta bagian-bagian tubuh lainnya, juga pikiran, akal, kecerdasan, bakat, dan ciri khas rohani dan jasmani.

Tetapi, apabila kita renungkan, akan kita lihat bahwa kemuliaan dan nilai ini sesungguhnya milik Allah. Dia menganugerahkan nikmat-nikmat itu kepada manusia secara cuma-cuma, sedang manusia sendiri tidak berperan dalam mendapatkannya.

Jenis kemuliaan yang kedua ialah yang dicapai dan dijangkau manusia sendiri dengan kehendak dan pilihan bebasnya. Dalam kemuliaan jenis ini, manusia tidak seluruhnya sama; hal itu hanya dinikmati oleh orang-orang berkebijakan. Apabila orang berbuat tidak bajik maka bukan hanya ia tidak akan mendapatkan kemuliaan ini melainkan akan mendapatkan anti-nilai dan jatuh sedemikian rupa sehingga mereka akan menjadi lebih rendah dari hewan.

Tentang kelompok manusia jenis ini, yang tidak mendapatkan kemuliaan bagi dirinya, Al Qur’an berkata “… Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. 7:179)

Dari itu, kemuliaan ciptaan tidaklah cukup bagi manusia untuk diakui sebagai makhluk yang mulia dan terhormat untuk selamanya, karena ia mungkin kehilangan karunia kemuliaan itu dan mendapatkan anti-mulia, yakni kenistaan dan kerendahan. Ungkapan Al Qur’an dalam hal ini ialah,

“Sesungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami mengembalikannya kepada yang serendah-rendahnya.” (QS. 94: 4-5)

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dan paling mengagumkan, dan memberikan kemuliaan ciptaan-Nya secara yang terbaik. Tetapi, sebagian manusia tidak mau menerima kemuliaan Ilahi ini dan merendahkan dirinya hingga tingkat yang paling rendah. Oleh karena itu, walaupun semua manusia secara umum mempunyai kemuliaan ciptaan, namun pada tahap pilihan bebas, tidak semuanya sama; mereka akan mendapatkan berbagai derajat nilai dan kemuliaan sebanding dengan perbedaan derajat kebajikannya. Bahkan, bisa jadi sebagian orang merosot sedemikian rupa sehingga tak ada kemuliaan yang dapat dipandang padanya, dan mereka harus dicampakkan dari masyarakat seperti kelenjar kanker.

 

MTM/YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *